Home » Sehat Seiring Usia
Bagikan

Pengusaha ini menggilai olah raga sejak remaja. Namun ia cukup waras untuk menyesuaikan minatnya itu dengan umur dan kondisinya kini.

Hampir setiap Sabtu pagi, pengusaha Ismail Ning (47) menyempatkan diri untuk bersepeda di kawasan Sentul. Seperti Sabtu pagi itu, Chairman Pacto Ltd itu menggenjot sepeda Cervélo nya ke atas Bukit Sadon, Sentul. Biasanya, ia bisa dua kali bolak balik, naik turun menyusuri salah satu rute bersepeda favoritnya itu. Tapi di putaran pertama, Ismail Ning merasa ada yang salah dengan sepedanya.

“Rasanya kok kayuhannya berat sekali. Saya kira rem sepedanya yang bermasalah. Tapi ternyata kaki saya yang kelelahan,” kata Ismail Ning, sambil tertawa. Pengusaha bidang wisata dan komisaris sejumlah perusahaan ini mengaku menggemari olah raga sejak remaja. Alasannya sederhana saja. Berat badannya pernah membumbung, meskipun menurutnya, angka kenaikannya tidak ekstrem.

“Waktu umur saya masuk 20 tahun saat kuliah tingkat 2, berat badan saya mulai naik dari 75 kilogram ke 81kilogram dalam waktu 6 bulan. Rasanya sangat tidak nyaman. Rasanya repot karena tubuh terasa melambat,” kata Ismail.

Karena ingin selalu sehat dan berat badannya selalu berada di angka aman, Ismail Ning pun melahap hampir semua macam olah raga. Untung saja, sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, Ismail Ning sudah suka olah raga. Push up, pull up dan bodyweight sudah menjadi makanan hariannya, begitu pun olah raga lari, karena ia juga bermain sepak bola dan menjadi penjaga gawang. Saat itu, di rumah mereka, sang ayah, konglomerat Hasyim Ning, membeli treadmill dan sepeda statis yang cukup canggih untuk ukuran saat itu. Ismail pun menambah porsi olah raganya. Dan berat badannya pun pelan-pelan mulai turun.

“Cara ini akhirnya menjadi kebiasaan saya untuk menjaga berat badan saya,” ujar Ismail Ning. Standar lain yang diterapkannya: ukuran celana.

“Kalau celana sudah mulai sempit, saya tidak mau ganti nomor celana, tapi saya berusaha keras menurunkan berat badan,” kata Ismail Ning.

“Itu salah satu kunci, jangan pernah menambah size celana. Kalau sekali saja kita sudah menambah ukuran, itu akan jadi excuse. Akibatnya, berat badan kita pun terus bertambah.”

Bertambahnya kesibukan pria ini di sejumlah bisnis termasuk sebagai Chairman Pacto Ltd, Komisaris PT Bank Lippo Tbk (1996-2003) serta sebagai Presiden Komisaris Metropolis Propertindo Utama, Presiden Komisaris PT Semesta Indovest dan sebagai Presiden Komisaris Independen PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk, dan duduk dalam kepengurusan Plt Ketua Gabungan Usaha Wisata Bahari, anggota Dewan Kelautan Indonesia dan Kadin Indonesia, membuat pria berdarah Minangkabau ini pernah agak sedikit terlena.

“Dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, di satu sisi mempermudah, tapi di sisi lain, kita justru seperti diperbudak teknologi dan menjadi semakin sibuk,” kata Ismail Ning yang memiliki pola hidup yang cukup teratur dan sehat.

“Saya pernah mengubah jam tidur saya yang semula maksimal tidur jam 11 malam, bangun jam 5 pagi, menjadi tidur jam 12 malam atau jam lewat tengah malam. Saya mengecek email, balas email, membuat draft bisnis. Dan tetap bangun jam 5 pagi. Badan rasanya hancur. Lelah sekali,” kata Ismail Ning.

Tidak ingin kesehatannya terpuruk karena pola tidurnya yang berubah, Ismail Ning lalu kembali ke pola tidurnya yang lama.

“Sekarang saya coba lagi tidur jam 10 malam. Jam 5 pagi bangun. Badan segar, olah raga dan siap beraktivitas,” kata Ismail Ning yang rutin menyambangi gym setiap pagi sebelum ke kantor.

Menggilai olah raga demi menjaga kesehatan, sempat membuat Ismail Ning ‘terjerumus’ dalam asyiknya olah raga ekstrem diantaranya jetski. Apa yang dicarinya? “Fun!” cetusnya spontan.

Ayah lima anak yang sangat mencintai laut ini pernah menjadi atlet jetski di era 1990-an. Di akhir era itu, Ismail Ning sempat menjuarai kejuaraan King’s Cup di Thailand Asia Pacific Race seri Indonesia kelas 800 cc dan 1200 cc. Lalu di tahun 98 Ia berada di urutan kedua kejuaraan King’s Cup di Thailand Asia Pacific Race. Setelah itu berhenti total. Selain karena hantaman krisis ekonomi 1998 yang membuat konsentrasi tercurah untuk menyelesaikan masalah perusahaan hobinya itu terasa mahal, juga karena ia takut mati di saat anak-anaknya masih membutuhkan dirinya.

“Saat itu di Thailand, ombak besar, dan start sempat diulang sampai tiga kali,” tutur Ismail.Ombak yang mengguncang-guncangkan jetski yang ditunggangi Ismail Ning, mengguncang pula kesadaran pria itu.

“Saat itu, saya berpikir, berbahaya sekali. Apa sih yang mau saya pertaruhkan?” tanya Ismail pada dirinya sendiri kala itu. Toh, pria ini tetap saja unggul, meskipun ‘hanya’ menempati urutan kedua.

Kesadaran yang sama juga muncul dalam kesempatan lain saat ia menekuni hobinya menyelam. Saat itu di tahun 2000, bersama dua kawannya, Ismail Ning menyelam di Kepulauan Seribu. Saat menyelam, Ismail yang terlalu asyik menikmati penyelamannya dan melawan arus, terpisah dari kawan-kawannya

Di kedalaman 30 meter, Ismail Ning yang sengaja melawan arus dan memisahkan diri dari kedua kawannya yang mengikuti arus, tiba-tiba merasa overexertion.

“Saya ngos-ngosan di bawah sana. Saya pikir apa valve tabung saya kurang terbuka,” ujar Ismail yang lalu mengecek saluran udara dan mengganti regulatornya dengan regulator cadangan. Namun ia tetap ngos-ngosan atau hyperventilation.

“Pada saat itulah saya berpikir keluarga dan anak anak saya. Saat itu, saya berpikir kalau saya mati di dasar laut, bisa ditemukan nggak ya?”

Ismail memutuskan untuk naik ke permukaan. Untungnya ia memiliki control panic yang kuat. Tapi saat menuju permukaan ia sempat kehilangan pandangan. Ismail langsung merebahkan dirinya di lantai kapal ketika ia berhasil naik ke permukaan.

“Alhamdulillah saya selamat,” katanya. Tapi setelah kejadian itu, Ismail justru terserang claustrophobia, ketakutan akan ruang sempit.

“Pernah saya naik kapal terbang, saya minta turun karena ketakutan itu,” ujar Ismail yang mengaku tidak menempuh cara apapun untuk menghilangkan phobia-nya itu.

“Ketakutan itu hilang dengan sendirinya. Mungkin karena saya percaya bahwa Tuhan sudah mengatur semuanya, termasuk kapan ajal kita akan datang,” kata Ismail.

 Ayah lima anak yang kerap mengajak anak-anaknya berolah raga bersama ini mengaku dirinya tidak lagi senekad dulu. Ia yang dulu fearless, kini lebih kalkulatif.

 “Saya rasa kita harus mengalkulasi semuanya,” ujarnya. “Sekarang saya cenderung menghindarkan kegiatan yang terlalu berisiko.”

Ismail bahkan sangat antipati  tidak mau mencoba terhadap aktivitas beradrenalin tinggi, bungee jumping. Alasannya sederhana.

“Bagaimana Anda bisa menggantungkan hidup Anda pada seutas tali atau seperangkat alat yang bukan milik Anda dan tidak tahu kondisi alat itu. Menurut saya itu konyol!”

Ismail Ning yang dulu kerap tidak memperdulikan ganasnya cuaca di musim angin barat ketika berlayar atau bermain jetski, kini memilih bermain aman. Bersepeda, jogging, renang, treking golf dan triathlon menjadi olahraga pilihannya untuk menjaga kebugaran di usianya yang sudah mendekati kepala lima itu.

Tiap tahun Saya ikut triathlon di Bintan thn 2011 dan berikutnya juga” ujar Ismail yang sayangnya absen berlaga dalam lomba tersebut dua tahun terakhir.

“Untuk bertanding dalam triathlon, persiapan Anda harus optimal. Kalau persiapan kurang, Anda tidak akan bisa bertanding dengan baik,” kata Ismail Ning yang berharap tahun depan bisa ikut bertanding lagi.

boks


Siapa sangka ayah dari lima anak ini, dulu membenci anak-anak. “Di mata saya, anak-anak kecil sangat annoying,” kata Ismail Ning jujur. Apa yang mengubahnya dan bagaimana gaya fatherhood nya?
Menjadi familyman Ketika Anda memutuskan untuk berkeluarga, Anda harus sadar konsekuensinya, termasuk memiliki anak. Ismail Ning masih memiliki ‘me time’ sendiri yang diisinya dengan berolahraga. Tapi ia selalu meluangkan waktu untuk anak-anaknya sehingga mereka bisa melihat keberadaan sang ayah di rumah. Bentuk kekompakan
5 anaknya, 4 putra 1 putri. Si sulung yang kuliah di Australia, kini 19 tahun,  dan si bungsu 13 tahun. Ketika semua masih berkumpul serumah, Ismail Ning kerap mengajak kelima anaknya berolah raga bersama dan aktivitas keluarga. Cara ini membangun kekompakan kelima buah hatinya.  Fatherhood
“Ayah dulu sangat keras. Tapi simple dan tidak banyak aturan njlimet. Beliau tidak pernah mempermasalahkan hal-hal yang tidak prinsipil. Tapi Ayah menjunjung tinggi agama, norma, sopan santun dan pendidikan,” kisah Ismail yang terinspirasi  gaya fatherhood sang ayah dan  mengombinasikannya dengan caranya sendiri.  Role model untuk anak
Sejak anak-anaknya masih kecil, Ismail Ning sering mengajak mereka berolah raga atau bepergian keluar kota bersama. Hasilnya, putra sulungnya kini menekuni sepak bola, renang rugby dan gym. Keempat anaknya yang lain menggemari sepak bola, termasuk anak kembar dan si bungsu yang menyukai polo air. Belajar dari olah raga
Ismail Ning tidak menuntut anak-anaknya untuk harus juara. “Kecuali kalau mereka memutuskan menjadi atlet. Harus total. Kami berolah raga untuk rekreasi, kesehatan dan pergaulan. Serta belajar teamwork dan bekerjasama dalam team,” tutur Ismail Ning. Pola diet keluarga
Kami mengonsumsi makanan sehat, sayuran, buah-buahan, ikan dan nasi merah. Awalnya anak-anak saya bencitidak suka nasi merah, tapi lama-lama biasa. Kami juga menyantap nasi hitam. Sesekali kami juga menikmati Nasi Padang.  Yang penting jangan berlebihan.” Bisnis ‘hijau’
Satu hal lagi yang dicontohkan Ismail Ning adalah mengelola bisnis. Ia fokus menjalankan bisnis wisata milik keluarga, Pacto Ltd. Bisnis yang dihindarinya: pertambangan. “Bisnis ini berpotensi merusak alam,” kritiknya. Contoh yang baik untuk anak-anak dalam menjaga kelestarian alam.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment