Home » Lelaki yang Membekukan Waktu
Bagikan

Fotografer kawakan ini membangun dunianya dari pencarian yang panjang.

Pria tinggi besar berkepala plontos itu hadir seperti hantu. Ada tetapi (berusaha) untuk tidak terlihat. Ia menyelinap di antara kerumunan demi kerumunan ratusan orang yang hadir dalam Bali Spirit Festival di Ubud. Ia hanya menyapa orang-orang yang dikenalnya. Selebihnya, ia mengabadikan momen demi momen festival itu dengan kameranya. Pria itu, Rio Helmi.

Saya menemuinya pada suatu sore di café nya yang merangkap galeri, di sela-sela padatnya acara Bali Spirit Festival beberapa waktu lalu. Sambil menikmati segelas banana smoothies kegemarannya, fotografer kawakan ini berkisah banyak, tentang pencariannya dan kekecewaannya.

“Saya dulu ingin jadi pelukis, tapi saya tidak berbakat melukis. Akhirnya saya beralih ke fotografi,” tutur Rio, mulai berkisah.

Minat Rio akan fotografi muncul ketika ia tinggal di Australia di tahun tujuh puluhan. Lima tahun bermukim di sana, ia merasa dunianya hampa. Ia kembali ke Indonesia di akhir 1970-an. Di Indonesia, matanya terbuka. Rio pun menjelajahi dan mengagumi keindahan dan kekayaan Nusantara.

“Saya selalu tertarik dengan apa yang dilakukan  manusia di tengah alam dan lingkungannya. Dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh manusia moderen saat ini, yang saya rasa seperti kehilangan arah.”

Maka Ia pun kembali melakukan pencariannya. Seakan melanjutkan kembali perjalanannya dalam mencari makna dan filosofi kehidupan  yang membuat hubungannya dengan sang ayah sempat terganggu.

“Ayah saya pernah sangat kecewa dengan saya karena saya tidak kuliah,” tutur Rio. Hampir delapan tahun sang ayah enggan menegur putra sulungnya tersebut.

“Kalau saya pikir, dulu saya memang kurang ajar,” kata Rio. Ia sadar betul bahwa ia telah menyia nyiakan perjuangan ayahnya.

“Ayah saya berasal dari Lampung. Ia bekerja setengah mati, banting tulang, untuk bisa keluar dari kampungnya dan mendapatkan pendidikan yang terbaik,” kisah Rio.

Sang ayah yang kerap bertemu macan tutul saat keluar masuk hutan di Lampung, akhirnya memutuskan untuk pergi ke Timur Tengah dan menempuh pendidikan terbaik di sana. Kelak sang ayah akhirnya menjadi diplomat. Sedangkan ia sendiri….

Rio menuturkan perjalanan hidup ayahnya. Ada nada kagum yang tersirat.

“Perjuangan itu menjadi kebanggaan ayah saya. Ia menjadi orang yang berhasil. Nah, anaknya malah jadi berandalan.  Sudah disekolahin malah tidak jadi apa apa.”

Rio mencoba bicara dengan ayahnya. Namun keduanya sama keras. Ego keduanya masih lantang bicara.

“Waktu itu saya ingin belajar Sastra Inggris di Cambridge. Tapi ada satu persyaratan yang mengharuskan saya sekolah lagi. Tapi saya tidak mau,” kata Helmi. Ia berangkat memang, tapi lalu justru menghilang. 

“Malu kalau saya cerita tentang itu,” kata Rio, disusul tawanya yang menggema di ruang café nya.

Berbekal uang 500 dollar, saat itu, Rio akhirnya mengelana ke tempat-tempat yang memanggil dirinya untuk datang. Satu tahun berlalu hingga dua tahun Menumpang truk, menyusuri India, Afganistan, Turki, Iran hingga Yunani.

“Jujur saya tidak tahu apa yang saya cari saat itu. Kalau saya ingat lagi, bukan saya korban dari situasi itu. Tapi ayah sayalah korban dari kekurangajaran saya,” ujar Rio.

“Tapi saat itu saya masih muda. Orang muda sering tidak berpikir tentang orang lain, selain dirinya sendiri,” katanya seakan mencari pembenaran.

Dalam perjalanan pencariannya itu, Rio mengalami dan melihat banyak hal. Namun saat itu, ia belum berteman dengan kamera. Hingga sejumlah momen yang mengesankan dan penting lewat begitu saja bersama berlalunya waktu.

“Perjalanan saat itu sangat luar biasa,” kata Rio.

Saat bermukim di Australia, Rio yang mempelajari fotografi secara otodidak, menjadikan medium itu sebagai salah satu caranya berkomunikasi.

“Lucunya, fotografi terasa aneh bagi saya. Sesuatu yang besar dalam kehidupan saya, tapi bukan yang utama,” tutur Rio.

“Yang utama bukan pada fotografinya, tapi lebih pada apa  yang ingin saya sampaikan. Sikap kita, pencarian kita.”

Maka setelah 40 tahun menekuni fotografi, bidang itu menjadi kehidupannya.

“Fotografi sudah menjadi kebiasaan untuk saya. Ada frame, alur, gerak. Semuanya sudah menjadi semacam bagian hakiki saya. Tetapi itu hanya medium. Saya merasa ada pergeseran visi dalam diri  saya. Sehingga, pencarian dan pertumbuhan diri kita sendiri, menjadi lebih penting,” ujar Rio. Ia menolak anggapan bahwa dirinya telah melalui serangkaian pelarian dalam hidupnya.

“Pelarian tidak sama dengan pencarian. Beda,” tegasnya.

“Tidak ada yang dibawa kembali dari sebuah pelarian. Tidak ada yang disampaikan. Tidak ada yang dicari. Tidak ada yang diupayakan.”

“Orang pikir saya melakukan perjalanan adalah melarikan diri, ngabisin duit. Bullshit. Itu nggak benar. Mereka nggak tahu. Kalau lari ya ke Paris atau kemana. Tapi saya tidak. Dan saya tidak tertarik sama sekali dengan pelarian,” kata Rio berapi api.

“Kalau mau bicara tentang membebaskan diri dari kebodohan, iya.”

Jadi, merasa bodohkah Rio Helmi atas keputusan demi keputusan yang telah diambilnya?

“Saya kira semua orang punya kebodohan yang kita bawa sendiri-sendiri. Kebodohan yang membuat kita terbatas,” ujarnya.

Rio Helmi tidak perlu melihat dirinya dari luar. Ia benar-benar menjadi hakim atas dirinya sendiri. Perjalanan hidup dan waktu membuatnya bisa menjadi hakim yang adil atas dirinya sendiri.

“Saya berani melakukan banyak pengorbanan dan perjalanan demi sesuatu yang saya cari,” ujar Helmi yang mengaku tidak pandai berbisnis.

“Saya tidak pintar dalam hal duit. Bisnis café ini pun sambil jalan saja. Saya tidak berharap bisnis ini bikin saya kaya. Bahkan saya tidak pernah kaya dengan fotografi. Orang pikir saya kaya. Enggak. Saya tidak kaya sama sekali.”

Terkadang, Rio bahkan mengutuki dirinya sendiri.

“Gila nih, saya sudah seumur segini, tidak punya pensiun sama sekali,” ujar pria kelahiran 1954 ini.

“Saya punya asset, tapi tidak banyak. Ada tanah di gunung, kelak saya mau hibahkan ke yayasan. Emang saya mau bawa duitnya kalau saya mati. Kan enggak.”

Sudah lebih dari tiga dekade Rio Helmi bermukim di Bali. Ubud menjadi rumahnya. Ia menguasai setidaknya lima bahasa. Ia bisa saja mengaku tidak kaya. Tetapi karya-karya Rio Helmi, berbicara dengan sendirinya.

“Dalam bingkai kamera, Anda bisa melihat obyek yang Anda incar. Jika Anda jeli, Anda juga bisa melihat celah-celah yang memungkinkan terjadinya dinamika pada sebuah momen. Dinamika itulah yang saya cari dalam realita yang saya kejar. Itu untuk foto serius ya, bukan selfie,” ujarnya.

Maka dari rangkaian dinamika yang dikejarnya selama inilah, Rio Helmi menjadi saksi atas semua yang terjadi pada lingkungan di sekitarnya.

“Sebodoh bodohnya saya, dan saya bukan antropolog, saya menyaksikan sendiri pergeseran itu,” ujar Rio yang kini juga mengelola websitenya sendiri, ubudnowandthen,com .

“Saya hadir dalam upacara-upacara mereka. Karena saya bukan orang yang intelektual, saya mengabadikannya dengan kamera. Lalu saya membuat gambar-gambar yang cantik. Bukan untuk mendapatkan tanda ‘like’. Tapi untuk memancing kesadaran,” ujar Rio.

“Saya melihat ada banyak pergeseran nilai budaya masyarakat Bali. Walaupun mereka mencoba bertahan. Saya bisa bersaksi karena saya sudah tinggal di sini puluhan tahun,”

“Lewat foto-foto yang saya buat, saya menunjukkan  ‘Ini lho. Ini yang mulai hilang dan hancur karena hotel-hotel kalian yang bangsat bertingkat tingkat!” tegas Rio dengan geram. Suaranya menggema di dalam ruang café nya.

“Saat ini Bali tengah diperkosa habis. Hancur. Saya tidak mau sebut lokasi persisnya yang mana karena nanti saya bisa digugat. Tapi ada banyak duit gelap yang masuk ke Bali.”

Sejenak, Rio diam. Suara kendaraan dan wisatawan yang lalu lalang di jalan Suweta Ubud, terdengar dari dalam.

“Kondisi seperti ini, sangat berpengaruh dan menekan satu kultur,” kata Rio lagi.

“Susah untuk menceritakan perasaan saya yang datang ke Bali puluhan tahun lalu, lalu jatuh cinta dengan pulau ini, yang sekarang menjadi kartun.”

“Inovasi itu penting. Tapi mengapa kita, manusia, lantas menjadi komoditi? Itu yang saya tidak pahami. Biarkan saja kultur berkembang sendiri,” gugatnya lagi.

“Sementara waktu, kita masing-masing harus jujur dan bertahan pada satu etika atau moralitas dimana kita tidak ikut membusukkan keadaan.”

            Tapi tidakkah Rio Helmi sebenarnya punya kekuatan untuk melakukan perubahan? Atau setidaknya melakukan tindakan yang mendekati itu?

“Kekuatan apa?” pria ini balik bertanya. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa. Semacam kewajiban setiap orang yang melakukan ekspresi. Mungkin saja ada power. Tapi siapalah saya?

Rio Helmi bisa saja mengaku tidak memiliki daya apa apa. Tapi ia memiliki kamera, yang bisa membuatnya membekukan waktu dan merekam momen yang lebih berbicara daripada ribuan kata.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment