Home » Ayah Teladan
Bagikan

Sebuah inspirasi dari seorang pria yang bertekad menjadi ayah yang lebih baik dengan makan malam bersama keluarganya selama setahun penuh – Anda pun bisa mencontohnya

Saya tahu ada yang salah dalam hidup saya ketika suatu pagi anak perempuan saya membangunkan saya dan bertanya apakah saya baru saja kembali dari Kansas City, padahal selama seminggu itu, saya selalu tidur di rumah. Saya memang punya dua pekerjaan –pulang pergi ke Midwest, sambil mengajar di sebuah sekolah hukum di Manhattan– dan saya bisa menghitung dengan satu tangan berapa kali saya makan bersama keluarga sepanjang tahun sebelumnya.  Setiap malam setiba saya di rumah, semuanya sudah tertidur, sementara keesokannya saya harus berangkat pagi-pagi sebelum mereka terbangun. Ini bukan hidup yang saya bayangkan sewaktu saya dan istri lulus kuliah beberapa tahun yang lalu, menikmati kebersamaan saling berbagi makanan dari satu panci. Keadaan ini harus diubah!

            Saya juga mendapatkan bahwa duduk bersama di meja makan dengan anak-anak membantu mereka tetap gesit, sehat, dan komunikatif, seperti yang disarankan sejumlah ahli. Yang paling penting, saya tahu saya butuh sebuah cara agar hari-hari saya tidak berlalu begitu saja sehingga saya tidak perlu bangun suatu pagi mendapatkan anak-anak saya telah beranjak dewasa tanpa saya dalam kehidupan mereka.  Jadi saya membuat peraturan ini untuk diri saya sendiri: Saya akan makan malam bersama keluarga setidaknya lima malam seminggu selama setahun dan berbagi tugas secara adil dalam berbelanja, berbenah, dan memasak. Mudah, kan?

            Tentu saja mudah, hanya saja, dua jam perjalanan saya ke New York dan bolak-balik ke Midwest begitu menyulitkan. Saya harus berhenti dari salah satu pekerjaan, putus saya, belajar hidup cukup dengan gaji yang lebih sedikit, dan menerima kenyataan bahwa seorang pria tak bisa hanya singgah sejenak dalam hidup anak-anaknya (dan istrinya) seperti seorang ksatria putih dengan pedangnya dan berharap mendapatkan pujian dan sorakan. 

            Pada akhirnya, bagaimanapun juga, saya belajar bahwa seorang pria dapat melakukan apapun yang diharapkannya, selama istrinya tidak mengusirnya. Tiba di rumah tepat waktu, contoh yang paling gampang. Berbelanja dan memasak mungkin lebih sulit, apalagi membuat anak-anak mau makan, wah, itu hal yang paling sulit. Butuh beragam trik dan kesabaran lebih banyak untuk membujuk mereka makan, sampai akhirnya mereka datang dan mengajukan satu pertanyaan: “Hei, Yah, makan malamnya apa nih?” Di bawah ini beberapa strategi yang saya pelajari selama ini.

Bikin Tema

Entah itu “Aksi Cowboy” atau “Hawaian Night”, kreatiflah. Lalu berpakaianlah sesuai tema dan bawa cukup pernak-pernik untuk seluruh anggota keluarga.  Ini salah satu cara yang bagus mengajarkan anak Anda perbedaan budaya dan ragam masakan sementara menertawai ayah mereka yang mengenakan pakaian lucu.

Menu Sarapan untuk Makan Malam

Agar anak-anak tidak bosan, sesekali ubah menu makan malam mereka dengan menu sarapan.  Mereka pasti tak akan menolak panekuk yang lezat, apalagi kalau mereka boleh makan malam memakai piyama.  Gara-gara ini, baru sekali itu anak laki-laki saya mau makan telur dadar. Pagi harinya, dia malah mau pizza.  Bayangkan!

Sambil Menonton Televisi

Makan di depan televisi bisa menyenangkan. Rencanakan acara nonton film malam hari bersama seluruh keluarga, lalu buat perbincangan seru film yang baru Anda tonton. Dibandingkan dengan film-film sekarang, film klasik dari tahun 70-an dan 80-an ternyata lebih disukai anak-anak.

Berbagi Makanan Kesukaan

Jika masing-masing membawa makanan kesukaan, berarti semuanya pasti mau makan. Dengan cara ini anak-anak juga diajar bagaimana merencanakan makanan mereka sendiri. Bahkan salad berisi hanya selada semangkuk penuh pun adalah permulaan yang baik. Ketika anak perempuan saya yang berumur 8 tahun memasakkan mie untuk semuanya, saya membantunya merebus.

Fleksibel

Anda memang tak selalu harus makan bersama di rumah. Bila Ayah (atau Ibu) bekerja lembur, lakukan “piknik” di kantor. Selain bos Anda bisa menghargai komitmen Anda terhadap pekerjaan, rekan-rekan kerja Anda pun bisa ikut berpesta, sementara makanan yang Anda siapkan dari rumah malah lebih sehat dibanding makanan pesanan dari restoran Cina di ujung jalan sana.

Cameron Stracher adalah penulis Dinner With Dad: How I Found My Way Back to the Family Table.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment