Dengan bijak memilih sumber makanan yang sehat dan menyingkirkan daftar junk food dari menu harian keluarga, anak akan terhindar dari penyakit berisiko tinggi di masa mendatang.
Renyah, gurih, dan nikmat, begitulah rasa junk food ketika menggoyang lidah. Di balik rasa yang lezat itu ternyata menyimpan bahaya yang mampu membuat kita kecanduan. Makanan cepat saji ini didominasi oleh kalori, lemak jenuh, tepung, garam, gula halus yang tinggi, dan zat aditif seperti pengawet dan pewarna makanan. Makanan cepat saji sangat jauh dari kata menyehatkan. Bahkan, protein, vitamin, serat, dan nutrisi lainnya yang dibutuhkan untuk tubuh tetap sehat hampir tidak disediakannya. Sebaiknya, Anda tidak tertipu dengan penyajiannya yang menarik.
Salah satu faktor yang paling memengaruhi yaitu pola kehidupan yang serba bergerak cepat dan industri bisnis makanan yang tumbuh subur. Untuk mempermudah aktivitas dan menghemat waktu, secara tidak sadar, orangtua telah memperkenalkan kebiasaan untuk menyantap makanan yang cepat disajikan namun lezat kepada anak. Kebiasaan yang sudah kepalang basah ini membuat anak-anak berpikir bahwa makanan yang sehat adalah makanan yang lezat, bukan makanan yang bergizi.
Menurut Jo Lewin, pakar nutrisi pada Brighton & Hove Food Partnership, London, Inggris, junk food tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh anak-anak secara rutin karena tidak menyediakan kecukupan gizi.
Bahaya Junk Food
Seorang warga Inggris pernah mencoba membuktikan efek dari mengonsumsi junk food terhadap kesehatan tubuhnya. Ia makan junk food terus- menerus selama satu bulan. Ia memilih menu makanan cepat saji seperti pizza dan burger dari restoran-restoran ternama. Sebelum menjalankan program tersebut, ia dalam kondisi sehat dan tidak bermasalah berdasarkan hasil cek medis.
Selama program berjalan, perlahan, ia mulai merasakan efek yang tidak biasa pada tubuhnya. Level kolesterol dan tekanan darahnya meningkat, bahkan organ hatinya mulai memburuk. Pada akhir bulan, dokter memaksanya untuk menghentikan program tersebut. Ia pun memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal pada junk food.
Berdasarkan pengalaman tersebut, sebagian orang mungkin akan menyadari bahwa makanan cepat saji tidak menguntungkan untuk kesehatan. Namun, kenyataan yang paling menyedihkan adalah masyarakat justru mengabaikan bahaya ini. Bahkan, mereka semakin menyukai makanan cepat saji. Tak dipungkiri, restoran junk food pun kian menjamur.
Berbagai penelitian menemukan, junk food sangat berbahaya dengan adanya zat pewarna yang akan bereaksi secara negatif di dalam tubuh. Meskipun tidak terasa secara langsung, efeknya akan muncul justru di beberapa tahun yang akan datang. Efek buruk yang dihasilkan di antaranya kerusakan pada sistem pencernaan, menyebabkan hiperaktif, hingga penyimpangan konsentrasi pada anak-anak.
Di usia anak yang masih rentan terhadap penyakit, sering mengonsumsi junk food akan memperlambat pertumbuhan, merusak dan membuat gigi cepat busuk, menimbulkan obesitas, dan memperlemah daya tahan tubuh. Jika dibiarkan, di masa lanjut nanti mereka akan rawan terjangkit penyakit osteoporosis dan hipertensi. Bahkan, bisa menimbulkan penyakit yang tak tersembuhkan ataupun kematian di usia muda.
Lupakan Junk Food yang Lezat
Obesitas, kata itu sangat menakutkan para orangtua. Terutama jika terjadi pada anak-anak mereka. Berdasarkan penjelasan Eric Finkelstein, Research Professor of Global Health dan Associate Professor pada Duke-National University of Singapore, obesitas terjadi karena asupan makan yang tidak seimbang dengan aktivitas fisik. Dengan kata lain, anak banyak makan tetapi aktivitas geraknya sedikit. Pada umumnya, semua sumber bahan pangan yang dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan obesitas.
Di antara sumber makanan, junk food merupakan salah satu pemicu terbesar dalam memicu terjadinya obesitas karena minimnya kandungan gizi. Banyak makanan terasa lezat, tapi tidak menyehatkan. Tidak hanya obesitas, sejumlah risiko penyakit berbahaya akan menyerang anak melalui sejumlah makanan popular. Berikut ini daftar makanan populer yang sebaiknya Anda jauhkan dari anak.
- Nugget
Makanan ini termasuk dalam daftar favorit anak-anak. Nugget biasanya tersedia dalam bentuk potongan daging ayam dan kulit ayam. Di dalamnya terkandung garam dan fruktosa sirup jagung (HFCS) yang tinggi untuk mempersedap rasa. Selain itu, juga terkandung zat pengawet di dalamnya supaya tidak lekas busuk. Nugget dimasak dengan cara digoreng dalam minyak terhidrogenasi yang mengandung lemak jenuh yang tinggi.
Anda pun akan menikmati setiap gigitannya yang krunchy sambil dicocol ke dalam saus atau mayones. Tidak diragukan lagi, nugget adalah makanan lezat tanpa nutrisi karena hanya mengandung kalori dan lemak.
Di samping itu, nugget juga mengandung garam (sodium/natrium) yang tinggi. Karena itu, cobalah memasak daging ayam dengan dipanggang atau dibakar. Anda dan istri juga bisa mengajak anak untuk membuat nugget sehat dari campuran daging ayam atau sapi dan sayur-sayuran. Anak juga bisa ikut berkreasi untuk membentuk nugget sesuai imajinasinya dengan bentuk-bentuk menarik.
- Sereal Manis
Beberapa anak sangat menyukai sereal manis. Namun, Anda perlu waspada karena beberapa sereal diproduksi dengan menggunakan pengawet kimia, minyak terhidrogenasi (mengandung lemak tinggi dan zat pengawet), dan pewarna buatan.
Meskipun sereal bisa menjadi alternatif pengganti sarapan, tapi kandungan gizinya tidak lengkap. Selain itu, gula yang terdapat di dalam sereal dapat merusak gigi sehingga gigi harus segera dibersihkan segera setelah makan.
Sajikanlah sereal gandum sebagai pilihan terbaik untuk sarapan anak Anda. Anda dapat membuatnya lebih lezat dengan menambahkan kacang, kismis, buah, atau irisan pisang.
- Hot Dog dan aneka olahan daging
Tidak diragukan lagi bahwa hot dog, dan berbagai olahan daging mampu menaklukkan lidah anak-anak. Orangtua wajib berhati-hati karena berbagai olahan daging tersebut dipenuhi dengan zat nitrat dan nitrit yang menyebabkan kanker, pewarna buatan, zat pengawet, lemak jenuh, dan sodium. Nitrat dan nitrit ini pada umumnya digunakan sebagai pengawet, pewarna, dan penyedap untuk daging asap dan produk sejenis.
Studi yang dimuat di dalam Journal of American Medical Association dan Journal of National Cancer Institute menyatakan bahwa terlalu banyak mengonsumsi hot dog dan berbagai olahan daging yang diawetkan akan memicu risiko kanker usus besar, kanker perut, dan kanker pankreas.
Sebuah studi di Los Angeles, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa anak-anak yang makan 12 porsi hot dog per bulan berisiko tinggi terkena kanker darah (leukemia). Karena itu, cobalah mengolah daging ayam atau ikan yang masih segar dan dimasak dengan cara dibakar atau dipanggang. Sementara, untuk sandwich–nya, gunakan roti gandum atau biskuit rendah lemak.
- Jus
Segelas jus menghasilkan kalori yang berasal dari gula dan karbohidrat, tetapi tidak memiliki serat seperti yang akan Anda temukan dalam buah utuh. Konsumsi jus secara berlebihan dapat menyebabkan obesitas dan kerusakan gigi pada anak-anak. Sesuai rekomendasi dari American Academy of Pediatrics, 4 sampai 6 ons (Sekitar 114 ml-170 ml) jus adalah ukuran ideal untuk dikonsumsi anak di bawah 6 tahun. Sedangkan, 8 sampai 12 ons (sekitar 230 ml sampai 350 ml) untuk anak di atas 6 tahun. Karena itu, janganlah terlalu sering memberikan jus kepada anak, terutama jus kemasan praktis.
Jelaskanlah pada anak bahwa meneguk air mineral sangat penting. Air mineral mampu membantu mempertahankan keseimbangan antara asupan air yang masuk dan keluar. Dengan demikian, fungsi organ-organ tubuh tidak mudah menurun dan tidak mudah terganggu oleh bakteri dan virus. Pilihan minuman lainnya yang menyehatkan yaitu susu rendah lemak sebagai sumber kalsium, protein, dan Vitamin A.
- Kentang Goreng dan Keripik Kentang
Kentang goreng adalah camilan populer di kalangan anak-anak. Padahal, makanan ini mengandung lemak, kalori, dan garam yang tinggi. Proses pematangannya pun dengan digoreng menggunakan minyak terhidrogenasi yang mengandung lemak. Opsi lain yang bisa Anda pilih untuk menghindari kentang goreng yaitu berikanlah irisan wortel atau hidangkanlah kentang panggang yang dimasak menggunakan sedikit minyak zaitun.
Sementara itu, keripik kentang pun mengandung kadar lemak jenuh dan garam yang tinggi. Keripik kentang juga diproses menggunakan akrilamida, zat yang biasan digunakan dalam industri kertas dan kosmetika. Akrilamida dalam jangka waktu lama akan menyebabkan kerusakan pada jaringan saraf, mengganggu reproduksi, dan akan memicu kanker. Sementara, pada keripik kentang yang rendah lemak mengandung olestra yang bisa mengakibatkan kekurangan gizi dari beberapa vitamin dan nutrisi seperti vitamin A, D, E, dan K.
Pada 2002, The Swedish National Food Authority menyatakan bahwa akrimalida banyak ditemukan di dalam kentang yang diproses dengan pemanasan tinggi (di atas 1.200° Celcius. Kandungan akrilamida pada keripik kentang sebesar 1.200 mg/kg dan kentang goreng sebesar 450 mg/kg.
Kentang merupakan sumber karbohidrat yang dapat dikonsumsi sebagai pengganti nasi, tetapi jika sudah digoreng kandungan lemak dan garamnya menjadi tinggi. Sebagai pengganti keripik kentang, masaklah potongan sayuran atau keripik kentang yang segar dengan cara dipanggang.
- Donat
Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun menyukai donat. Sayang, roti berbentuk bulat ini memiliki nutrisi yang rendah. Donat dibuat dengan kandungan lemak dan gula yang tinggi. Meskipun berupa roti, janganlah hidangkan donat sebagai sarapan. Sebaliknya, pilihlah roti gandum untuk sarapan karena bebas gula.
- Pizza
Makanan khas Italia ini terdiri dari topping berupa pepperoni dan sosis yang mengandung nitrat dan nitrit karsinogenik yang bisa memicu kanker. Banyaknya takaran keju dalam seloyang pizza juga menambah kalori. Bagi Anda yang menyukai pizza, pilihlah pizza berbahan dasar gandum. Apabila Anda ingin membuatnya sendiri, bubuhilah potongan daging ayam dan sayuran segar sebagai topping, lalu panggang.
Akan tetapi, menurut Finkelstein, makanan dari daftar tersebut boleh dikonsumsi sesekali, asalkan tidak berlebihan. Pada prinsipnya, orangtua sebaiknya memberi menu makanan utama untuk anak dengan zat gizi seimbang dan terpenuhi. Zat gizi tersebut bisa diperoleh dari sumber karbohidrat seperti nasi, roti, mie, kentang; sumber protein dan lemak seperti ikan, telur, ayam, tahu, tempe, sumber vitamin dan mineral seperti sayur dan buah. Semua makanan sumber gizi itu sebaiknya diolah secara sehat.
Jika ingin menanamkan pola makan yang sehat terhadap anak, Anda berkewajiban untuk memberi contoh. Anak mudah meniru setiap perilaku orangtuanya. Ketika Anda menjalani gaya hidup sehat, anak-anak Anda akan belajar untuk melakukannya. Janganlah ragu untuk melibatkan anak dalam menyiapkan makanan. Kegiatan tersebut akan memudahkan si anak dalam memahami pilihan makanan yang baik dan yang tidak baik untuk kesehatannya. Agar anak terbiasa memilih makanan yang sehat, orangtua juga harus ikut makan bersama-sama dan mencontohkan yang tepa
Bebas DARI Junk Food
Sulit bagi kita untuk menjauhkan anak-anak dari junk food karena momok menakutkan itu ada di sekitar mereka. Mulai dari iklan di televisi ataupun dari para penjual yang kerap mangkal di luar gerbang sekolah dan berkeliling mengitari kompleks rumah. Karena itulah, para orangtua dituntut untuk mencari cara-cara yang kreatif dan efektif untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari junk food. Berikut langkah yang dapat Anda lakukan.
- Biasakan anak makan sehat
Perkenalkan sumber makanan yang bernutrisi dan bergizi, terutama ketika ia mulai belajar makan sendiri. Sediakanlah buah-buahan sebagai camilan, sayur-sayuran sebagai menu makan, dan susu sebagai pelengkap kebutuhan gizi. Jangan merasa bersalah ketika Anda membiarkan anak menyantap makanan yang sehat karena itu adalah tindakan yang tepat.
- Atur strategi
Jangan pernah memberikan junk food sebagai hadiah atas hal-hal baik yang telah mereka lakukan. Hindarilah permintaan anak yang berharap supaya pesta ulang tahunnya dirayakan di restoran junk food. Carilah rumah makan yang menyediakan menu makanan menyehatkan di saat Anda ingin merayakan peristiwa tertentu.
- Kreasikan bekal makan anak
Bawakan bekal untuk anak supaya mereka tidak jajan sembarangan di sekolah. Anda bisa mengawasinya sesekali dari jauh atau meminta informasi dari guru untuk memastikan bahwa anak benar-benar menyantap bekal dari rumah. Tuangkanlah ide-ide kreatif Anda dalam mendesain tampilan setiap makanan supaya anak-anak tertarik tidak hanya pada rasanya, tapi juga terhadap sajiannya yang menarik.
- Berikan informasi
Ceritakan kepada anak mengenai efek buruk junk food terhadap kesehatan tubuh. Gambarlah semacam infografis yang menarik mengenai sumber makanan yang bergizi dan yang tidak bergizi, serta efeknya. Pajanglah di dinding kamarnya supaya anak bisa memandang dan mempelajarinya setiap hari.
- Ajak anak untuk bergerak
Anak perlu untuk bergerak, misalnya berolahraga. Jelaskanlah pada mereka bahwa melakukan aktivitas fisik sangat bermanfaat untuk kesehatan. Jangan lupa bahwa orangtua merupakan kunci dari setiap perilaku anak. Maka, terapkanlah pola hidup yang sehat supaya anak bisa menirunya.
- Batasi jam menonton televisi
Tayangan iklan di televisi semakin menampilkan kemasan yang menarik dan menggoda, terutama makanan dan minuman junk food. Karena itu, Anda sebaiknya membatasi jam menonton televisi bagi anak dan mengajaknya untuk melakukan kegiatan lain yang mengasah bakat dan keterampilan.
