Home » Obsesi Idris Elba
Bagikan

Demi mewujudkan obsesinya yang lama terpendam, Idris Elba memacu dirinya demi mengalahkan ketakutan dan kelemahannya!

Idris Elba menatap dingin dari balik kemudi di mobil rallynya. “Sejak bocah, saya seperti terobsesi dengan kecepatan. Saya selalu ingin menjadi yang pertama dan tercepat. Saya akan mempertaruhkan segalanya. Karena untuk inilah saya dilahirkan.,” katanya dengan aksen Inggris yang kental. Kalimat promo dalam program televisi yang ditayangkan Discovery Channel – Idris Elba : No Limits – seakan langsung mengundang kita untuk mengikuti apa yang akan dilakukan Elba dalam tayangan tersebut.

“Resiko itu nyata. Dan ini bukan akting,” katanya dengan pandangan dingin. Elba pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Idris Elba, tanpa bekal pengalaman, aktor kelahiran London ini menaklukkan setiap rintangan yang menghadang. Ia hanya berbekal keberanian, ketekunan dan tekad.

Lampaui Batasan Diri

Meski bukan pebalap dan tidak mengusasai teknik balap, Idris Elba terhitung sebagai pengemudi yang berpengalaman. Dalam sejumlah film aksi yang diperaninya, ia selalu melakukan semua aksi menantang di film tanpa pemeran pengganti. Ia pun sudah tidak asing lagi dengan adegan balapan mobil yang dramatis dan berkecepatan tinggi. Namun demikian, tidak banyak yang menyadari bahwa Idris memendam hasrat untuk memasuki dunia olahraga motor yang memacu adrenalin.

Serial Idris Elba: No Limits yang terdiri dari empat episode ini menayangkan perjalanan Elba dalam menguasai beberapa disiplin ilmu balapan paling sulit di dunia, sebelum terjun ke darat dan udara untuk berpartisipasi dalam sejumlah kompetisi olahraga yang paling keras. Dia dibantu oleh beberapa mentor luar biasa yang mewakili empat macam keahlian: mengemudi reli (rally driving), aerobatik, drag racing, dan rekor kecepatan darat.

Sepanjang jalan ia harus menemukan dan memodifikasi kendaraan yang tepat. Tidak mudah baginya, karena ia harus menghadapi beragam masalah termasuk cuaca buruk, takut ruang sempit (claustrophobia), takut ketinggian, kekurangan di sana-sini dan beberapa masalah teknis. Bagi Elba, sekedar ikut saja tak cukup. Ia mengikuti setiap kompetisi dengan satu tujuan: menang.

 “Ketika kita masih kanak-kanak, kita belajar dan melihat banyak hal baru setiap hari. Anda tidak punya rasa takut. Anda hanya menjalani apa yang ada di depan Anda,” kata Idris yang justru menggambarkan dirinya bukan sebagai figur petualang dan pengambil resiko ketika beranjak remaja. Ayahnya, Winston Elba (seorang pria asal Sierra Leon) hanyalah pekerja di pabrik motor Ford di Dagenham, sebuah daerah pinggiran di London timur.

“Kehidupan masa remaja saya biasa saja. Tapi saya sudah mulai berani menyetir mobil di umur empat belas. Lumayan berisiko saat itu,” kenang Idris.

“Ayah dan ibu tidak tahu bahwa saya membeli mobil saat itu. Tapi selain hal itu, saya tidak pernah melakukan hal-hal ekstrem lain, kecuali pernah sekali bermain surfboard. Sekali itu saja sih,” kata Idris. Ia menuturkan semuanya dengan datar, bagaikan sebuah mobil yang dipacu pada kecepatan rendah yang konstan.

“Tapi saya pikir, yang membuat kita bersemangat setiap hari adalah bahwa kita yakin akan selalu ada pengalaman baru,” katanya.

“Anda bisa saja duduk seharian dan mengerjakan apa yang Anda sukai, tapi Anda tidak akan berkembang. Ketika Anda sampai pada usia tertentu, Anda akan menyadari bahwa hal-hal yang sudah biasa Anda lakukan mungkin tidak akan sesuai dan Anda akan beralih ke hal-hal yang baru. Itu mengapa saya menyenangi pekerjaan saya sebagai aktor, karena semenit saya berperan sebagai detektif, semenit berikitnya saya jadi alien di Star Trek,” ujar Idris yang memerankan tokoh Krall dalam Star Trek Beyond (2016).

Berbicara tentang pengalaman baru, Idris Elba: No Limits membuat Elba harus mendorong dirinya melawan ketakutan dan keluar dari zona nyamannya. Dalam film itu, Elba menggeber nyalinya seperti melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi belajar menerbangkan pesawat dan melakukan aerobatik

“Ada sejumlah momen ketika saya berpikir mengapa saya mau melakukan ini dan mungkin saya tidak perlu melakukannya,” kata Idris.

“Tapi betapapun takutnya Anda, sekali saja Anda menghadapi ketakutan itu, semuanya akan bisa ditaklukkan.”

Setelah itu, apakah Idris lantas menjadi pria yang tidak memiliki rasa takut sama sekali?

No I’m not fearless, that’s for sure,” katanya yakin. “Seperti yang tampak dalam film itu, Anda bisa melihat bahwa saya masih punya rasa takut. Tapi saya harus berjuang untuk menaklukkan itu.”

Bercanda dengan Maut

            Ada semacam dorongan yang membuat manusia seakan terobsesi pada mesin dan kecepatan. Begitu pula Elba.

“Bisa jadi karena manusia hanya memiliki dua tangan, dua kaki, dan hanya bisa bergerak dalam kecepatan tertentu. Jadi ada ketertarikan yang membuat manusia ingin menciptakan hal-hal yang bisa membuat Anda lebih tinggi, lebih cepat, lebih jauh,” ujar aktor yang pernah berperan sebagai Nelson Mandela dalam film biografi Mandela: The Long Walk to Freedom (2013).

“Saya termasuk orang yang seperti itu. Saya ingin tahu seberapa cepat saya bisa menjelajah dengan menggunakan mesin. Dalam hal ini, saya penasaran untuk bisa mendorong diri saya untuk melakukannya,” kata Idris yang selalu merasa bahwa ia bisa menggunakan kekuatan pikiran untuk itu.

“Jadi saya ingin menguji teori tersebut dan pertunjukan ini merupakah eksperimen yang tepat untuk saya untuk memahami apa yang bisa lakukan dan apa yang tidak bisa saya lakukan,” kata Elba yang dengan jujur menyebut menerbangkan pesawat sebagai aktivitas paling berbahaya yang pernah ia lakukan.

“Meskipun Anda aman berada di udara, saya belum pernah belajar menerbangkan pesawat sebelumnya, jadi saya sedikit gugup saat melakukannya. Menurut saya, rally driving terhitung sebagai olah raga yang relatif aman,” kata Elba.

“Tapi jika Anda melakukan kesalahan, ada semacam garis tipis antara ngebut dengan kecepatan tinggi dan langsung menabrak pohon. Batasan itu sangat tipis,” kata Elba yang menyukai saat-saat berada dalam mobil rally.

“Rally car bagi saya adalah tempat yang nyaman karena saya sudah mendambakannya sepanjang hidup saya. Saya selalu ingin melakukannya, dan kebetulan mengemudi mobil adalah hal yang saya sukai,” kata Elba.

Namun meskipun terdengar menikmati semua petualangan dengan mesin berkecepatan tinggi, Idris Elba tidak bisa menghindar dari ketakutannya akan ketinggian dan ruangan sempit (claustrophobia).

“Dalam film ini Anda bisa melihat bagaimana saya sangat tidak nyaman berada di ketinggian, apalagi berada dalam ruangan sempit di dalam kokpit saat adegan di dalam pesawat,” kata Elba.

“Sejujurnya saya tidak menikmati apa yang saya lakukan, tapi saya merasa sangat tertantang melakukannya. Itu adalah salah satu tantangan terbaik yang harus saya taklukkan, karena saya sudah sering sesumbar tidak akan melakukannya,” ujar Elba.

Terlalu tua untuk bengal

            Memang perlu kepercayaan diri yang kuat untuk bisa melakukan sejumlah atraksi berbahaya seperti yang dilakukan Idris Elba dalam Idris Elba : No Limits.Begitupun untuk memerankan tokoh legendaris agen rahasia 007 James Bond, Idris Elba perlu rasa percaya diri. Tapi Idris justru tampak enggan membicarakannya. Tengok saja komentarnya ketika tahun lalu namanya mulai digadang-gadang menjadi aktor kulit warna yang paling pantas memerankan James Bond.

“Kalau saya memerankan Bond, saya tidak ingin disebut the black James Bond,” ujarnya.

Sejak ‘Spectre’ (film James Bond ke-24) dirilis November tahun lalu, aktor bertinggi badan 190 sentimeter itu memang santer disebut sebagai calon Bond yang mampu memberikan warna baru. Sayangnya, pandangan rasis dari mayoritas penggemar berat Bond yang tidak ingin peran ini jatuh ke tangan aktor berkulit warna, seakan jauh-jauh hari sudah menjegalnya.

“Itu benar-benar rumor paling liar yang pernah saya dengar,” kata Idris, yang juga dikenal sebagai musisi ini, menanggapi isu tentang pencalonan dirinya sebagai James Bond.

Ketika berbicara dalam sebuah acara televisi Good Morning America, Idris menyebut bahwa usianya (yang kini memasuki 44 tahun) sebagai salah satu alasan mengapa ia bukanlah calon yang tepat untuk memerankan agen rahasia yang doyan main perempuan, menenggak martini dan ugal-ugalan di atas mobil.

 “I think I’m too old for that – running around in cars and ladies and martinis,” kata Idris.

“Siapa sih yang mau melakoni itu? Kelihatannya kok mengerikan,” ujarnya sambil tersenyum. Tidak ada yang bisa menerjemahkan senyum itu.

Memang rata-rata aktor yang memerankan Bond berada pada usia empat puluhan. David Niven memerankan Bond dalam Casino Royale (1967) saat berusia 57 tahun. Dan Roger Moore juga seusia itu ketika menjadi Bond untuk terkakhir kalinya dalam A View to a Kill (1985).

Alasan lain mengapa ia terkesan benar-benar menghindari topik itu adalah karena Sony Pictures tidak pernah menghubunginya untuk membicarakan mengenai peran tersebut. Siapapun tahu bahwa Daniel Craig dinilai gagal memerankan Bond dalam Spectre. Film itu sendiri juga akhirnya banyak menjadi bahan cemoohan. Dan Craig sendiri belum terdengar resmi mengundurkan diri dari peran yang sukses menggelontorkan pundi-pundi ke kantongnya. Sejumlah nama lalu timbul tenggelam dan menjadi spekulasi publik, disebut sebagai pengganti Craig, di antaranya aktor film Divergent (2014), Theo James, dan aktor Inggris, Tom Hiddleston. Elba sendiri terkesan kian enggan menanggapi isu yang terlanjur menggelinding bagai bola liar.

“Benar-benar isu yang liar. Kemanapun saya pergi, orang-orang selalu bertanya tentang ini. Kalau memang akhirnya jadi, saya ingin mendapat dukungan dari masyarakat luas. Tapi kan tidak pernah ada pembicaraan tentang ini,” kata Idris.

Meskipun demikian, dukungan makin datang luas kepada Elba, seperti halnya dukungan dari sutradara kawakan Steven Spielberg.

“Saya sangat menggemari Bond. I would love to see a Bond of colour,” kata Spielberg. “Idris akan menjadi pilihan pertama saya kalau Daniel memang benar-benar mundur sebagai Bond.”

Kita tunggu saja peluang Elba. Tapi sementara itu, kita nikmati dulu aksinya melampaui ketakutannya sendiri sekaligus mewujudkan obsesinya akan kecepatan tinggi. Wuuuzz!!!


Rahasia Bugar Elba
Dengan tinggi tubuh menjulang, Idris Elba sering dipercaya untuk memerankan tokoh-tokoh keras dalam sejumlah filmnya termasuk peran antagonis. Apa rahasia kebugaran fisiknya?

Disiplin
“Saya selalu berusaha menyelipkan olah raga kapanpun saya bisa,” kata Elba. Pilihannya, lari 45 menit di pagi hari, 100 kali push up dan 100 kali sit up, serta berenang. “Olah raga itu membuat semua otot di tubuh Anda bekerja,” katanya.

Sarapan bermutu
Untuk menjaga stamina dan fisiknya, Elba tidak pernah melewatkan makan pagi. Apapun yang terjadi, dia selalyu menyantap karbohdirat dan protein ketika dia bangun tiudr. Menu yang ia pilih, sereal dan telur.

Menjaga berat badan
Elba beruntung memiliki fisik yang tidak mudah gemuk. “Saat saya lebih muda, berat saya tidak pernah naik. Sekarang seiring umur, ada beberapa bagian yang tampak lebih chubby. Tapi dengan sedikit olah raga, biasanya langsung hilang,” katanya.

Olah raga pilihan
Agar lebih termotivasi, pilihlah olah raga yang menjadi kegemaran Anda. Elba memilih kickboxing, bola basket, sepak bola dan rugby. Ketika masih sekolah, ia tergabung dalam liga sepak bola sekolah. “Ini hanya salah satu cara untuk bugar,” katanya.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment