Home » Awas! The Flash Bukan Sekadar Film Superhero

Awas! The Flash Bukan Sekadar Film Superhero

by O.J.
Bagikan

Momen sesosok manusia super berkostum merah tiba dalam wujud The Flash.

The Flash sendiri adalah manusia super dari semesta komik DC yang notabene salah satu member sirkel superhero, Justice League. Perbedaannya dengan Superman – sang Man of Steel, dan Batman – sang Dark Knight, The Flash hadir via sosok pemuda, Barry Allen, yang berprofesi sebagai salah satu tim forensik kepolisian Central City.

Hadirnya The Flash lewat film solonya, The Flash, ini sendiri terbilang perjalanan panjang: fase gonta-ganti kasting hingga momen kontroversial sang aktor, Ezra Miller, mewarnainya. Hebatnya, film besutan Andy Muschietti ini dengan sederhana menggambarkan haru-biru seorang anak berusaha menyelamatkan momen berharga bersama sang ibu.

Ya, sekilas The Flash memiliki premis yang sederhana tersebut.

Tapi jangan salah, begitu film bergulir maju, film yang juga diwarnai gonta-ganti sutradara di sepanjang pra-produksinya ini nyatanya berhasil menyentuh hati. So, yeah, film superhero ini tak melulu mengenai kehebatan efek visual yang wah!

Penulis skrip The Flash, Christina Hodson, berhasil mengolah dialog demi dialog dengan sederhana tapi kena di hati. Deretan joke receh tapi berharga sesekali menimpali interaksi Barry Allen dengan Barry Allen lainnya. The Flash pun jadi terasa tak konyol secara sia-sia.

Kesederhanaan naskah Hodson juga berhasil membawa kita jadi menyelami konsep multi-semesta alias multi-verse secara gamblang, tanpa harus berpikir keras. Puncak multi-semesta ini begitu terasa hebat saat film meraih klimaksnya. (Jika kita menonton The Flash bareng pembaca komik setianya atau minimal penggemar berat semesta DC, pasti bakal terasa megah – karena mereka akan berteriak senang, bertepuk-tangan bahkan bisa terharu meneteskan airmata).

Berlebihan?

Rasanya tidak. Mengingat The Flash memiliki core hubungan anak dan kedua orang tuanya -terutama hubungan dengan sang ibu.

Kemunculan figur Supergirl dan Batman pun menjadi elemen menawan tersendiri dari The Flash. Munculnya dua figur komik ini mengingat Barry Allen versi masa kini terlempar ke universe lain, dimana Superman tidak ada dan yang eksis adalah Supergirl. Begitu halnya dengan sosok Batman versi Michael Keaton (versi Batman live action pertama besutan Tim Burton di 1989).

Bruce Wayne/Batman versi Michael Keaton cukup hadir sebagai pengingat Allen muda yang berusaha membetulkan masa lalunya yang kelam, bahwa ada momen-momen dimana tak ada hal yang bisa dilakukan untuk mengubah apa yang telah lewat.

Supergirl versi semesta The Flash di sini adalah Kara Zor-El yang notabene adalah sepupu dari Kal-El alias Clark Kent alias Superman. Dalam universe ini, Kara menjadi figur esensial sebagai manusia super yang membantu eksistensi Barry Allen masa kini. Tanpa Kara, Allen masa kini hanyalah Allen biasa.

Kemunculan sosok Sasha Calle yang memerankan Kara menjadi lebih dari sekadar pelengkap sajian multi-semesta sang speed-caster. FYI, Calle menjadi sosok aktris latin pertama yang memerankan sepupu Superman.

Bagaimana dengan Ezra Miller sendiri?

Jika pesona super The Flash terbilang sudah teruji via dua film Justice League tempo hari (versi Zack Snyder dan versi Snyder Cut), akting Miller saat berinteraksi dengan sang ibu cukup menyayat hati. Silahkan hitung berapa kali dirinya meneteskan airmata dengan begitu lekat.

Tak heran jika The Flash menjadi tontonan lengkap lebih dari sekadar tontonan film superhero belaka.

The Flash terasa hangat

The Flash memang dipenuhi efek visual yang menawan, tapi juga diselimuti kehangatan tiada tara. Kehangatan tiada tara dihadirkan sosok Barry Allen universe masa kini yang nekat menembus waktu demi sang ibu. Barry Allen masa kini juga memiliki hubungan yang hangat dengan sang ayah (yang juga kita dapati sekilas via Justice League tempo hari).

Yang mengagetkan, The Flash bisa menaikkan derajat kehangatan tersebut secara membabi-buta saat klimaks – dimana mata dimanjakan dengan visual semesta-semesta DC yang tak disangka-sangka!

Kesederhanaan The Flash pada akhirnya dirangkum dalam satu ‘summary’ yang terasa pasrah: “Tak semua masalah ada solusinya. Terkadang yang kita bisa lakukan adalah menerimanya.”

*Thank you for Warner Bros. Indonesia for the Special Screening on June 12th, 2023


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment