Home » Akhir Pekan Sempurna
Bagikan

Tidak ada akhir pekan yang lebih sempurna bagi pria seperti Anda – dan juga Chris Columbus – selain melewatkan waktu bersama keluarga tercinta.

            Pertengahan Juni lalu, Best Life berkesempatan menemui langsung sutradara film, Chris Columbus dalam event Summer of Sony di Cancun Mexico. Dalam acara tahunan yang digelar Sony Pictures Entertainmet tersebut, Chris, bersama para pemain film Pixels – Adam Sandler, Michelle Monaghan, Kevin James, Josh Gad dan Peter Dinklage – mempromosikan film garapannya yang paling dinantikan saat ini.

            “Ketika Adam memberi saya script film ini, saya tidak tahu apa yang sedang saya baca. Saya membacanya di pesawat dalam perjalanan ke San Fransisco dan saya pikir ini naskah yang sangat unik dan orisinil dalam lima tahun terakhir yang saya baca,” ujar Chris Columbus dalam sebuah wawancara, di sela-sela padatnya acara Summer of Sony.

“Yang paling menarik adalah saya membuat film ini di tengah musim panas dimana ada banyak film film superhero dan sekuel bermunculan. Saya sangat bersemangat,” kata Chris lagi.

Tentu saja ia sangat bersemangat karena Pixels seakan membawanya kembali ke masa saat ia menggarap film-film seperti Goonies (1985) dan Gremlins (1985) bersama Amblin dan Steven Spielberg.

“Ya film film semacam itu. Saya ingin penonton bisa merasakan suasana itu ketika datang ke bioskop untuk melihat Pixels. Rasanya kami bisa benar-benar mewujudkan hal itu.”

Sama halnya dengan film-film keluarga yang pernah digarapnya seperti Home Alone (1990), Stepmom (1998), Mrs. Doubtfire (1993), Night at the Museum (2006) hingga petualangan  Harry Potter, suasana keluarga dan petualangan juga terasa dalam Pixels. Dari puluhan film garapannyaa, Chris seakan mendedikasikan karyanya bertema keluarga. Apakah ia terobsesi dengan kehangatan keluarga?

Dalam sebuah wawancara yang dilakukannya dengan The Guardian, Chris sempat mengisahkan tentang perjalanan keluarganya. Ia lahir di Spangler, Pennsylvania, sebagai anak semata wayang dalam keluarganya. Ayahnya, Alex Columbus, bekerja sebagai penambang batu bara, dan ibunya, Irene, adalah seorang buruh pabrik.

“Saya tumbuh dalam keterbatasan. Saat itu, saya hanya tertarik pada buku, komik dan film, hiburan yang reltif murah kala itu,” kata Chris yang sempat berpindah pindah tempat bersama kedua orangtuanya.

Ia masih ingat petuah ayahnya: ‘Jangan pernah mengerjakan pekerjaan yang kamu benci.”

Beruntuntunglah, Chris tidak seperti ayahnya yang jelas membenci pekerjaannya sebagai buruh tambang yang lalu beralih menjadi pekerja pabrik aluminium di Ohio. Chris yang terlanjur jatuh cinta pada film berhasil memperoleh beasiswa NYU.

Tapi nasib seakan masih menghendaki Chris untuk belajar tentang kehidupan. Ia lupa menandatangani beberapa surat perpanjangan bea siswa. Akibatnya, bea siswa sempat terhenti dan ia terpaksa harus bekerja di pabrik aluminium tempat ayahnya bekerja, sepanjang musim panas.

“Saat itu saya sempat menulis skenario ketika saya bekerja shift malam,” kata Chris yang menulis skenario nya secara sembunyi-sembunyi di antara gulungan-gulungan aluminium raksasa, agar tidak ketahuan pengawas pabrik.

“Saya benar-benar ingin keluar dari situ,” kata Chris. Ia lalu  mengirimkan skenarionya itu kepada seorang dosennya di NYU yang lalu menawarkan karya Chris tersebut kepada sebuah agen.

“Saya terselamatkan oleh skenario itu. Jadi saya tidak harus menghabiskan sepanjang hidup saya bekerja di pabrik itu, di kota itu,” kata Chris. Lewat pengalamannya itu, Chris kelak bisa menasehati anak-anaknya, ‘Do something you really love.’

Sang raja film keluarga ini, menikahi istrinya, Monica Deveraux pada 1983. Keduanya memiliki 4 anak. Keluarga besar, seperti sebuah ‘balas dendam’ tersembunyi bagi Chris yang hanya menjadi anak tunggal dalam keluarganya.

Meskipun pernah tumbuh dalam keluarga miskin, tidak lantas membuat Chris memanjakan keempat anak mereka,

“Istri saya sendiri yang mengasuh keempat anak kami. Kami tidak pernah pergi berdua saja, karena kami selalu ingin berada dekat anak-anak kami,” kata Chris bangga.

“Anda mungkin melihat ada banyak anak-anak Hollywood yang dibesarkan oleh pengasuh, tapi kebanyakan dari mereka tidak bahagia.”

Mengasuh empat anak, selain tanggung jawab, juga memberinya inspirasi. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Chris juga menulis buku. Novel pertamanya,  House of Secrets,  diterbitkan oleh Harpercollins pada 2013 lalu. J.K. Rowling, penulis serial Harry Potter dan juga sahabat Chris, karena keduanya berkolaborasi memfilmkan Harry Potter, memberinya saran istimewa tentang buku  itu.

“Alurnya sangat cepat. Kamu perlu membuatnya sedikit lambat, perdalam karakter-karakter dalam buku itu, dan buatlah lebih kompleks.”

Chris berterima kasih atas saran J.K. Rowling yang disapanya dengan panggilan ‘Jo’ itu.

“Saya hanya menulis berdasarkan pengalaman saya sebagai ayah,” kata Chris.

“Saya sudah membesarkan empat anak. Dan selama ini, saya sudah banyak melihat percakapan saat makan malam, pertengkaran demi pertengkaran, anak-anak saling ganggu, serta merasakan kedekatan dan cinta mereka satu sama lain.”

Kini anak-anak Chris dan Monica mulai beranjak remaja. Masa-masa menyenangkan yang mereka lalui bersama, perlahan mulai berubah.

“Ya, mungkin dulu saya adalah ayah yang paling asyik sedunia, saat saya masih menggarap Harry Potter, dan kami sempat tinggal di Inggris, saat itu mereka masih anak-anak,” kenang Chris.

“Sekarang mereka sudah mulai remaja. Mereka mulai punya urusan masing-masing. Saya harus tetap mengawasi mereka. Tapi ketika saya mulai melarang ini atau itu, saya merasa sudah menjadi ayah yang tidak asyik lagi,” kata Chris.

Tapi rasanya Chris tidak perlu berkecil hati. Puluhan film keluarga dan petualangan garapannya termasuk yang terbaru, Pixels, berhasil mengeruk banyak pecinta film yang mungkin saja akan kembali mengukuhkan pria ini sebagai ayah paling asyik sedunia.

boks

Agenda-agenda di bawah ini pernah dan kadang masih diterapkan Chris Columbus untuk keluarganya. Silahkan adaptasi untuk menghangatkan hubungan keluarga Anda.

Weekend untuk keluarga
Saat anak-anaknya masih kecil, Chris menerapkan aturan tidak bekerja saat akhir pekan. Belakangan, ketika anak-anaknya beranjak remaja, Chris mencuri waktu untuk menulis skenario atau novelnya.

Menonton pertandingan
Chris menghabiskan Jumat sorenya bersama keluarganya menonton pertandingan baseball. Cara ini bisa mendekatkannya dengan anak-anaknya dan teman-teman mereka yang nonton pertandingan bersama.

Mengantar anak kursus
Di hari Sabtu, Chris rela mengantar Isabella anaknya untuk berlatih menyelam, jam 6 pagi. Padahal ia bisa saja meneruskan tidurnya lebih lama. Bagaimana dengan Anda?

Masak untuk keluarga
Chris masih sempat membuatkan sarapan untuk keluarganya di akhir pekan. Ketika anak-anaknya beranjak remaja dan sekolah jauh dari rumah, Chris berharap anak-anaknya bisa singgah. Toh, ia masih menyiapkan masakan untuk mereka.

Main Video Game
Keasyikan yang dulu pernah dilakukannya dengan bermain Pac-Man, Donkey Kong dan lain-lain, disaingi oleh video game pilihan anak-anaknya, seperti, Call of Duty dan Assassin’s Creed. “Anak-anak saya cerdas, mereka hanya menikmati permainannya. Sedangkan saya menikmati pengalaman sinematik melihat video game itu.”


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment