Selama ini, pembicaraan soal kesehatan reproduksi dan virus HPV terasa seperti ruang yang “bukan untuk laki-laki”. Topiknya sering diasosiasikan dengan perempuan, terutama karena kaitannya dengan kanker serviks. Banyak pria tumbuh tanpa pernah benar-benar memahami apa itu HPV, bagaimana penularannya, dan apa dampaknya bagi tubuh mereka sendiri.
Padahal realitanya jauh lebih kompleks.
HPV adalah salah satu infeksi virus paling umum di dunia. Ia menyebar dengan mudah, sering kali tanpa gejala, dan dalam banyak kasus, tidak terdeteksi hingga berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Di titik ini, masalahnya bukan hanya soal kurangnya informasi, tapi juga cara kita membingkai isu ini sejak awal.

Data global menunjukkan bahwa satu dari tiga laki-laki berusia di atas 15 tahun telah terinfeksi setidaknya satu jenis HPV. Lebih jauh lagi, laki-laki menyumbang sekitar 40% dari seluruh kasus kanker terkait HPV di dunia.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ini cerminan bahwa selama ini kita mungkin terlambat menyadari bahwa HPV adalah isu kesehatan yang menyentuh semua orang, tanpa terkecuali.
Beban Diam-Diam pada Laki-Laki yang Jarang Dibicarakan
Yang membuat HPV berbahaya bukan hanya karena dampaknya, tetapi karena sifatnya yang diam-diam.
Banyak laki-laki tidak pernah tahu bahwa mereka terinfeksi. Tidak ada gejala awal yang jelas. Tidak ada tanda yang langsung terlihat. Dalam banyak kasus, virus ini bisa bertahan di dalam tubuh tanpa disadari, hingga akhirnya berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
HPV pada laki-laki dapat menyebabkan berbagai kondisi, mulai dari kutil kelamin hingga kanker. Jenis kanker yang terkait antara lain kanker penis, kanker anus, dan yang semakin meningkat secara global, kanker orofaring atau kanker tenggorokan.
Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.DVE, Subsp. Ven., Ketua PERDOSKI, menjelaskan bahwa di luar kanker leher rahim pada perempuan, infeksi HPV juga dapat menyebabkan kutil kelamin, kondisi pra-kanker, hingga kanker pada laki-laki. Ini adalah beban tersembunyi yang sering kali luput dari perhatian.
Yang menarik, sekaligus mengkhawatirkan, adalah respons tubuh laki-laki terhadap HPV. Berbeda dengan perempuan, laki-laki cenderung tidak membangun kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi. Artinya, kemungkinan infeksi berulang atau persisten menjadi lebih tinggi.
Dalam konteks kanker orofaring, risiko pada laki-laki bahkan tercatat hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan perempuan. Dan ironisnya, tidak seperti kanker serviks yang memiliki program skrining rutin, kanker ini belum memiliki sistem deteksi dini berbasis populasi.
Akibatnya, banyak kasus baru terdiagnosis saat sudah memasuki tahap lanjut.
Kenapa Pencegahan Sejak Dini Jadi Kunci
Kalau ada satu hal yang bisa dipelajari dari pola penyakit HPV, itu adalah pentingnya bertindak sebelum terlambat.
Karena tidak adanya sistem skrining rutin untuk laki-laki, maka strategi terbaik bukanlah menunggu gejala muncul, tetapi mencegah infeksi sejak awal. Dan di sinilah peran imunisasi menjadi sangat krusial.
Yang sering kali belum banyak dipahami adalah bahwa efektivitas imunisasi HPV sangat bergantung pada usia. Semakin dini diberikan, semakin optimal respons imun tubuh.
Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, menjelaskan bahwa sistem imun anak merespons paling kuat pada usia 9 hingga 13 tahun. Pada fase ini, imunisasi memberikan perlindungan maksimal sebelum mereka terpapar risiko di masa dewasa.
Ini berarti, keputusan untuk memberikan perlindungan tidak bisa ditunda hingga anak beranjak dewasa. Justru, momentum terbaik ada pada usia sekolah dasar.
Namun, pencegahan tidak berhenti pada imunisasi saja. Pendekatan yang lebih luas tetap dibutuhkan. Edukasi tentang kesehatan, pemahaman tentang risiko, serta kebiasaan hidup bersih dan sehat menjadi fondasi penting yang akan dibawa hingga dewasa.
Dalam konteks ini, imunisasi bukan hanya tindakan medis. Ia adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup.
Mengubah Cara Pandang: HPV Bukan Lagi Isu Perempuan
Salah satu tantangan terbesar dalam upaya pencegahan HPV adalah persepsi publik itu sendiri.
Selama bertahun-tahun, narasi yang dibangun membuat HPV seolah hanya relevan bagi perempuan. Kampanye kesehatan, program imunisasi, hingga edukasi publik sebagian besar difokuskan pada pencegahan kanker serviks.
Pendekatan ini memang berhasil meningkatkan kesadaran dan cakupan imunisasi pada anak perempuan. Di Indonesia, cakupan imunisasi HPV bahkan telah mencapai lebih dari 91% pada 2025.
Namun, keberhasilan ini juga membuka pertanyaan penting.
Bagaimana dengan anak laki-laki?
dr. Andi Saguni, M.A, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, menyampaikan bahwa HPV tidak mengenal gender. Imunisasi merupakan investasi kesehatan untuk seluruh anak, baik laki-laki maupun perempuan.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa perlindungan tidak bisa bersifat parsial. Jika hanya satu kelompok yang dilindungi, maka rantai penularan akan tetap berjalan.
Mengubah cara pandang ini memang tidak mudah. Dibutuhkan waktu, edukasi yang konsisten, dan pendekatan yang lebih inklusif. Namun langkah ini menjadi kunci jika kita ingin benar-benar menekan angka penyakit terkait HPV di masa depan.
Generasi Baru, Perlindungan yang Lebih Inklusif
Perubahan besar selalu dimulai dari cara kita melihat masalah.
Kini, pendekatan terhadap HPV mulai bergeser. Tidak lagi berbasis gender, tetapi berbasis perlindungan menyeluruh. Inisiatif seperti Kelas Jurnalis 2026 yang diinisiasi oleh MSD Indonesia bersama Kementerian Kesehatan menjadi salah satu langkah konkret untuk memperluas pemahaman ini.
Program ini tidak hanya menyasar tenaga medis atau pembuat kebijakan, tetapi juga media dan masyarakat luas. Tujuannya sederhana, namun penting. Mengubah narasi.
George Stylianou, Managing Director MSD Indonesia, menegaskan bahwa melalui prinsip Health Equity, pihaknya ingin memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan proteksi.
Konsep ini menjadi fondasi penting. Artinya, setiap anak, tanpa memandang gender, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah.
Lebih dari sekadar program, ini adalah investasi sosial. Ketika generasi muda tumbuh dengan pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan, mereka tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Kenyataan yang Perlu Kita Terima
Ada satu hal yang sering kali membuat isu kesehatan seperti ini terasa jauh.
Karena dampaknya tidak langsung terlihat.
HPV tidak menimbulkan rasa sakit di awal. Tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Tidak memberikan alarm yang jelas. Dan justru karena itulah, banyak orang merasa tidak perlu mengambil tindakan.
Padahal, ketika dampaknya mulai terasa, sering kali sudah terlambat.
Melindungi anak laki-laki dari HPV bukan soal mengikuti tren kesehatan atau sekadar memenuhi rekomendasi medis. Ini adalah keputusan yang didasarkan pada pemahaman, pada data, dan pada kesadaran bahwa pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan.
Karena pada akhirnya, kesehatan bukan hanya tentang hari ini.
Tapi tentang bagaimana kita memastikan masa depan yang lebih aman, bahkan sebelum risikonya terlihat.
