Home » Besar atau Kecil?

Besar atau Kecil?

by O.J.
Bagikan

Selama ini tanpa disadari, kita semua lebih suka segala sesuatu yang besar.

Tampilan pizza yang wah, tebal, banyak toping, lebih ‘nendang’ (sepertinya) dibanding pizza tipis dengan topping sedikit.

atau,

Besar pengaruhnya – viral. Besar fisiknya – berotot atau fit – gembil pipinya, etc etc…

Kita seringkali lebih suka dengan dada perempuan yang wah.

Kita seringkali lebih amaze dengan tampilan otot lengan menyembul dari kemeja.

Lebih jauh lagi: Po si Kung Fu Panda, sangat disukai karena gembulnya. Atau mereka yang melawak dengan sosok original: gendut.

Meski sebenarnya rancu: sebenarnya yang lucu/kocak itu tingkah polah si Po atau karena tampilan sosoknya yang gembul?

Bisa jadi keduanya menyatu, tak terpisahkan antara fisik yang gembul dan tingkah yang kocak.

Sekali lagi,

apakah yang Besar memang lebih mantap, dibanding yang Kecil?

Menonton di layar lebar, big screen, bioskop, lebih nikmat dan full sensation dibanding menonton di layar kaca – entah itu televisi, laptop atau ya, ponsel.

Benarkah?

Pertanyaannya sekarang:

Apakah rasanya?

Menonton Wonder Woman 1984 di layar sinema (lebar/bioskop), 

atau 

Menonton Wonder Woman 1984 (WW 1984) di layar televisi dan ponsel?

Lebih nikmat mana?

“Jelas lebih nikmat di sinema. Sound lebih ‘OMG!’ – Gal Gadot lebih kelihatan seksi maksimal di mata”

Itu pop-up yang nongol di satu sisi.

“Sama saja, lah… Adegannya sama. Sound-nya juga sama. Gal Gadot-nya juga sama.”

Ini pop-up yang nongol saat menonton WW1984 di rumah (entah via TV, laptop atau ponsel).

Lebih GONG mana:

nonton The Conjuring pertama di sinema atau di kamar sembari menyeruput yogurt dan mencaplok kentang kukus?

(since makan gorengan terlalu banyak, totally not good, you know! Hohoho!)

Apakah penampakan si setan dengan wajahnya yang ‘imut ngeselin’  lebih scary di layar besar atau layar kecil?

Oh ya,

apakah kita cukup kepo dengan kerut kecil di wajah Gal Gadot atau cukup memelototi keseksian tubuhnya di tiap adegan?

Pada akhirnya,

baik itu menonton film di sinema atau di rumah (via laptop, ponsel, dan TV),

punya esensi masing-masing sesuai kita sendiri.

Value every moment of it.

Masih menyeruak di kepala, bagaimana saat kita menonton Avengers: End Game dengan segala sensasi sound-nya, plus tatanan warna efek visualnya di sinema. Dan tentu: teriakan girang-gemes saat para Avengers kembali ke masa lalu atau ketika tepukan tangan riuh begitu semua sosok Avenger muncul lagi dari the Blip membuat tubuh merinding!

Bandingkan dengan saat menonton itu semua lagi via cakupan layar laptop atau TV berkat saluran nonton yang berlogo kepala tikus cerewet.

Beda jauh.

Maaf, ini bukan tentang body-shamming atau apapun yang berhubungan dengan sikap penilaian fisik yang memojokkan)

Yang ingin diangkat disini adalah esensi dari bentukan fisik apapun yang pada akhirnya bisa memberikan manfaat ke diri kita atau dengan kata lain bisa ‘klik’ dengan kesukaan kita.

Mau medium besar atau kecil,

ada satu poin yang harus diingat: sensasi saat menikmati itu semua.

Entah saat menonton di layar besar dengan si dia atau teman-teman hang-out,

atau saat menonton di rumah dengan orang-orang terkasih,

semua memiliki arti,

jangan pandang mediumnya, pandang maknanya.

Semua dari kita belum tahu kapan pandemi ini akan berakhir,

meski satu-persatu (mungkin) ada yang sosok tersayang, kerabat, mereka yang terdekat hilang satu-persatu karena virus,

mari maknai semuanya itu tanpa harus berjalan di tempat, tapi maju ke depan dengan kepala tegak.

Untuk Pak YDA,

salah satu sosok yang memberi makna mendalam ke setiap insan yang pernah dinaunginya.

See you in the eternal life, Sir!


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment