Theo Lekatompessy berhasil membangkitkan kembali perusahaan yang terkapar karena didera berbagai persoalan. Apa saja kiatnya?
Theo Lekatompessy bisa jadi hanya satu diantara segelintir petinggi bisnis yang berhasil melajukan bisnisnya, namun tidak banyak berkoar-koar. Ia bahkan membangkitkan perusahaan yang sudah berada di ambang kehancuran. Tapi sekali lagi, ia bukan pribadi yang banyak mengumbar kisah sukses.
“Menurut saya, itu belum terhitung sukses,” katanya dengan volume suara yang rendah. Ketika kami menemuinya siang awal April lalu di di kantornya di Gedung Granadi, , pria berdarah Ambon yang besar di Surabaya itu tampil sederhana dengan kemeja batik coklat lengan panjang. Sosoknya yang tinggi besar tampak sedikit kontradiktif dengan tutur katanya yang sangat santun. Tapi itulah Theo. Penampilannya bisa mengecoh bahwa dibalik kesedehanaannya, ia mencatat prestasi besar.
Pada awal 2012, Theo bagaikan personifikasi pepatah ‘tidak makan nangkanya, tapi menikmati getahnya’. Saat itu, ia ditunjuk sebagai Presiden dari PT Humpus Intermoda Transportasi Tbk (HITS) ia harus mewarisi perusahaan yang dirundung beragam persoalan. Mulai dari masalah finansial, hingga ancaman tuntutan hukum di negara-negara lain.
“Perusahaan itu ibarat orang yang sakit,” Theo memberi analogi.
“Perusahaan yang sakit itu sama seperti orang yang baru saja tertabrak. Berdarah. Jadi kita harus hentikan dulu pendarahannya. Agar ia tidak meninggal. Dalam perusahaan yang harus dibereskan adalah jangan sampai cash flow nya menjadi negatif. Seperti tidak mampu bayar gaji. Setelah itu ambil langkah kedua, menyetabilkan. Stabil itu artinya, rugi labanya harus diperhatikan. Angkanya tidak boleh merah, tapi harus hijau. Walaupun tipis, tapi itu harus.”
“Setelah perusahaan stabil, ibarat manusia yang habis sakit, dia perlu recovery dan belajar jalan. Untuk itu yang diperlukan adalah kaki kanan dan kiri yang kuat. Jangan sampai ambruk ketika berjalan. Bagi perusahaan neracanya harus sehat. Harus seimbang antara sisi kekayaan dan utang plus modal.”
Dengan volume suara pelan, seakan apa yang diungkapkannya adalah sebuah rahasia perusahaan, Theo menuturkan panjang lebar.
Adalah Humpuss, yang pada tahun 2006/2007, membuat keputusan manajemen di waktu yang salah dengan menyewa kapal dalam jumlah melebihi yang diperlukan. Faktanya, market tidak selamanya berpihak pada perusahaan ini. Dan cenderung menurun. Membaca kondisi itu, pihak manajemen mengambil tindakan cepat dengan mengembalikan kapal-kapal yang jumlahnya berlebihan kepada para pemilik. Akibatnya, para pemilik kapal yang tidak puas dengan kondisi ini melayangkan tuntutan hukum kepada Humpuss. Maka perusahaan itu harus menghadapai sejumlah tuntutan hukum di Singapura, New York dan London. Para pemilik kapal meminta ganti rugi karena kontrak determinasi sebelum berakhirnya kontrak. Masalah hukum menjadi berlarut-larut meskipun Humpuss sudah membayar harga sewa yang disepakati. Negosiasi pun dilalukan sejak 2008, hingga akhirnya Theo pun bergabung dengan grup perusahaan itu pada 2008.
Secara garis besar, di awal, Theo bekerja keras melakukan settlement di bidang hukum, lalu fokus melakukan repositioning dan mengembalikan Humpuss ke core business. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah stasiun televisi, Theo memaparkan bahwa secara cash flow perusahaan masih bisa survive karena masih dalam bisnis yang benar, ada cost subsidy dari LNG yang menutup rugi pada divisi lain.
Hanya butuh satu tahun, Theo membenahi semuanya dan menyelesaikan satu per satu persoalan yang mendera perusahaan tersebut. Tapi ia menolak semua keberhasilan itu adalah hasil kerjanya sendiri.
“Ini kerja tim,” Theo menegaskan.
Kejujuran Theo dalam mengakui kontribusi orang-orang di sekitarnya tampaknya patut diacungi jempol karena saat itu, ia harus membenahi bertubi-tubi permasalahan seperti perusahaan yang kolaps, jatuhnya semangat karyawan hingga perspekstif yang baur apakah Humpuss merupakan institusi bisnis atau politik.
“Saya harus bisa menglarifikasi itu. Dan saya tegaskan bahwa ini benar-benar bisnis, dan tidak ada keterkaitannya dengan politik,” kata Theo.
Saat ditunjuk menjadi President dari PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk sejak bulan Februari 2012, Theo sudah mengantongi sejumlah pengalaman berkarir yang mengesankan. Sebelum bergabung dengan Humpuss pada 2008, ayah dua anak ini pernah berkarir di sejumlah kelompok perusahaan ternama seperti Djajanti Group, Gajah Tunggal Group, dan Bakrie Brothers. Saat itu, Theo banyak berkecimpung dalam bidang Corporate and Finance Strategy serta bidang International Arbitration. Pria lulusan Erasmus University in Rotterdam, The Netherlands masih aktif dalam sejumlah organisasi alumni termasuk menjadi Chairman untuk Netherlands Alumni Association.
Catatan pendidikan dan pengalaman yang dimiliki Theo cukup panjang dan mengesankan, namun pria ini mengakui sulit menerka mengapa ia yang tertimpa durian runtuh membenahi perusahaan tersebut.
“Tidak mudah bagi saya untuk melihat diri saya sendiri. Saya mungkin masih berada pada level dimana lebih mudah melihat orang lain, daripada bercermin dan melihat diri saya sendiri,” kata Theo.
“Tapi kalau saya boleh menduga, modal pertama saya adalah kejujuran. Yang kedua, komitmen. Yang ketiga adalah reliable. Mungkin saya dianggap mampu menerjemahkan keinginan, pikiran, para stakeholder atau para pemangku kepentingan secara keseluruhan, dalam kehidupan perusahaan sehari-hari.”
Keyakinan menjadi kekuatannya. Karena menghadapi situasi yang dialami Theo ketika pertama kali menduduki posisinya kini dengan segudang masalah, ia harus yakin dengan kemampuan dirinya untuk membangkitkan perusahaannya dari keterpurukan.
“Pada hari pertama saya menangani perusahaan ini, saya pernah katakan kepada manajemen ‘lebih baik miskin tapi terhormat’. Karena kehormatan itu mahal harganya,” kata Theo.
“Saya beruntung bahwa sebelum di sini saya sudah sekitar empat tahun duduk sebagai managing director holding di Humpuss. Artinya, saat duduk di posisi ini, minimal saya sudah dikenal oleh para stakeholder. Mereka memberikan waktu kepada saya untuk membuktikan bahwa saya bisa menciptakan harapan dari sesuatu yang sebelumnya sudah tidak bisa diharapkan,” ujar Theo.
“Kenyataannya perusahaan masih bisa tertolong. Karena pada dasarnya, apa yang saya dan kawan-kawan lakukan itu adalah membuat kondisi yang awalnya minus menjadi nol. Dari nol ke positif. Lalu dari positif yang kecil ke positif yang lebih besar.”
“Sebagai CEO saya juga harus bisa membangun harapan bagi semua stakeholder. Kita harus betul-betul prudent. Jangan sampai salah lagi seperti dulu. Saya juga harus bisa membangkitkan harapan seluruh karyawan. Pemegang saham perusahaan kami juga berbeda. Usianya semakin matang. Cara berpikirnya juga sudah semakin panjang. Semakin stabil,” kata Theo yang mengaku ada banyak tawaran politis yang datang kepadanya.
“Itu kan hal yang dinamis, pasti ada tawaran seperti itu. Jujur kadang saya merasa terganggu. Saya bukan malaikat, sebagai manusia, saya juga terobsesi. Bermimpi. Mengharapkan. Itu wajar. Tapi kembali lagi, apa prinsip dan tujuan hidup kita,” pungkas Theo.
| Boks |
Filosofi dan Strategi Bisnis
Inilah sejumlah filosofi dan strategi bisnis yang dijalankan Theo Lekatompessy, Presiden dari PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk.
Jauhkan bisnis dari politik
Theo meyakini bahwa bisnis sedapat mungkin harus dijauhkan dari politik. Karena di dalamnya ada banyak stakeholder yang menggantungkan hidupnya pada bisnsi itu. Pada prnsipnya, kami tidak berpolitik. Kami hanyalah institusi yang didirikan untuk mencari profit.
Hindari PHK
Pengalaman Theo, ia tidak pernah melakukan PHK. Ia merelokasi orang-orang dari divisi cost center ke divisi-divisi anak-anak perusahaan yang mencari profit. Filosofi ‘mangan ora mangan kumpul’, itu bukan filosofi yang jelek, tapi itu komitmen kekeluargaan. Tidak sesuai untuk bisnis,” kata Theo
Perbaiki keadaan
“Saya diberi amanah untuk memperbaiki keadaan. Ibarat ayah saya harus adil. Saya tidak boleh menendang orang karena dia bukan saudara kandung, tidak satu universitas, dan lain lain. Yang tidak cocok, dipindah. Yang tidak mampu dibuat supaya mampu. Lakukan rotasi, sampai ketemu yang cocok.”
Dapatkan dukungan
Sebaik apapun program dan strategi yang akan Anda jalankan, tidak akan berjalan kalau Anda berjalan sendirian. “Anda harus dapat dukungan stakeholder, Anda juga harus dapat hati rekan-rekan kerja Anda,” kata Theo.
Lakukan penghematan
“Terus terang, kami sangat ketat saat itu, sampai kami juga tidak bisa minum kopi dan teh karena semua dibatasi. Minum air putih. Tiga tahun saya harus terbang dengan kelas ekonomi, meskipun saya harus pergi ke Eropa 15 jam atau 20 jam ke Amerika. Itu harus dijalani.”
Tumbuhkan harapan
“Tugas utama saya adalah menumbuhkan harapan baru. Seorang CEO harus membuka paradigma yang baru. Bahwa apa yang kelihatannya mati ujungnya akan mati, tapi bisa dihidupkan lagi. Menerjemahkan keinginan dari para pemangku kepentingan, memberikan warna bagi lingkungannya, memberikan kontribusi, memberikan harapan, menawarkan paradigman baru.
Menyiapkan penerus
“Sejak hari pertama saya dipercaya menangani perusahaan ini, tugas saya termasuk menyiapkan pengganti saya. Dengan melakukan pilihan, sortir, mana yang bisa siap 3 tahun lagi, mana yang siap 5 tahun lagi. Tergantung dari kemampuan adaptasinya. Sebagai pemimpin Anda harus memahami kemampuan adaptasi anggota tim Anda,” kata Theo.
Hati-hati dengan jabatan
“Karena jabatan itu amanah. Bukan hadiah. Jangan bersyukur ketika Anda dapat jabatan. Itu amanah berat yang harus Anda pertanggungjawabkan,” kata Theo “Jabatan juga bukan target. Tapi panggung. Orang akan melihat bagaimana Anda mempertanggungjawabkan jabatan tersebut, ketika Anda turun panggung.”
Membentuk teamwork
Pastikan dan katakan kepada team anda, apa yang akan Anda kerjakan dan apa yang akan Anda capai. Fokuslah. Bangun komunikasi yang baik antara satu dengan yang lain. Lakukan koordinasi yang kuat.
