Waktu 24 jam mungkin terasa kurang bagi Vice President Sales jam tangan Frederique Constant, Niels Eggerding, dalam mengelola bisnis global tersebut. Ia punya kiat jitu untuk sukses dan tetap hidup seimbang.
Untuk kedua kalinya, Niels Eggerding, Vice President Sales perusahaan jam tangan asal Swiss, Frederique Constant, mengunjungi Jakarta. Kedatangannya disambut cuaca terik Jakarta. Sepotong joke pun digulirkannya.
“Untuk orang Belanda seperti saya, berkunjung ke Indonesia seperti melihat warisan masa lalu,” Niels tertawa, tapi sejurus kemudian ia meluruskan. “Maaf, saya bercanda.”
Siang itu, ditemui di Nirwana Lounge Hotel Indonesia Kempinski, bersama perwakilan FJ Benjamin dan Time Intenational, Niels menghadapi jadwal wawancara yang padat. Setidaknya ada 6 media yang dijadwalkan bertemu dengannya. Sepotong guyonan seperti di atas untuk menawarkan kepenatan, rasanya patut dihargai.
“Kehangatan suasana di Jakarta atau Malaysia, membuat saya merasa seperti pulang ke rumah. Aneh memang tapi itu yang saya rasakan.”
Selama 14 tahun berkarir dalam industri jam tangan, Niels yang telah banyak mengunjungi berbagai negara, menyerap banyak pelajaran dari negara-negara yang pernah dikunjunginya.
“Periode ketika saya bekerja dengan Swatch, saya banyak belajar,” ungkap Niels.
Pria ini sempat berkarir selama sekitar 10 tahun sebelum ia pindah ke Frederique Constant. Bekerja dalam grup sebesar Swatch dengan sekitar 28.000 orang di dalamnya membuatnya merasa belajar di sekolah yang terbaik.
“Saya belajar bagaimana menjalankan atau tidak menjalankan sesuatu di dalam bisnis ini. Juga bagaimana bekerja dengan orang-orang. Dan ketika saya bepergian saya berusaha menyerap budaya yang berbeda dan mencoba beradaptasi.”
“Cara seperti itu memperkaya saya dengan nilai-nilai dan pengalaman dalam menghadapi tantangan. Anda bisa melakukannya untuk mengembangkan pasar, produk dan brand perusahaan Anda.”
Dan Niels termasuk orang yang tidak takut berubah haluan dalam bisnis demi mendapatkan pelajaran baru. Ia sempat mencoba berkarir di persuhaan mobile asal Belanda Vodafone. Namun pada akhirnya ia kembali lagi berkarir di industri jam tangan yang sudah menjadi minatnya sejak lama.
“Saya sudah mulai bekerja di industri ini sejak saya masih sekolah. Industri ini sangat menarik tidak hanya karena gemerlapnya, tapi karena saya menyukai seni pembuatan jam tangan.”
Minat itulah yang membuat Niels tidak bertahan lama berada di Vodafone dan memilih kembali ke akarnya, industri jam tangan.
“Saya akui, pengalaman saya bertambah ketika bekerja di Vodafone. Dan ini membekali saya dengan cara yang berbeda dalam menjalankan bisnis.”
Kedatangan Niels ke Jakarta awal Mei lalu, membawa salah satu seri dari Frederique Constant, Horological Smartwatch. Jam ini dianalogikan sebagai paduan teknologi Silicon Valley yang canggih dan tradisi pembuatan jam tangan Swiss.
“Sekitar 26 tahun lalu kami memulai brand ini dengan misi untuk menawarkan pilihan luxury bagi masyarakat. Kami memberikan akses luxury yang affordable. Kami memutuskan untuk menjalankan model bisnis yang berbeda. Lower margin, untuk very high finishing watch.”
“Itu juga yang kami lihat dari apa yang konsumen persepsikan tentang produk kami. Mereka melihat jam tangan yang bagus sekali. Dan ketika mereka melihat harganya, mereka semakin tertarik. Selain itu, Anda juga harus mendengarkan apa yang dibutuhkan pasar. Kombinasi semua itu bisa menjadi kunci kesuksesan sebuah produk dan brand.”
‘Keberpihakan’ Niels pada pasar memang terasa kuat sesuai dengan visi dan value bisnisnya. Ia bahkan sedikit memprotes eksistensi industri jam tangan Swiss yang dirasanya terlalu ‘arogan’dan hanya membuat jam tangan tanpa mendengarkan apa yang dibutuhkan pasar.
“Saat ini, konsumen memutuskan apa yang akan dibelinya. Dan bukan sebaliknya. Jadi kalau Anda pikir bahwa ketika Anda menciptakan jam tangan, lalu semua orang menyukainya, Anda salah besar. Anda harus mendengarkan baik baik apa permintaan pasar tentang apa yang mereka butuhkan.”
Niels terdengar memiliki keberpihakan yang kuat terhadap konsumen. Bisa jadi pengalamannya di industri jam tangan membuka matanya. Atau bisa saja ia pernah melakukan kesalahan dalam bisnis yang membuatnya harus belajar banyak.
“Saya selalu bilang, jangan pernah melakukan hal-hal yang akan Anda sesali setelahnya, tapi menyesallah karena tidak melakukan apa apa,” tegas Niels tanpa bersedia menyebutkan kesalahan yang pernah dilakukannya.
“Dalam hal ini, yang saya sesalkan justru kenapa tidak memulai lebih awal memasarkan Frederique Constant di sini? Pasarnya sangat prospektif dan berkembang,” kata Niels. “Tapi saya senang bisa menjadi yang pertama yang memulai di pasar besar ini dengan mitra yang tepat dan kuat.”
Menjalankan bisnis global seperti Frederique Constant dan memiliki sejumlah mitra strategis di berbagai belahan dunia, membuat Niels konon harus siap selama 24 jam.
“Ya, 24 jam adalah waktu yang krusial karena saya bertanggung jawab atas revenue perusahaan secara global. Saat saya tidur di Jenewa, bisnis di Amerika Serikat baru mulai aktif. Ketika saya di Jenewa tengah malam, Asia sedang mulai bangun,” ujarnya.
“Istri saya pernah bilang ‘Saya menikahi pria yang hidup dengan dunianya 24 jam setiap hari.’ Tapi karena saya sudah mengenal istri saya selama 18 tahun, dia bisa menerima saya,” kata pria penggemar snowboarding dan sepak bola ini.
“Kami tinggal di Prancis yang berbatasan dengan Swiss. Hanya sekitar 20 menit dengan mobil ke area ski dekat Mont Blanc. Saya sering mengajak keluarga saya bermain ski dan mengajari anak saya bermain snowboarding.”
Niels mengaku sangat menikmati waktu berlibur bersama keluarganya. Tapi sekali lagi, bisnis global yang dijalankannya, masih membuatnya harus mencuri curi waktu melihat jam tangannya, demi memantau bisnisnya.
Ini 5 kunci sukses Niels Eggerding dalam menjalankan bisnis global Frederique Constant, yang bisa Anda tiru.
Jurus hadapi tantangan
“Demi suksesnya bisnis ini, kami bekerja keras dan bekerja sama sangat erat dengan mitra mitra kami, Mendengarkan kebutuhan pasar lokal baik mitra kami maupun konsumen, dan mengantisipasinya serta mampu terus beradaptasi,” kata Niels.
Jalin kemitraan kuat
“Bisnis ritel sangat spesifik. Jika bisnis Anda melebar hingga keluar negeri, miliki mitra yang kuat. Tanpa itu, Anda tidak akan berhasil. Indonesia adalah salah satu pasar kunci, jadi kemitraan bisnis yang kuat akan sangat menguntungkan,” saran Niels.
Menang kompetisi
“Kompetisi di industri ini sangat ketat. Kami adalah perusahaan dengan brand unik, sangat independen, dan memiliki sumber daya yang kuat. Kami tumbuh sangat cepat sehingga membuat kami menjadi pesaing yang sangat menarik,” kata Niels.
Teamwork
“Sama dengan sepak bola, bisnis juga perlu tim yang solid. Saya mengelola tim secara global lebih dari 35 sales secara langsung, kami hanya bisa sukses kalau menjalankan bisnis ini sebagai tim,”
Mengelola manusia
“Saya sangat suka dengan pengelolaan SDM karena saya bisa melihat dan menunjuk sisi positif seseorang daripada menunjuk kekurangannya. Tempatkan orang-orang di tempat yang tepat, bisnis Anda akan berhasil.” Itu kunci dari Niels.
Sehat Optimal
Sering bepergian tidak membuat stamina Niels menjadi drop. Ia selalu menyempatkan diri untuk berolah raga di gym hotel atau berenang . “Perjalanan 24 jam saat bisnis membuat saya harus berolah raga,” ujarnya
