Home » Bongkar Kebohongan Di Kantor
Bagikan

Anda tidak perlu perangkat lie detector untuk membongkar kebohongan yang dilakukan oleh bawahan Anda di kantor.

Siapa pun tidak senang dibohongi. Apalagi ketika Anda telah menjadi seorang atasan, kebohongan bawahan Anda seolah menjadi sebuah bentuk perlawanan terhadap diri Anda. Sebagai manusia, wajar bila tidak semua bentuk kebohongan bisa Anda bongkar dengan mudah. Setiap orang punya cara untuk menutupi kebohongan tersebut, dengan alibi yang hebat serta alasan yang kuat. Bahkan polisi pun membutuhkan perangkat lie detector untuk mengungkap kebohongan seorang tersangka. Hingga saat ini saja, kasus kopi maut masih belum menunjukkan titik terang.

    Ada alasan yang lebih masuk akal kenapa Anda tidak senang dibohongi oleh bawahan. Kebanyakan atasan akan merasa seperti sedang dibodohi oleh bawahannya. Menjadi korban kebohongan seolah menunjukkan bahwa diri Anda tidak lebih cerdik dari orang yang membohongi Anda. Lebih dari itu, memiliki bawahan yang gemar berbohong akan berdampak buruk bagi perusahaan Anda. Sekali bawahan Anda merasa Anda mudah diperdayai, maka ada kemungkinan mereka akan mengulanginya kembali, lagi dan lagi.

    Saatnya Anda sebagai atasan untuk mulai menghentikan kebiasaan buruk ini di perusahaan Anda. Untuk dapat melakukannya, Anda harus memahami terlebih dahulu latar belakang apa yang mendorong seorang melakukan kebohongan, apa pemicunya, bagaimana agar Anda tidak terkecoh dan apakah Anda sebagai seorang atasan sering menjadi korban kebohongan oleh bawahan Anda sendiri? Mulailah dengan memahami hal-hal berikut ini, dan bertindaklah sesuai dengan tingkat kebohongan yang dilakukan bawahan Anda.

PEMICU KEBOHONGAN #1: RASA TAKUT 

Inilah alasan pertama dan yang paling umum mengapa seseorang berbohong. Menurut Tika Bisono, seorang psikolog ternama di Indonesia, tujuannya tentu saja untuk melindungi diri dari sanksi atau hukuman. “Si pelaku mungkin sadar telah melakukan kesalahan, misalnya terlambat menghadiri rapat penting yang sudah dijadwalkan mulai sejak pukul 09.00, sementara dia baru tiba di kantor pukul 10.00. Daripada memenggal lehernya sendiri dengan mengatakan, ‘Ya, saya memang terlambat, lalu bagaimana?’, lebih aman menggunakan alasan, ‘Maaf Pak, ban mobil saya tadi kempis. Jadi terpaksa tadi di jalan saya mengganti ban dulu.’ Anda mungkin tidak bisa marah mendengar musibah yang menimpa karyawan Anda itu, kan? Walaupun sebenarnya dia terlambat karena malas bangun pagi,” ujar Tika. 

Kebohongan jenis ini sesekali pasti akan Anda temui. Mungkin Anda pun ketika belum berada dalam posisi seperti sekarang ini pernah melakukannya pada atasan Anda. Karena tidak ada pihak yang dirugikan di sini, jadi sebaiknya janganlah Anda membuang energi dengan marah-marah untuk hal yang tidak terlalu penting.

PEMICU KEBOHONGAN #2: KOMPULSIF 

Jika mereka selalu berada dalam posisi ketakutan akan dimarahi atau dihukum, mungkin bohong akan mengarah pada kebiasaan. Inilah alasan kedua mengapa orang berbohong. Karena sudah jadi kebiasaan, seringkali bohong dilakukan secara reflek, bahkan berlebih-lebihan. Pernahkan Anda menemukan karyawan yang secara terus-menerus membuat Anda sakit kepala karena selalu punya alasan atas keterlambatannya? Yang kami maksud adalah karyawan yang selalu datang terlambat dan selalu menggunakan alasan yang sama, misalnya ban kempis, mobil mogok, atau alarm yang tidak berfungsi normal. 

Jika orang semacam ini tidak segera Anda tegur, bukan tidak mungkin kebohongannya akan meningkat ke masalah yang lebih berat. Hasil kerja yang gagal akibat kecerobohannya sendiri pun akan ia limpahkan kesalahnya pada peralatan yang tidak mendukung atau karyawan lain yang tidak mau bekerja sama.

Untuk staf seperti itu, mungkin Anda bisa mengikuti upaya yang dilakukan Rod Walsh, salah seorang pendiri perusahaan Semper Fi Consulting di Sherman Oak, California yang kebetulan punya masalah yang sama beberapa tahun lalu. Saat kesekian kali karyawannya mengatakan ban kempis, penulis buku Semper Fi: Business Leadership the Marine Corp Way ini pun mengatakan “Sean, pernahkah saya bohong pada Anda? Soalnya, apa yang Anda katakan selama ini kepada saya betul-betul sudah di luar batas kepercayaan. Anda secara rutin terlambat dan terus mengatakan kepada saya ban mobil Anda kempis tiba-tiba. Tidak ada satu pun manusia yang mengalami kesialan sebanyak itu. Sekarang, katakan pada saya apa yang sebenarnya yang terjadi. Mungkin bersama kita bisa membereskan masalah. Percayalah, saya tidak bisa membantu Anda kecuali saya mengetahui masalah yang sebenarnya.”

Fakta lucu pun terungkap setelah itu. Sean ternyata sulit bangun siang. Alarm yang sudah ia setel di malam harinya hanya bisa membangunkannya sesaat. Ia matikan, kemudian ia kembali tertidur. Mengetahui hal tersebut, Rod lalu menyuruh Sean untuk mencari jam alarm yang suaranya cukup keras untuk membangunkannya. Akhirnya, Sean pun menempatkan sebuah alarm yang kekuatan suaranya melebihi sirine pemadam kebakaran di kamarnya. Hasilnya, Sean betul-betul tidak pernah terlambat lagi. 

Setelah kejadian itu, Rod tetap mengajaknya berdiskusi tentang masalah tersebut dan mengingatkan bahwa ia tidak pernah bicara bohong pada seluruh karyawannya, walaupun tentang hal-hal yang kecil, dan ia mengharapkan yang sama dari para bawahannya. 

“Tidak ada satu pun masalah yang bisa diselesaikan jika kita tidak tahu penyebab utamanya. Dan jika saya tidak bisa mempercayai seseorang untuk masalah kecil, tentu saya tidak akan bisa mempercayai orang itu pada masalah yang lebih besar,” ujar Rod.

Tika pun sependapat, sangat penting bagi atasan untuk segera menyelesaikan kebohongan yang berlebihan yang dilakukan bawahan, sebelum muncul kasus kebohongan selanjutnya yang lebih parah. 

PEMICU KEBOHONGAN #3: IKUT-IKUTAN 

Ketika karyawan terbiasa melihat rekannya berbohong, cepat atau lambat mereka pun bisa cenderung ikutan berbohong. Jadi misalnya si tukang telat ini menunjukkan sikap biasa-biasa saja di mata teman-temannya, dan ia juga nyaris tidak pernah mendapat teguran dari atasannya, yang lain pun akan ikut-ikutan. “Dia aja tidak apa-apa, kenapa aku harus takut?” Bisa dibayangkan jika semua karyawan datangnya jam 11 siang. Kecuali memang ada jadwal tertentu yang menyebabkan ia harus terlambat. Alasan macet, ban kempis, mobil mogok, asalkan tidak disalahgunakan, tidak masalah. 

Bagaimanapun koridor disiplin tetap harus ditegakkan. Anda harus menunjukkan sikap tegas terhadap sang pembawa kebiasaan buruk. Kalau perlu, Anda bisa mengulangi apa yang Anda katakan terhadap karyawan yang sering telat itu di depan rapat bersama anggota tim lain tanpa menyebutkan nama karyawan tersebut. Ada kemungkinan karyawan lain akan menangkap sendiri siapa yang Anda maksud.

PEMICU KEBOHONGAN #4: PATOLOGIS 

Di atas kebohongan-kebohongan yang sudah dibeberkan di atas, ada lagi jenis kebohongan yang sifatnya patologi atau penyakit. “Kebohongan di sini sudah mengarah pada kriminal karena tujuannya untuk mengeruk keuntungan pribadi. Bahayanya, mereka juga akan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang mereka inginkan –umumnya uang, seks, dan kekuasaan,” kata Tika. Contoh dari kebohongan ini adalah menipu, manipulasi, hingga korupsi, baik uang, waktu, dan segala barang-barang kantor. 

Jika sudah masuk ke dalam kategori ini, sebaiknya Anda jangan menunda-tunda lagi untuk menjalankan kewenangan Anda secara tegas. Seorang karyawan yang melakukan kebohongan besar sehingga merugikan perusahaan harus diberi peringatan, skorsing, penurunan jabatan, hingga pemecatan. Akan tetapi, sebelum bertindak, Anda harus menunggu saat yang tepat, hingga ia betul-betul tertangkap tangan ketika sedang melakukan aksinya.

Mungkin hal tersebut akan butuh waktu dan sumber, tetapi untuk mengambil keputusan atau menjatuhkan hukuman pada sebuah kesalahan, Anda harus punya bukti yang kuat. Untuk itulah Anda harus bersabar sambil melakukan investigasi. 

Begitu fakta kuat sudah Anda punyai, minta ia langsung menemui Anda. Konfrontasi tersebut untuk meyakinkan Anda dan memberitahu dia, kenapa Anda menjatuhkan hukuman. Bila Anda masih khawatir akan buntut masalah itu di kemudian hari, tidak ada salahnya pula Anda berkonsultasilah terlebih dahulu dengan pengacara Anda, sehingga Anda memiliki panduan dari perspektif hukum. 

PERISAI DIRI ANDA DARI KEBOHONGAN

Supaya Anda tidak mempan dibohongi oleh karyawan, cara lain yang bisa Anda lakukan adalah menjadi atasan yang bersikap walk the talk yaitu melakukan apa yang Anda ucapkan atau bicarakan. “Jangan asal perintah saja. Beri contoh, dan lakukan!” tegas Tika. 

Hindari memberi saran dengan mengatakan, “Contohlah dia”. Justru yang seharusnya Anda katakan adalah, “Contohlah saya”. “Bila Anda selalu datang pagi dan masuk rapat tepat waktu, tentu anak buah Anda pada akhirnya akan berpikir, ‘Kalau dia yang sudah direktur saja bisa selalu datang tepat waktu, kenapa saya tidak?’” 

Lebih dari itu, hal tersebut juga akan membuat posisi Anda sebagai atasan semakin baik karena membuat bawahan segan, bukannya takut. 

DETEKSI KEBOHONGAN BAWAHAN ANDA

Meski tidak mudah, mendeteksi kebohongan bukanlah hal yang mustahil. “Salah satu cara terampuh yang bisa Anda gunakan untuk mengetahui apakah Anda sedang dibohongi atau tidak oleh karyawan adalah dengan memahami ujung-pangkal sebuah pekerjaan,” kata Tika.

Sebagai contoh Tika mengatakan, “Ketika Anda merasa karyawan Anda sudah berbicara agak melenceng dari prosedur yang seharusnya, Anda bisa memperdalam, misalnya dengan mempertanyakan ‘Mengapa Anda bilang begitu? Bukankah seharusnya begini? Siapa yang Anda temui di sana? Apa posisinya? Kenapa dia bisa memberi approval pada Anda? Jika situasinya berbeda, kenapa tidak Anda bawa ke tim?’ dan sejenisnya. Jika bahasa tubuhnya terlihat gagap. Maka bisa dipastikan bahwa ia memang sudah melakukan pemelintiran fakta kepada Anda.”

Itu sebabnya, sangat perlu bagi setiap atasan untuk betul-betul memahami pekerjaan yang dilakukan anak buahnya. Misalnya pada saat orientasi ke klien, prosedurnya seperti apa, kasus-kasus apa yang mungkin muncul, bagaimana menyiasatinya, dan sebagainya. Jika sebagai bos Anda  tidak punya pengalaman akan hal ini, ditambah lagi dengan tidak adanya niat untuk belajar, jangan heran jika Anda akan terus-menerus menjadi korban tipu bawahan Anda. 


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment