Home » Kembali ke Lapangan
Bagikan

Setelah 30 tahun lebih berpisah dengan olahraga yang saya cintai, saya kembali mengenakan sepatu berpaku, melangkah ke home plate, dan mengayunkan tongkat demi menghadapi berbagai lemparan dan pukulan dari krisis paruh baya.

Oleh Mark Svenvold

Fotografi Marc Asnin

Di usia 48, tak perlu diperdebatkan lagi, saya sudah melampaui paruh baya. Meski begitu, krisis paruh baya telah menghantui saya. Bukannya saya tidak lagi mencintai Martha, istri saya, dua anak kami, dan karier-karier kami yang agak mencemaskan namun menyenangkan, bermanfaat, dan ambisius, yang semuanya hanya memberi saya, menurut sebuah studi, waktu terbatas yang bahkan tak sampai satu jam saja setiap hari untuk menyendiri dan merenungkan segalanya. Banyak pria, tentu saja, berhasil lolos dari periode kehidupan yang satu ini secara rasional, tanpa harus jatuh ke perselingkuhan yang menghancurkan, perceraian, atau keputusan menjadi tentara sukarelawan ke luar negeri. Kakak saya, Steven, misalnya, membeli sebuah motor dan mengendarainya melintasi Amerika, dari Seattle ke New York. Seorang teman mulai mengikuti lari maraton. Teman lain mulai melakukan hiking sendirian di Brooks Range, Alaska. Saya sendiri menemukan jawaban yang berbeda terhadap dorongan aneh yang terasa bak panggilan alam liar yang sulit dipahami.

            Selama musim semi dan sepanjang musim panas, saya bangun sebelum matahari terbit dan diam-diam meninggalkan ranjang, tempat istri saya tidur dan juga anak-anak kami, yang (lagi-lagi) menyelinap ke kamar kami dan tergolek di sana-sini. Saya berjingkat-jingkat meninggalkan mereka, menginjak lantai kayu yang berderak. Di ruang keluarga, tanpa suara saya membebat mata kaki yang terluka, memasang perban di luka-luka nanah di tangan, memakai pelindung lutut, dan memakai celana dalam jockstrap yang elastis dan menyelipkan cup pelindungnya. Ketika beragam persiapan ini tuntas dan semuanya terpasang dengan benar, saya menjadi sesosok pria dengan seragam, yang terlindung untuk berjalan ke medan peran. Siapa pun yang melihat saya saat itu pasti akan langsung tahu tujuan saya. Bukan sesuatu yang besar, tapi paling tidak, selama tiga atau empat jam ke depan, waktu menjadi milik saya sendiri sepenuhnya. Di jalan, dengan tas peralatan tersampir di bahu, udara terasa sejuk dan tenang. Saya berhenti di sebuah toko kecil untuk membeli sebotol Gatorade, sebatang PowerBar, dan sebungkus permen karet. Rute saya adalah menyusuri sepanjang jalur kereta Metro-North menuju Connecticut, tempat para anggota tim saya, Stamford Phillies, yang terdiri dari pria-pria yang sebagian besar seusia saya – di antaranya investor hedge fund, pemilik toko peralatan olahraga, petugas patroli negara bagian, seorang agen FBI. Di tengah semburat cahaya pagi dan kicau burung, kami berjalan memasuki bagian outfield di lapangan rumput yang masih basah karena embun pagi. Saya merasa lebih bahagia dari bertahun-tahun sebelumnya karena pada Minggu pagi ini, saya dilepaskan dari segala kekhawatiran. Saya bebas. Saya lepas. Saya keluar dari sana. Saya pergi. Saya punya arah tujuan, seperti yang sudah Anda tebak, ke tempat pemujaan. Tempat Pemujaan Baseball.           

            Saya tidak sendirian. Setiap akhir pekan, saya bergabung bersama puluhan ribu pria di seluruh negeri yang, seperti saya, memutuskan untuk berhenti menonton pertandingan dan mulai memainkannya.

            Stamford Phillies adalah bagian dari organisasi nasional bernama Men’s Senior Baseball League, yang memiliki divisi usia sampai 55 tahun ke atas. Secara keseluruhan, lebih dari 40.000 pria berlari memutari seluruh base setiap akhir pekan musim panas di seluruh Amerika, dengan nama-nama tim yang mengingatkan kita pada Beer & Whiskey League abad 19: Fresno Grizzlies, Rhode Island Salty Dogs, dan Central Coast Brew Crew. Musim pertandingan berakhir di bulan Oktober dengan sebuah turnamen besar di Phoenix. Anda bisa pergi sebagai bagian dari tim atau pergi sendiri lantas bergabung dengan sebuah tim. Setelah musim reguler saya berakhir tahun lalu, itulah yang saya lakukan. Ketika Boston Red Sox bersiap untuk menaklukkan Colorado Rockies dalam World Series, saya terbang ke Arizona untuk mengikuti World Series saya sendiri dan bermain untuk Westchester Mets – mengejar-ngejar bola di lapangan baseball, memakai seragam hijau-hijau dan menghadapi sejumlah lemparan bola dengan tenaga paruh baya terbaik (dan terburuk) di Amerika. Itu semua adalah bagian dari musim di mana saya bersama sekumpulan pria yang dipersatukan oleh ambisi dan menghadapi risiko, kesulitan, dan penghargaan dari pertandingan yang melibatkan tongkat kayu, sepatu berpaku, dan jarak sepanjang 27 meter di antara base. Itu adalah pertandingan yang, bagi saya, telah menjadi passion masa kecil, sempat lama menghilang, tapi kini telah mendapat semangat baru, walau muncul secara mendadak namun terasa indah. Dengan musim baru dan tubuh yang lebih tua, saya bergabung dengan keriangan ini lagi setelah kekosongan selama nyaris 35 tahun.

            Semua itu dipicu, beberapa bulan sebelumnya, oleh obrolan di trotoar bersama Sidney Hardee, ahli strategi produk turunan, sesama orangtua murid di sekolah putri saya, dan mantan baseman di Yale. Sidney memberi tahu saya tentang The Phillies dan menyarankan saya uji coba bergabung dalam tim. Begitulah asal-usul saya memberanikan diri, di suatu sore yang indah di musim semi, di lapangan baseball di belakang Stamford High School. Di sisi kiri lapangan, saya bergabung dengan sekelompok pemain yang berkumpul untuk melakukan uji coba, ketika satu demi satu melangkah ke depan untuk menangkap bola yang dipukul tinggi-tinggi ke arah kami dalam lengkungan panjang yang malas dari pitcher Kevin Clark, salah seorang kepala pelatih.

Ketika bola yang dipukul Kevin Clark meluncur ke udara, saya merasakan sebuah perhitungan kalkulus, semacam naluri bawaan dalam diri saya, sebuah kemampuan yang terasah baik sepanjang usia dewasa saya, untuk menentukan di mana dan seberapa cepat saya harus berlari untuk memposisikan diri –dan menunggu di sana, secepat yang saya bisa– di area hijau yang luas di sisi lapangan bagian kiri sebagai titik letak jatuhnya bola dengan kecepatan tinggi dan menangkapnya menggunakan sarung tangan.  

            Kepala pelatih lain sekaligus manajer The Phillies, Albert Cheng, seorang bankir investasi, memanggil saya dengan lambaian tangan. “Mau tahu situasinya?” ujarnya. “Kami hanya butuh 16 pemain. Sekarang ini kita punya 20. Banyak pria kami telah bermain bertahun-tahun untuk tim.” Mereka sudah memiliki dua baseman pertama, keduanya bisa memukul bola dengan kuat. Inti pembicaraan yang hendak ia sampaikan adalah: ia tidak terlalu membutuhkan saya. “Anda bisa ikut uji coba hari ini, tapi saya tidak dapat menjamin Anda mendapat peluang besar untuk bisa main.”

Ketika ia bicara, saya menonton Kevin meluncurkan bola demi bola yang melengkung indah ke lapangan kiri. Di bawah cahaya matahari siang di awal Mei, saya merasa seperti anjing yang dirantai yang mengendus aroma tajam pertandingan di udara. Setelah latihan, di tempat parkir, Albert membuka bagasi mobilnya dan memberikan saya baju jersey The Phillies dan ikat pinggang merah. Lantas ia masuk ke dalam mobilnya. “Kamu harus punya celananya,” katanya. “Celana abu-abu.”

            Apa rasanya kembali ke permainan yang sangat Anda sukai setelah begitu lama tidak Anda tekuni? Nyaris seperti mimpi. Biasanya, melangkah lagi ke panggung utama dari sebuah pengalaman masa kecil akan membuat Anda merasakan adanya penyempitan ruang. Anda akan merasa segala sesuatu tampak menciut karena lapangan yang dulu terasa epik dan begitu luas kini terasa begitu mungil. Tapi kembali ke lapangan baseball punya efek sebaliknya. Bertahun-tahun setelah SMU, saya sesungguhnya tidak pernah benar-benar berhenti bermain bola, tapi saya lebih sering bermain softball di kampus dan ketika melanjutkan kuliah pascasarjana, dengan dimensi lapangan yang jauh lebih kecil. Akibatnya, ketika saya menempati base pertama musim semi kemarin, bagian infield lapangan tampak luar biasa besar, sedangkan outfield seolah terletak di kabupaten lain. Saya nyaris tidak sanggup melempar sampai ke base ketiga. Butuh satu bulan penuh bagi saya sebelum saya akhirnya tidak lagi merasa seakan-akan tangan saya remuk seperti kaca atau copot dari engselnya dan mendaratkan bola separuh jalan sebelum target, seperti burung yang mati ditembak.  

Saatnya Main

Meski menyaksikan kecepatan bola-bola yang menukik dan perasaan akrab dari sarung tangan kulit membantu saya menaklukkan kegentaran usia, saya menghadapi realitas baru yang menyebalkan: Sebuah latihan sederhana di infield cukup untuk membuat saya terengah-engah kehabisan napas. Bagaimana ini bisa terjadi? Saya berlari sejauh 8 km beberapa kali seminggu tanpa masalah. Untuk mencari jawaban, saya menemui Glenn S. Fleisig, Ph.D., pakar biomekanik di American Sports Medicine Institute. Ada bedanya, katanya, antara memiliki tubuh sehat (dan sanggup lari sejauh 8 km) dan memiliki apa yang disebut Fleisig, “Tubuh sehat yang fungsional.” Saya menggunakan otot-otot yang sama saat latihan infield maupun lari jarak jauh, tapi dengan cara berbeda. Ini mencakup “serat-serat otot fast-twitch (otot rangka yang berkonteraksi dengan cepat dan juga melepas energi dalam waktu sangat singkat, yang digunakan untuk aktivitas yang membutuhkan kecepatan gerak seperti lari sprint atau power lifting) yang ekplosif,” menurut Fleisig. “Setelah bertahun-tahun tidak aktif, Anda kembali ke regimen olahraga yang sebagian besar berupa anaerobik fast-twitch yang dapat membuat Anda cepat lelah atau membuat otot-otot Anda cedera.” Meski saya mungkin tersandung-sandung dan awalnya lebih mudah lelah, semakin lama kondisi tubuh saya membaik. Ketika lengan saya semakin kuat, saya sanggup melakukan tolakan dengan kekuatan penuh, lengkungan bola lemparan saya dari kanan bawah dengan cepat melambung dan melayang tepat di atas gapaian tangan si pemain cutoff dan mendarat manis di dalam sarung tangan yang menanti dari pemain shortstop.

            Tapi memukul adalah persoalan lain. Manurut Porter Johnson, profesor fisika di Illinois Institute of Technology yang mengamati permainan saya, mustahil saya dapat memukul bola dengan kuat di liga-liga besar. Tapi tetap saja… kecepatan belajar saya cukup besar. Jika dibandingkan dengan masa muda saya, dulu, dapat memukul bola saja sudah menjadi suatu keharusan, sehingga tak heran ketika sebuah strike-out dapat membuat saya tercekik dan tak bisa bicara. Segunung tekanan membuatnya menjadi sulit, kini saya memahami, untuk mengambil sudut pandang lebih jauh lagi. Dan memukul bola, seperti golf, adalah ujian terhadap kemampuan seseorang untuk menyetir kegagalan yang terulang kembali dengan sikap tenang, untuk menganalisis kesalahan secara ilmiah, untuk belajar berbagai dampak dari setiap kesalahan, dan untuk berkembang. Pada akhir musim, saya hanya menghasilkan dua pukulan resmi, keduanya adalah pukulan infield yang keras. Saya memukul lemparan bola di kedua kejadian tadi jadi, ya, secara teknis mereka adalah pukulan. Tapi saya belum juga melakukan pukulan kuat saya yang perdana, pukulan yang bonafid, tak tertandingi, dan melayang tinggi di atas kepala-kepala para pemain. Karena itu, seminggu sebelum pertandingan terakhir saya bersama The Phillies, saya pergi menemui pelatih.

                Saya menemukan Rod Stephan, dua kali juara memukul bola di MSBL (Men’s Senior Baseball League) yang baru saja masuk dalam MSBL Hall of Fame, di kantornya, AMAPro Sports, sebuah penjual retail peralatan baseball di Long Island. Stephan, seorang pria besar dengan kedua sisi rambut yang memutih, jenggot kambing, dan bahu kokoh ala pemain belakang di football, mengajak saya ke area memukul yang dibatasi jaring, menempatkan sebuah bola di batting tee (tiang penopang bola untuk latihan), dan meminta saya mengayunkan tongkat. “Cobalah mengayunkannya dengan kedua tangan,” katanya. Saya menatapnya tak mengerti. Ia mengingatkan saya bahwa kekuatan datang dari tubuh bagian bawah, tengah, dan kedua kaki. Ia melemaskan buku-buku jari dari setiap tangan dan memberi tahu saya untuk mengendurkan cengkeraman. Ia menunjukkan pada saya bahwa tangan saya harus menjadi hal pertama yang melewati zona strike. Ini akan meningkatkan kecepatan dan kekuatan di akhir pukulan. Batting tee memaksa saya untuk mengayun sedikit ke bawah untuk memukul bola. Gerakan sedikit menurun inilah, jelas Stephan, yang membuat bola-bola melambung ke atas ketimbang jatuh ke tanah infield. Stephan menerangkan sekilas pada saya arti menjadi hitterish – bagaimana pukulan di dalam maupun di luar menjadi poin pengungkit yang kuat yang bisa menolong pemukul. “Saya tidak peduli tentang lengkungan atau lambat versus cepat,” kata si juara memukul itu. “Yang saya peduli hanyalah zona tempat bola masuk – di dalam, di tengah, atau di luar. Itu saja yang perlu saya tahu.” Saya harap itu juga cukup bagi saya.

            Selama saya bertanding bersama The Phillies, saya melalui hari-hari yang menyenangkan dan – namanya juga baseball – hari-hari yang menyebalkan. Dalam sebuah pertandingan, saya sedang melakukan sejumlah penyelamatan yang bagus di base pertama, salah satunya membantu mengirim kami ke inning ekstra. Saya mencoba mengingat segala sesuatu yang telah diajarkan Stephan pada saya, saya memutar otak untuk mencari jalan agar dapat mengejar ketinggalan skor 0-lawan-4. Sebelum kami semua dapat menjalankan aksi tersebut, pagi telah berganti ke siang hari. Tim Fairfield Marlins sudah menanti kemenangan di depan mata, dan ketika kami semua sedang bersiaga, tiba-tiba ponsel-ponsel kami mulai berbunyi. Panggilan dari para istri, tunangan, dan kekasih yang sudah mulai menuntut keberadaan kami. Tak ada dari kami yang benar-benar berminat untuk mengakhiri kebersamaan, bahkan saat pertandingat usai, kami berdiri di tempat parkir, minum bir sambil masih mengenakan kaus kaki dan membahas pertandingan-pertandingan yang masih tersisa. “Walau di liga posisi kita terakhir, namun kita berada di antara tim-tim terbaik,” kata seseorang.

            Satu hal yang mengurangi rasa sakit dari kekalahan dengan skor 0 lawan 4: Musim pertandingan ini belum berakhir. Saya masih punya kesempatan untuk melakukan pukulan terbaik. Dan memang, sepanjang bulan Oktober ini, masih banyak pertandingan yang akan saya lakukan dalam Men’s Senior Baseball League World Series. Beberapa minggu mendatang, saya akan mengubah warna – kaus kaki, topi, dan jersey – dari warna merah tim Phillies ke warna biru tim Westchester Mets. Dan pada minggu terakhir Oktober, saya akan naik pesawat, bersama ratusan pria lain – dari South Dakota dan Baton Rogue, dari Fresno dan Omaha, dari Toronto dan Moosejaw, dan bahkan dari Australia – menuju Phoenix, tepatnya ke tanah suci baseball di pusat Phoenix. Ini adalah tempat di mana terdapat lapangan-lapangan yang sangat hijau dan indah –seperti taman-taman Jepang yang terawat dengan baik, tempat tunggu para pemain yang bersih, dan outfield sebesar kota New England –tempat hot dog bebas disantap dan bir mengucur tanpa henti dari keran, dan tempat saya dipastikan untuk ikut bermain setidaknya dalam lima pertandingan. Salah satu pertandingan ini akan dimainkan di bawah sorot lampu Tempe Diablo Stadium.

            Saat latihan sehari sebelum pertandingan, Bruce Bendish, pengacara persidangan yang juga menjadi manajer, kapten, dan catcher untuk Westchester Mets, sudah mulai melakukan pitcher di dalam kepalanya. Pertandingan pertama dari turnamen ini akan ditentukan oleh bagaimana para pemain melewati malampertama mereka sebelum pertandingan. Seperti yang sering terjadi, hasil pertandingan bergantung pada kondisi para pemain sehari sebelumnya, penampilan seorang pitcher akan ditentukan oleh berapa banyak bir yang ia tenggak malam sebelumnya. Duduk di sebelah Bruce di bangku depan van – dengan kepala tertunduk seakan-akan mempelajari peta, atau tertidur – adalah Vince Foscaldi, pria dengan bahu gempal di usia 70an yang tampak seperti Don Zimmer dengan kacamata hitam dan celana olahraga. Semua orang memanggilnya dengan sebutan Vinny, atau kadang-kadang, Pot Roast. Tahun-tahun bermainnya sudah lama berlalu, tapi ia tak pernah melewatkan kunjungan ke MSBL World Series, tempat ia dengan cermat mencatat skor pertandingan, mengatur ulang barisan pemain, melatih base pertama, dan menghibur tim dengan kekacauan kata yang ia kumpulkan dan lontarkan sebagai benda legenda. Pernah, ketika Bruce menyewa terapis olahraga untuk tim mereka, Vinny ditanya apakah ia mau dipijat. “Tidak terima kasih,” ujarnya. “Tubuh saya tidak rentan cedera.”

            Saya tidak mengatakan bahwa Westchester Mets menenggak banyak minuman – dalam jumlah yang melebihi ratusan pria paruh baya lainnya dalam seragam baseball yang berkeliaran di lapangan tersebut selama seminggu. Meski suatu malam, beberapa tahun lalu, Bruce pernah menerima telepon dari seorang agen real estate di Scottsdale tentang sebuah kondominium yang rupanya ia beli sebelumnya di malam perayaan kemenangan Mets. Kecerobohan Bruce yang membuat ia tidak bisa mengingat tindakannya membeli kondominium tersebut bukannya lantas membuat Bruce jera atau belajar mengambil hikmahnya. Para anggota tim lantas membentuk IPF (Injury Prone Free) Corporation, mengumpulkan uang bersama, dan dengan senang hati menjadikan kondominium itu rumah mereka di bulan Oktober. Apartemen tersebut besar dan nyaman, dengan dapur yang besar, sebuah loft, bak mandi air panas, dan beranda (dengan lantai beton berbentuk bola baseball) dengan pemandangan lapangan golf.

            Sekarang, kembali ke pertandingan saya di lapangan baseball.

            Tapi pertama-tama, Anda harus membayangkan dulu situasinya. Bayangkansebuah stadium liga besar yang tampak bersinar di malam hari dari kejauhan, lantas langkah-langkah panjang mendaki tangga dan melewati portal, kamera-kamera mengganti posisi dan siap menyorot. Lantas ada geometri lapangan pertandingan yang luas di bawah lampu-lampu besar yang terlalu terang untuk ditatap langsung. Skor film dinaikkan ketika Westchester Mets, dalam seragam warna biru, abu-abu, dan oranye, memasuki lapangan, sebagian dari mereka berhenti sejenak untuk berdiri dengan senyuman bodoh di wajah dan menatap bangku-bangku stadion, sisanya menjejaki batas kapur dari garis foul. Kini, Anda bisa menyaksikan profil wajah Bruce “The Fossil” Bendish, catcher berusia 61 tahun yang masih bisa meloncat tinggi-tinggi ke udara dan mengeluarkan pemain lawan dengan lemparan bolanya, yang mengawasi pemain-pemainnya ketika mereka menyebar di lapangan atau saling melempar bola. “Ini,” katanya akhirnya, “adalah tempat turnamen dimulai.”

            Jadi, tidak masalah kalau ternyata bangku-bangku penonton itu memang kosong, kecuali keponakan saya, Natalie, dan suaminya, Monte, serta kakak saya, Steve, yang telah mengemudi dari Seattle untuk duduk di balik home plate dengan kamera video dan merekam pertandingan? Lantas kenapa kalau kamera Steve ternyata adalah satu-satunya yang saya maksud ketika mengatakan “kamera-kamera mengganti posisi dan siap menyorot”? Jika Anda belum pernah main dalam kompetisi di stadion liga utama di malam hari, Anda harus tahu bahwa sensasinya sangat luar biasa.

            Pada akhir inning keenam, skor menunjukkan Sacramento 7, Mets 0. Kemudian pukulan-pukulan kami mulai mengganas, sedangkan Sacramento mulai banyak melakukan kesalahan. Pada akhir inning kedelapan, Mets sudah memimpin. Dengan dua orang keluar dan sejumlah pemain berjaga di base kedua dan ketiga, saya melangkah ke plate. Saya membiarkan lemparan pertama, lantas mengayunkan tongkat pada lemparan berikutnya, tangan saya mengarahkan tongkat melewati zona strike, dan bola melambung ke atas pemain shortstop. Skor sebanyak dua homerun dicetak. Pertandingan berakhir dengan kemenangan Westchester Mets, 10 – 7.

            Momen itu adalah salah satu bagian terbaik dari banyak turnamen di mana saya sering berpikir sendiri –saat berada di antara inning, katakanlah, selama hiruk-pikuk sebelum memasuki lapangan atau memasang helmet dan mengambil tongkat pemukul– bahwa, sebenarnya, saya benar-benar tak ingin berada di tempat lain di dunia, selain bersama pria-pria dari tim Westchester yang luar biasa menyenangkan dan “liar” ini. Saya suka menantang diri sendiri dalam kompetisi dan suasana akrab karena menjadi bagian dari sebuah tim, sesuatu yang jarang dialami seorang penulis yang lebih sering sendirian di meja kerjanya. “Kebersamaan adalah tim,” Billy Martin pernah berseloroh. Bermain baseball atau olahraga tim manapun dapat menawarkan sebuah rekreasi dari rutinitas reguler dalam kehidupan keluarga. “Ini adalah hidup saya,” ujar Rob Sachs, pitcher pengganti untuk Stamford Phillies, ketika musim baru dimulai. “Saya memasukkan tangan ke dalam tas baseball saya, dan saya menemukan popok dan tisu basah.”

            Tapi mungkin olahraga tim menawarkan sesuatu yang amat langka sekarang ini: perasaan terbuka dari waktu yang dihabiskan bersama sekelompok pria yang untuk sementara waktu dibebaskan dari tanggung jawab dan menceburkan diri dalam permainan. Bermain di dalam, di atas, dan di seputar pertandingan nyaris sama menyenangkannya dengan pertandingan itu sendiri. Saya suka omong-kosong yang kocak dan senda-gurau penuh ceria dari obrolan sesama rekan tim, dibumbui vulgaritas tinggi ala pria yang kerap menyelusup ke dalam celetukan-celetukan kami. Memang, bermain baseball di tengah rutinitas sehari-hari menawarkan banyak kesempatan untuk obrolan ringan yang menyenangkan dan menjadikan diri Anda lebih relaks serta penuh semangat untuk memulai aktivitas lainnya.

Bekal Sebelum Bertanding

Memainkan olahraga tim dapat menjadikan Anda pria yang lebih baik, di luar maupun di dalam lapangan

Ketika Anda punya keluarga, Anda akan dihadapkan pada dilema berat pada akhir pekan. Mana yang lebih penting, memperbaiki lemari dapur atau membeli ban mobil baru? Anda ingin melimpahkan perhatian pada anak, tapi bagaimana dengan wanita yang disebut “istri”? Selain itu, sepertinya Anda juga butuh potong rambut.

            Tapi bagaimana jika ilmu pengetahuan dapat membuktikan bahwa bermain bola sesungguhnya adalah cara paling baik untuk memanfaatkan waktu Anda, sekaligus menjadikan Anda ayah, suami, dan pekerja yang lebih baik, bahkan meningkatkan kesehatan? Sebuah studi dalam Journal of Sports Science and Medicine menemukan bahwa olahraga tim secara keseluruhan membuat pria lebih rileks dibandingkan olahraga individual. Menjadi bagian dari tim dapat memperluas jejaring sosial kita, yang telah terbukti membantu pria hidup lebih lama, papar pensiunan psikiater Stuart Brown, pendiri dan presiden National Institute for Play. Namun, Anda mungkin butuh izin dan dukungan dari istri Anda sebelum mulai berkomitmen untuk menghabiskan akhir pekan sepanjang musim panas di lapangan. Bekali diri Anda dengan sejumlah alasan berikut:

Hubungan saya dengan keluarga akan menjadi lebih baik.

“Tak ada yang salah bila Anda penuh semangat dan teguh mengejar tujuan pribadi, tapi Anda juga perlu menjalin hubungan dengan orang sekitar,” ujar Steve Durant, Ed.D, salah seorang direktur Massachusetts General Hospital Sports Psychology Program. “Olahraga tim membantu Anda untuk menjalin hubungan lebih baik dengan orang lain.”

Saya jadi terlatih menangani stres dengan lebih baik.

Gary Avischious, direktur coachingschool.org, organisasi yang dibentuk untuk membantu orang dewasa belajar cara melatih anak-anak dengan baik, menyebutnya “kemampuan beradaptasi, kebalikan dari lepas kendali. Olahraga menuntut improvasisasi tanpa henti, dan proses tersebut membantu memetakan ulang otak Anda untuk mengatasi rintangan, ujar Dr. Brown: “Dalam olahraga, Anda bisa membuat kesalahan dengan konsekuensi kecil dan belajar dari situ. Proses trial-and-error ini jarang Anda temukan di area lain. “Bahkan binta olahraga sekalipun bisa menemukan kegagalan sampai 60%,” ujar Avischious.

Saya akan membawa lebih banyak energi positif pada keluarga. 

Secara harafiah, performa yang bagus di lapangan dapat menjadikan Anda pria yang lebih bahagia. Pergilah bermain dan cetak gol itu, papar Dr. Brown, dan “otak Anda akan memproduksi endorfin dan neurotransmitter lain. Anda akan merasakan pergantian mood. Anda akan berkata ‘Hei, dunia ternyata tempat yang lumayan indah.’” Sudut pandang yang lebih baik ini akan menghasilkan kinerja lebih baik di kantor maupun kehidupan keluarga Anda.

Saya tidak akan marah sepanjang waktu.

Menghajar bos Anda mungkin terasa melegakan, tapi jelas bukan jalur tercepat untuk kemajuan karier. Amarah Anda butuh penyaluran di suatu tempat, dan, dalam konteks permainan yang benar, Anda bisa memaki, merobohkan seseorang, membantunya berdiri, dan menertawakan kejadian itu saat minum bir bersama setelahnya. “Ada rasa damai, rileks, dan berhasil mencapai sesuatu ketika Anda mengeluarkan agresi dalam diri Anda,” ujar Durant.

JACK OTTER, BERSAMA STEVE CALECHMAN


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment