Home » Awas! Kuman dalam Makanan Segar Anda!
Bagikan

Berhati-hatilah, karena sayuran dan daging lezat yang Anda makan mungkin mengandung kuman yang siap mengocok perut Anda

“Hmmm…masih manis nih rasanya, masih segar!” begitu kira-kira yang muncul dalam pikiran Anda ketika menikmati tumis kangkung yang baru saja dihidangkan di restoran favorit Anda. Rasa manis pada sayuran mungkin indikator dari lidah Anda bahwa sayuran tersebut masih segar dan sehat tentu saja! Tetapi tahukah Anda di balik sehatnya sayuran segar yang mengandung karbohidrat, serat, protein, kalsium dan zat besi tersebut juga mengandung kandungan tambahan, yaitu bakteri dan kuman?

Bisa saja Anda menghindari jajanan pinggir jalan dengan alasan higienis. Tentu saja, jajanan atau makanan yang banyak ditemui di pinggir jalan memang berisiko tercemar bakteri dan kuman. Tetapi apakah Anda yakin bahwa sayuran yang Anda beli sendiri di supermarket pasti bebas bakteri seratus persen? Jangan terlalu yakin dulu! Karena salah satu mahluk terkecil di dunia ini mempunyai banyak cara untuk bersarang di makanan Anda.

Beberapa waktu lalu, salah seorang rekan kami terpaksa dirawat di rumah sakit karena menderita diare yang disertai kejang-kejang. Setelah pemeriksaan lebih lanjut ternyata ditemukan penyebabnya adalah sayur bayam yang dimasak sang istri beberapa hari sebelumnya. Kisah-kisah tragis serupa sering Anda dengar, tidak hanya sayuran, tetapi daging seperti sapi dan ayam. Tetapi yang benar saja, masa sih sayur bayam andalan Popeye ini justru bisa membuat Anda sakit? Apa cara memasaknya yang salah? Atau plastik pembungkus dari supermarket yang tercemar? Ternyata jawabannya adalah  Escherichia coli 0157:H7, yang lebih dikenal dengan nama E.coli – bakteri yang memang terkenal sering mengocok perut.  Supaya tidak lagi terjadi kasus yang sama, kami anjurkan Anda untuk melakukan beberapa hal berikut :

Lebih Detil Saat Berbelanja

Saat berada di supermarket Anda memerlukan strategi ini agar upaya Anda menahan mikroorganisme penyebab penyakit dari dapur (dan perut Anda) semakin bekurang.

Unggas Kisruh tentang flu burung yang menghebohkan dunia termasuk indonesia dan telah memakan banyak korban beberapa waktu lalu masih belum selesai juga. Hingga kini, flu burung belum benar-benar bisa dihentikan. Penyakit yang disebabkan oleh virus H5N1 ini biasanya menyerang unggas. Tentu saja, sebagai tindakan preventif saat membeli ayam di supermarket, pegang kemasannya. Jika tidak dingin, cari yang lain yang masih dingin atau pindah supermarket sekalian. Selain itu, cek juga warna daging ayam tersebut. Daging ayam segar bewarna pink, jika warnanya kecoklatan, berarti telah terjadi perubahan yang disebabkan oleh bakteri yang telah berkembang biak di sana.

Daging sapi. Staphylococcus aureus dan E.coli.  Ya, segera masukan kedua makhluk tersebut dalam daftar hitam yang tidak ingin Anda temui. Langkah pertama untuk menghindari mereka adalah dengan memilih daging sapi yang tepat, karena bakteri dapat bergerak jauh lebih cepat dari ren­tetan kalimat yang dikeluarkan oleh rapper Eminem. Jadi sebelum Anda membeli, perkirakan kapan Anda akan memasaknya. Hitung seberapa aman daging tersebut saat Anda konsumsi sejak hari Anda membelinya. Warna daging juga sangat penting diperhatikan: Pastikan daging yang Anda beli berwarna merah seperti buah cherry, lupakan saja jika warnanya pucat.

Kerang-kerangan. Salah satu mikroorganis­me penyebab penyakit yang sering terdapat pada kerang-kerangan (termasuk tiram) adalah Vibrio vulnificus. Jika Anda ingin membeli tiram, pilihlah yang telah melalui proses pemanasan (pasteurisasi). Tapi jika Anda ingin mengonsumsinya tanpa dimasak lebih dulu –tiram (oyster) segar atau sashimi– itu adalah risiko yang harus Anda ambil dan tanggung sendiri.

Seafood. “Produk yang telah masak maupun masih mentah jelas harus dipisahkan di tempat penyimpanan untuk menghindari risiko kontaminasi silang,” kata J. Glenn Morris Jr., M.D., kepala Department of Epidemology and Preventive Medicine di University of Maryland. Perhatikan posisi perut ikan di kotak penyim­panan –ketika ikan diletakkan pada sisi tersebut, akan ada lebih banyak bagian permukaan yang terkontaminasi oleh bakteri yang mungkin berkembang biak di bawah saat es mulai mencair dan menggenang. Untuk kulitnya, lebih baik jika terlihat cerah, lupakan saja jika terlihat kusam. Jika Anda pikir ikan tersebut mungkin baru saja di­semprot air dan Anda ingin tes yang tepat, tekan saja dengan ujung jari Anda. Ikan yang masih segar da­gingnya akan kembali ke asal, sedangkan pada ikan tidak segar, tekanan dari ujung jari Anda akan meninggalkan lekukan permanen pada permukaan ikan.

Telur. Saat akan membeli telur, tanyakan sudah berapa lama telur tersebut ada di toko. Jika Anda suka membeli yang telah dikemas –biasanya banyak terdapat di supermarket– perhatikan tanggal kadaluwarsanya. “Memperhatikan pori-pori telur akan sangat bermanfaat untuk mengetahui seberapa aman telur tersebut,” kata Ir. Edi Sutantiodari Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Telur yang telah lama biasanya memiliki pori-pori le­bih renggang pada bagian ujung yang agak run­cing. Selain memperhatikan pori-pori, sebaik­nya Anda juga memilih telur dengan kulit yang benar-benar bersih. Kemudian pastikan Anda mencuci kulitnya terlebih dahulu sebelum menyimpannya.

Sayuran dan buah. Lupakan saja jika sayu­r­an dan buah yang akan Anda beli terdapat bagian yang memar atau agak layu. Jika Anda berencana untuk membeli buah-buah yang sudah dipotong dari supermarket, pastikan buah-buahan tersebut dalam kondisi dingin. Jika hanya diletakkan di atas lapisan es batu, masih ada kemungkinan untuk tidak selalu segar. Karena bagian teratas dari buah mungkin agak hangat hingga membuat plastik pembungkus jadi mengembung, kondisi tersebut adalah kondisi yang baik untuk bakteri agar berkembang biak.

Sekarang coba periksa lemari makanan Anda

Lalu perhatikan bagaimana Anda menggabungkan makanan matang dan mentah, antara sayur dan daging secara bersamaan. Kami akan mengingatkan Anda bahwa melalui percobaan yang ditemukan oleh Safe Food Institute di Utah State University, ditemukan 84% orang terkontaminasi makanan secara silang. Maksudnya, bakteri pada makanan yang belum di masak dapat dengan mudah pindah kemakanan yang telah dimasak. Jadi, mulai dari sekarang, lakukan selalu seperti berikut ini:

Lemari es. Mudah saja: Jangan lupa untuk mencuci semua makanan mentah –daging, ayam, dan makanan laut– terlebih dahulu sebelum menyimpannya. “Hal ini bermanfaat untuk menghalau bakteri-bakteri yang mungkin terbawa dari tempat Anda membelinya,” kata Ir. Edi Sutantio. Kemudian bungkuslah masing-masing (dengan kertas cellophane) dan letakkan di dalam freezer. Jadi walaupun mungkin masih ada bakteri yang terikut, setidaknya Anda sudah menghambat proses perkembangannya melalui proses pembekuan. Jika cairan dari daging atau unggas mentah menetes pada rak lemari es Anda, lupakan saja spons; Anda hanya akan me­ngumpulkan bakteri dan hal terburuk berikutnya, Anda kemudian lupa untuk membasminya.

Lebih baik lap dengan menggunakan kertas tissue dan kemudian semprot rak de­ngan spray pembersih yang dapat membunuh kuman tapi tetap aman digunakan di sekitar makanan. Tunggu beberapa saat, kemudian lap kembali, dan jangan lupa cuci tangan Anda.

Papan tempat untuk memotong makanan (talenan). Jangan pernah memotong sayur­an dan ayam (atau daging) pada ta­lenan yang sama –bakteri dapat berpindah dari ayam ke kacang panjang hanya dalam hitungan detik. Menggunakan talenan yang terbuat dari plastik juga akan lebih baik daripada yang terbuat dari kayu. Karena pada talenan yang terbuat dari kayu akan selalu ada kemungkinan daging yang tertinggal di sela-sela kayu. Selain itu risiko kayu yang mulai membusuk juga terlalu mengerikan. Dan tentu saja, Anda ha­rus mencucinya dengan bersih setiap selesai memakai.

Taklukan dengan Panas

Ternyata menaklukannya juga tidak begitu sulit. Suhu panas yang tepat akan membuat bakteri tersebut mati. Jadi masaklah makanan Anda dengan temperatur yang tepat.

Ayam. Sebaiknya masak ayam dengan suhu ± 130º C. Menurut Ir. Edi, memasaknya de­ngan cepat pada suhu tinggi akan lebih baik daripada memasaknya lama dengan suhu sedang. Selain akan membunuh bakteri yang terdapat pada ayam, hal ini juga dapat mencegah risiko terkena flu burung yang disebabkan virus H5N1.

Daging sapi. Agar aman dikonsumsi, daging sapi juga dapat dimasak pada suhu 130ºC atau Anda bisa memasaknya pada suhu 180ºC dengan menggunakan microwave.

Ikan. Agar ikan aman untuk Anda makan, panaskan saja minyak hingga benar-benar panas dan Anda tidak perlu memasaknya terlalu lama. Poin terpenting yang perlu Anda perhatikan adalah panas yang Anda gunakan untuk memasak.

Kerang-kerangan. Entah itu udang, kerang, atau tiram, memasaknya 3 sampai 5 menit dapat menghalau tamu tak diundang dan membuat makanan Anda aman. Untuk lobster Anda dapat memanggangnya de­ngan jarak 4 inci dari sumber panas selama 3 sampai 15 menit, tergantung pada ukur­annya.

Telur. “Ketika Anda memecahkan telur, bagian putihnya yang disebut albumen akan melekat erat pada bagian kuning telurnya,” kata Ir. Edi. “Jika Anda memecahkan telur, bagian putih dan kuningnya langsung terpisah, itu artinya telur tersebut sudah lama dan cenderung lebih mudah terkontaminasi.” Tidak terlalu banyak masalah de­ngan telur, tapi sebaiknya Anda tetap memasaknya hingga kuning telur benar-benar matang.

Sayuran dan buah.

Memakan sayur dengan segar tanpa harus memasaknya terlebih dahulu memang sangat menyenangkan. Salad atau lalapan memang sangat tepat jika dikombinasikan dengan masakan khas Indonesia. Memang tidak salah, tetapi pastikan Anda mencucinya hingga benar-benar bersih.

            “Pastikan Anda mencucinya dengan air keran yang mengalir, dengan tangan yang bersih dan dalam wadah yang juga bersih,” kata Edi. “Mencuci sayuran sebelum Anda memotong-motongnya lebih baik daripada sebaliknya.” Hal ini juga berlaku pada buah-buahan. Sebaiknya sikat terlebih dahulu melon, timun, dan buah-buahan lainnya sebelum Anda mengupasnya. “Walaupun Anda tak berniat untuk memakan kulitnya, pisau yang Anda gunakan untuk mengupas dapat menjadi penghantar bakteri yang terdapat pada kulit buah,” kata Edi.

            “Untuk buah berry, cukup mencuci bagian yang akan Anda makan,” kata Christopher R. Mohr, Ph.D., R.D. “Jika Anda membilas seluruhnya sekaligus namun tidak memakan semuanya, mereka akan lebih cepat membusuk.”

Awas! Jangan Termakan Mitos !

Hal-hal yang biasa Anda lakukan di rumah ini mungkin menjadi alasan mengapa bakteri mudah masuk dalam perut Anda.

Anda sering dengar hal tersebut, makanan yang terjatuh ke lantai bisa dimakan kembali karena, “Belum lima detik.” Pertanyaannya, benarkah makanan tersebut aman? Atau harus kita cuci dulu atau buang saja sekalian? Maaf Anda harus mendengar ini, tetapi bakteri dapat menempel dengan sangat cepat meskipun Anda mengambilnya dalam waktu satu detik saja. Kini keputusan ada di tangan Anda.

Terbiasa menaruh makanan di atas meja

United States Departement of Agriculture mengkategorikan “Zona Berbahaya” jika Makanan siap saji yang diletakan di temperatur ruangan berada pada suhu 4 hingga 60 celcius, bakteri mampu tumbuh secara cepat dan makanan akan menjadi tidak aman, sehingga waktu Anda untuk meletakkannya makanan di atas meja makan tidak boleh melebihi dari dua jam saja.

Terbiasa mencairkan daging beku dengan suhu ruangan? Pikirkan lagi..

FDA Amerika mengatakan bahwa tidak sebaiknya Anda mencairkan makanan dengan temperatur ruangan karena bakteri dalam temperatur ruangan bisa berkembang dua kali lebih cepat dalam waktu 20 menit. Sebaliknya, masukan daging dalam air yang dingin atau gunakan fitur ‘defrost’ pada microwave untuk mencairkannya.

Spons bagus untuk membersihkan dapur.

Jika dilihat pada permukaan, spons memang membersihkan dengan baik. Tetapi jika dilihat dengan mikroskop, spons merupakan tempat berkembang biak bakteri dan dengan cepat memindahkan bakteri dari tempat ke tempat lainnya. Alternatifnya, gunakan kertas tisu dan jika terpaksa menggunakan spons, selalu bersihkan dengan sabun anti bakteri sebelum menggunakannya di tempat lain atau masukan dengan singkat dalam microwave untuk mematikan kuman di dalamnya.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment