Home » Menjual Negeri Kiwi
Bagikan

Menjual keelokan sebuah negeri – seperti New Zealand – perlu teamwork yang kuat. Dan René de Monchy membuktikannya.

René de Monchy tampak sumringah. Siang itu acara yang menjadi salah satu tanggung jawabnya dalam mempromosikan pariwisata New Zealand berlangsung sukses.

Senin 18 Juli lalu, pria yang duduk sebagai Director of Trade, Public Relations and Major Events menjadi tuan rumah Tourism New Zealand meluncurkan sebuah video kampanye wisata  yang menampilkan sutradara film Hollywood, James Cameron, menjelajahi keindahan titik-titik eksotis di negeri kiwi itu. Dalam video berdurasi sekitar satu setengah menit itu, Cameron dan istrinya, aktris  Suzy Amis mengeksplorasi Tasman Glacier, Teluk Blanket, Pegunungan Routeburn Track, Danau Pukaki hingga Gunung Alfred di kawasan Glenorchy dekat Queenstown. Acara peluncuran video global yang digelar di Hotel Shangri-La Jakarta itu bertepatan dengan lawatan Perdana Menteri New Zealand, John Key, ke Jakarta.

René, mengamini bahwa kesuksesan acara tersebut dan sambutan hangat yang dipanennya hari itu juga merupakan hasil kerja keras timnya. Pengalaman globalnya selama 15 tahun terakhir dalam industri bisnis yang berhubungan dengan konsumen, membuat pria ini lihai membaca kebutuhan pasar dan menyusun strategi yang tepat.

“Saya rasa, kunci bagi organisasi manapun untuk membentuk teamwork adalah memiliki anggota team yang passionate,” kata pria yang baru setahun lebih duduk di posisinya tersebut, sejak Mei 2015. Di sela-sela jadwalnya yang padat siang itu, René masih bersedia menerima Best Life dalam sebuah wawancara.

“Jadi poin utamanya adalah passion. Ketika kami membangun tim kami di seluruh dunia, untuk menjual perjalanan, liburan dan pariwisata New Zealand, kami tidak akan berhasil kalau tidak didukung oleh orang-orang yang passionate akan hal itu,” kata Rene yang sebelumnya pernah bekerja di Singapura, dan menjabat sebagai direktur di Asia Pacific Breweries, produsen beberapa produk bir seperti Tiger Beer, Guinness dan Heineken.

“Anda harus menemukan orang-orang yang benar-benar memiliki passion. Dan itu tidak terbatas hanya pada mereka yang berasal dari negeri itu. Ada juga orang Indonesia yang bekerja untuk menjual New Zealand. Mereka harus memiliki sense yang kuat bagaimana menjual mimpi, mengusulkan liburan, mengabiskan waktu,” kata René.

“Organisasi kami kecil, tapi kami tersebar di seluruh dunia. Karena kami bekerja dalam dalam latar belakang budaya yang berbeda di dunia, seperti kami di Jakarta ini, kuncinya adalah dengan mencoba memahami apa kendala utama yang dihadapi seseorang ketika akan mengunjungi New Zealand,” kata lulusan Auckland University ini.

René memulai karir sebagai account manager di rumah penerbit Reed Elsevier. Selanjutnya, ia bergabung bersama perusahaan susu raksasa Fonterra sebagai brand manager, sebelum akhirnya ia berkarir di DB Breweries, yang memiliki berbagai brand produk seperti Tui, DB Export, Monteith’s, Heineken dan Tiger. Maka, seluk beluk brand pun menjadi salah satu passion terbesarnya.

“Ya, saya sangat passionate tentang brand. Seperti halnya dengan Tourism New Zealand. Ini adalah salah satu brand terbesar yang pernah ada,” kata ayah tiga anak yang juga menggilai kegiatan travelling.

“Sangat menyenangkan karena pekerjaan saya bisa membawa saya berkeliling sambil melakukan pekerjaan saya. Dan saya bisa bertemu dan berbincang dengan banyak orang lalu bicara tentang hal-hal menarik saat mengunjungi New Zealand,” kata René. Minggu awal Juli lalu, ia bersama istri dan ketiga anak mereka berkeliling New Zealand.

“Setiap kali saya melihat foto-foto itu, saya jadi semakin ingin untuk bisa lebih sering berkeliling ke tempat-tempat di New Zealand,” katanya dengan nada kagum.

Lalu apakah travelling termasuk salah satu caranya untuk menyeimbangkan hidup?

“Sepertinya begitu. Minggu itu kami benar-benar menikmati perjalanan kami di Pulau New Zealand bagian selatan, mengemudi melintasi pegunungan, mengamati paus dan lumba lumba di lautan,” tutur René, yang dengan jujur mengakui tidak mudah memilih lokasi travelling di luar kampung halamannya.

“Ketika saya sedang berada di Jakarta, saya juga sempat berpikir apa tempat yang akan menjadi favorit saya di sini,” kata pria yang pernah tinggal di Singapura dan sempat mejelajahi Asia Tenggara.

“Ternyata saya sangat suka Kamboja dan Bali. Mengunjungi Bali tidak akan pernah membosankan karena lokasinya sangat beragam,” kata penyuka olah raga golf ini.

“Saya selalu mencoba untuk disiplin berolah raga, misalnya golf. Ada banyak tempat golf yang terbaik di New Zealand,” kata René seakan kembali terdengar berpromosi lagi.

“Ketika saya berkeliling New Zealand, saya mencoba untuk mensqueeze golf club saya di bagasi mobil, jadi saya bisa bermain di golf course manapun,” tutup René.

Boks


Jika anda menyukai golf, René de Monchy merekomendasikan dua golf course di New Zealand ini untuk Anda.

Jack’s Point
Jack’s Point terletak di Lake Wakatipu, sekitar 15 menit dari Queenstown, New Zealand. Selain lapangan golf, lokasi ini memiliki jalur hiking dan sepeda gunung sepanjang 35 kilometer. Jack’s Point memiliki 18 hole dengan 72 par.

Kauri Cliffs
Kauri Cliffs yang memiliki 18 hole dengan 72 par, didisain oleh David Harman. 15 hole dikelilingi oleh pemandangan Samudra Pasifik yang menakjubkan. Kepulauan Cavalli dan Cape Brett menjadi latar belakang yang memukau.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment