Home » Misi Besar Matt
Bagikan

Nominator Oscar 2016 lewat film ‘The Martian’ ini memiliki kepedulian besar terhadap masalah air bersih. Sebuah pertemuannya dengan seorang gadis dalam lawatannya ke Afrika, membuatnya melakukan tindakan nyata dan solusi yang cerdas atas masalah ini.

            Ketika dalam sebuah misi ke planet Mars, astronot Mark Watney terdampar di permukaan planet tersebut akibat badai, tidak ada hal lain yang harus dilakukannya kecuali mencoba bertahan hidup. Sambil menunggu bantuan yang baru akan tiba dalam hitungan tahun, Watney memutar otak. Bagaimana ia bisa menyediakan kebutuhan pangannya yang hanya terbatas selama kurang dari setahun.

Watney yang juga seorang pakar botani akhirnya berimprovisasi dengan tanah Mars. Tanah di planet yang gersang ters lalu disuburkannya dengan kotoran toilet. Air diproduksinya dengan mengesktraksi hidrogen dari sisa bahan bakar roket yang dioksidasi lewat proses pembakaran dan kentang yang sengaja disimpannya untuk perayaan Thanksgiving.

Kisah astronot Mark Watney dalam film The Martian ini meraih tujuh nominasi Academy Award tahun ini. Matt Damon sendiri meraih nominasi sebagai aktor terbaik.  Nominasi tersebut tentu saja satu hal yang istimewa. Apalagi jika Damon berhasil menyambar piala Oscar tahun ini. Namun yang lebih istimewa, dalam kehidupan nyata, Matt Damon juga seorang pejuang lingkungan. Ia, bersama Gary White, mendirikan organisasi Water.org, melakukan kampanye global untuk pentingnya air bersih.

“Saat ini bumi tengah menghadapi masalah besar dalam hal sanitasi dan air bersih. Setiap 21 detik, seorang anak di bawah usia lima tahun meninggal karena kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi,” kata ayah dari empat anak ini.

“Kita tidak pernah menghadapi masalah seperti yang mereka hadapi karena kita dikelilingi oleh segala macam kemudahan untuk mendapatkan air bersih. Kita sepertinya tidak pernah kehausan.”

Keprihatinan Matt atas situasi tersebut muncul lebih dari satu dekade lalu. Saat itu, pada tahun 2000, Matt melakukan kunjungan selama 10 hari di Afrika. Matt melakukan pengamatan langsung mengenai komunitas miskin di benua tersebut dan mencari jalan apa yang bisa ia kontribusikan.

“Saat itu saya melihat orang-orang di sana hidup dengan air yang tidak layak dan harus mencari air yang layak dan mencurahkan seluruh waktunya demi bisa bertahan hidup. Anda bisa melihat seperti ada lingkaran kemiskinan dan kematian yang tidak bisa mereka hindari. Dan itu tentu saja berdampak pada anak-anak di sana, kehidupan dan mimpi-mimpi mereka seperti mendapatkan pendidikan yang layak, seakan pupus,” kata Matt.

Dalam kunjungannya tersebut ia bertemu dengan seorang gadis Zambia berusia 14 tahun. Matt lalu menemani gadis tersebut berjalan kaki selama satu jam untuk mencari air untuk keluarganya.

“Saya punya empat anak perempuan di rumah. Dan melihat para wanita, gadis dan anak-anak perempuan sering meninggalkan sekolah dan harus mencari air, sungguh menyentuh dan menggerakkan hati saya,” kenang Matt.

“Sepanjang jalan kami membicarakan rencana dan harapan-harapannya. Gadis itu ingin tinggal di kota dan menjadi seorang perawat. Saat itu, saya menyadari, jika tidak ada fasilitas air yang dibangun di situ, dia tidak akan bisa mewujudkan cita-citanya. Waktunya hanya akan habis mencari air,” katanya lagi.

Selanjutnya, pertemuan Matt dengan gadis tersebut menginspirasinya turut mendirikan Water.org. bersama Gary White. Organisasi amal ini membantu komunitas-komunitas miskin di Afrika, Amerika dan Asia Selatan untuk mendanai proyek-proyek jangka panjang dan mencari solusi yang berkelanjutan atas masalah air bersih.

Menjadi saksi atas kondisi masyarakat yang kekurangan air bersih di berbagai belahan dunia, membuat pemeran Jason Bourne dalam The Bourne Identity (2002) ini kian gencar berkampanye.

“Tahukah Anda bahwa ada sekitar semilyar orang di dunia yang setiap hari menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengais demi mendapatkan sedikit air untuk bertahan hidup setiap harinya?” kata Matt.

“Ada beberapa momen yang luar biasa setahun atau dua tahun lalu ketika kami mengunjungi Ethiopia. Saya melihat anak-anak menggali lubang dan mencari air. Dan air yang mereka dapat kotor sekali. Keruh seperti susu coklat. Kami lalu memasukkan air kotor itu ke dalam botol dan menyandingkannya dengan sebotol air bersih, memotretnya lalu mengunggahnya ke website,” kata Matt.

“Kami mencoba menunjukkan kepada orang-orang betapa kotornya air yang didapat anak-anak itu. Padahal mereka membawa air tersebut ke sekolah untuk bekal minum mereka.”

 “Kami mendengar keterangan dari pihak berwenang setempat tentang berapa jumlah anak-anak yang mati karena meminum air kotor tersebut. Sebenarnya mereka tahu bahayanya minum air kotor.  Tapi mereka tidak punya pilihan. Ketika saya melihat anak-anak seusia anak saya, tersenyum sambil membawa botol berisi air sekotor itu, dan saya tahu bahwa dia mungkin akan sakit atau malah meninggal karena meminum air kotor itu, benar-benar mengganggu perasaan saya,” kata Matt.

Gary White, mitra Matt dalam Water.org, tahu betul kegelisahan sahabatnya itu. Kepada Matt, Gary justru pernah menantang Matt.

”Aku tahu kamu ingin membuang air itu dari tangan mereka bukan,”  ujar Gary. “Tapi apa alternatif lain yang kamu tawarkan?”

Matt merenung. “ Berada di sana, sekaligus menyadari bahwa sekitar 6 meter di bawah mereka ada air yang bisa di minum tapi mereka tidak bisa mencapainya, rasanya sangat memprihatinkan,” katanya.

 “Kesadaran masyarakat atas krisis air global belum mampu membangkitkan perhatian yang selayaknya. Sepertinya memang sulit bagi kita yang telah terbiasa membuka keran dan mudah menikmati air bersih, untuk memahami situasi tersebut. Itu mengapa, bagi kami, menyebarkan kesadaran atas masalah ini, sama pentingnya dengan penggalangan dana itu sendiri,” ujar Matt.

Ia mengaku, hingga saat ini, organisasinya telah membantu lebih dari satu juta penduduk. Dan jumlah itu diprediksinya akan terus bertambah.

“Kami tidak sekedar masuk ke daerah lalu memberi contoh bagaimana membuat sumur lalu pergi setelahnya. Kami membantu komunitas lokal untuk menemukan solusi atas permasalahan air di lingkungan mereka,” kata Matt.

Ia mengaku dalam beberapa kali kunjungannya, ia melihat di beberapa tempat yang pernah dikunjungi oleh NGO, dibangun sumur-sumur yang memadai. Sayangnya,  setelah beberapa lama sumur-sumur tersebut rusak dan penduduk tidak bisa memakainya lagi karena mereka tidak bisa memperbaikinya atau tidak tersedianya suku cadang.

“Jika pun tersedia suku cadang, tidak ada orang yang bisa memperbaiki sumur tersebut.  Itu yang tidak kami inginkan. Yang kami cari adalah solusi yang lebih cerdas. Solusi yang diberikan harus terintegrasi dengan masyarakat lokal,” ujar Matt.

Matt sadar bahwatidak akan pernah cukup sumbangan di dunia ini untuk bisa menyelesaikan masalah air bersih yang diperlukan masyarakat miskin di berbagai belahan dunia. Yang diperlukan adalah solusi yang cerdas.

“Salah satu cara cerdas yang dicetuskan oleh Gary adalah WaterCredit,” ujar Matt yang mengakui ide ini terinspirasi oleh microfinance, dimana penduduk akan diberikan dana pinjaman untuk membuat fasilitas air bersih yang layak untuk minum dan kebutuhan sanitasi. Ketika mereka berhasil mengembalikan pinjaman tersebut, dana lalu disalurkan ke pihak lain yang membutuhkan.

“Yang diperlukan saat ini adalah usaha keras, tenaga, pemikiran. Menarik sekali ketika kita bisa menjadi katalisator bagi penyelesaian masalah seperti itu, dan menyatukan semuanya. Tidak ada acara instan untuk menyelesaikan masalah air yang sudah menjadi masalah besar dan kompleks. Ada banyak solusi yang harus disesuaikan dengan kondisi setempat,” kata Matt. Ia merasa dirinya dan Gary cukup ambisius.

“Kami membayangkan semua orang di dunia ini memiliki akses yang sama untuk mendapatkan air bersih. Kenyataannya masih banyak orang yang tidak memiliki akses tersebut. Kami yakin bisa mencari solusi untuk masalah tersebut. Dan semakin banyak orang yang terlibat, semuanya akan berjalan lebih cepat,” kata Matt yang semakin gencar berkampanye menjelang Hari Air Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret.

“Bayangkanlah, ketika Anda memberikan air bersih kepada mereka yang membutuhkan, dan Anda melihat mereka sangat gembira menerima pemberian itu, Anda akan merasakan kebahagiaan yang jauh lebih besar,” kata Matt.

Berkontribusi lewat Water.org

Pada tahun 2006, Matt Damon mendirikan H2O Africa setelah melihat sendiri krisis air di benua tersebut, kala menggarap sebuah proyek film. Matt bertemu Gary White dalam acara Clinton Global Initiative. Gary telah memulai aktivitasnya sejak tahun 1990an ketika ia mendirikan WaterPartners International. Pada tahun 2003, Gary memulai program WaterCredit yang bertujuan untuk menghimpun lebih banyak dana guna membantu lebih banyak keluarga yang membutuhkan.

Ketika Matt bertemu Gary dalam Clinton Global Initiative, keduanya menyadari bahwa mereka memiliki ketertarikan yang sama dalam memandang krisis air global. Setelah beberapa kali mengerjakan proyek bersama, Matt dan Gary akhinya menyatukan kekuatan keduanya dan mendirikan Water.org pada tahun 2009.

Hingga tahun 2015 lalu, Water.org telah berhasil membangun akses air bersih dan sanitasi bagi lebih dari 3 juta penduduk di seluruh dunia, seperti di wilayah-wilayah  Afrika, Amerika latin dan Karibia serta di Asia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, Water.org memulai kegiatannya pada tahun 2013. Sejak itu, Water.org Indonesia telah bermitra dengan empat lembaga microfinance untuk menyediakan pinjaman untuk proyek air bersih dan sanitasi.

Untuk mengetahui bentuk kontribusi yang bisa Anda berikan, kunjungi situsnya: www.water.org .


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment