Tingkatkan rasa percayaan diri anak Anda agar dia dapat menjadi anak yang sukses di dunia yang kompetitif ini.
Anak lelaki saya menolak untuk sarapan, karena –menurut dia– perutnya sedang mual. Saya tahu alasannya, ia cemas karena delapan jam lagi, dia akan ikut audisi menjadi salah satu anggota tim sepakbola sekolahnya. Ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti audisi. Tentu saja dia cemas. Sesampainya di lapangan bola, dia terlihat amat tegang, sampai-sampai dia tidak bergerak saat menunggu di pinggiran lapangan. Lalu saya menghampirinya dan berkata, “Kamu menginginkan ini, kan? Saya yakin kamu bisa melakukannya, tapi hanya usaha kamu sendirilah yang bisa membuatmu berhasil.” Ucapan saya –tanpa disengaja– ternyata sesuai dengan saran para psikolog. Setelah mengucapkan itu, saya mendoakannya supaya ia berhasil lalu kami berdua saling berpelukan. Seperti yang saya duga, dia diterima menjadi salah satu anggota tim itu.
Saya meningkatkan rasa percaya diri anak saya dengan mengingatkannya bahwa dia harus berusaha sendiri, sebuah strategi yang menurut para ahli adalah cara terbaik untuk meningkatkan rasa percaya diri seorang anak. Beberapa studi menemukan bahwa anak yang tumbuh dengan percaya diri yang tinggi, terbukti sukses dalam pelajarannya, tidak mudah terpicu amarah, dan terbukti juga dapat mengumpulkan uang lebih banyak dibanding anak yang tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Memang, uang tidak bisa membuat orang bahagia, tapi dengan rasa percaya diri yang tinggi, seorang anak bisa mengatasi banyak rintangan dalam hidupnya. Ikuti tip-tip berikut untuk menciptakan milyarder baru di rumah Anda:
Definisikan sukses. Pertama, pahami arti sukses bagi anak Anda, saran Sam Goldstein, Ph.D., penulis Raising a Self Disiplined Child. “Sukses bagi seorang anak artinya terpilih masuk tim basket sekolah, bagi anak yang lain, sukses artinya bisa memasukkan bola ke gawang lawan saat bermain sepakbola,” kata Sam. Begitu Anda mengerti arti sukses bagi sang anak, Anda bisa mendapatkan ide untuk meningkat kepercayaan diri yang dibutuhkannya.
Berjuanglah. “Orangtua kadang merasa kalau anaknya bisa melakukan segala hal dengan baik,” ujar John Rosemond, M.D., psikolog keluarga yang mengasuh kolom konsultasi di beberapa suratkabar di Amerika Serikat. “Tak ada salahnya berjuang untuk mencapai sesuatu. Anak-anak bisa belajar meningkatkan rasa percaya dirinya bila orangtua membiarkan mereka melakukan kegiatan dengan cara mereka sendiri,” jelas John.
Mandiri. Timbulkan rasa motivasi dalam diri anak dengan cara memasang whiteboard lengkap dengan spidol dan penghapus. “Mencatat tugas dan jadwal mengumpulkan tugas itu, memicu anak untuk lebih mandiri, juga meningkatkan motivasi yang sifatnya intrinsik—yang merupakan dua faktor penting yang membangun rasa percaya diri, jelas John.
Pendekatan Personal. Bila anak Anda merasa gagal menghadapi ujian aljabar atau takut mengajak teman wanitanya berdansa, ceritakan padanya mengenai bagaimana Anda mengalami masa-masa sulit saat SMA. “Merasa sendirian saat melewati masa sulit dapat menghancurkan kepercayaan diri,” ujar Sam, “namun saat mengetahui bahwa ayahnya —bukan Einstein atau Edison— berhasil memecahkan masalah itu, membuatnya memiliki harapan yang memicu rasa percaya dirinya.”
Tumbuhkan Kompetisi. Olahraga beregu menumbuhkan sikap sportivitas dan keadilan dalam diri anak. “Karena olahraga beregu selalu menjunjung tinggi nilai-nilai terebut,” ujar John. “Rasa percaya diri akan dipelajari oleh sang anak di saat tim-nya mulai menanjak ke puncak sukses.” Jadi, buatlah anak Anda tertarik pada olahraga beregu. “Golf dan memancing tidak menjujung nilai itu,” jelas John. Sebaliknya, dukung anak Anda untuk lebih tertarik pada sepakbola atau bolabasket.
Bantu anak Anda membantu sesama. “Tindakan saling berbagi dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat —rasa percaya diri yang membuat seorang anak berpikir tentang hal apa yang bisa ia lakukan untuk membantu orang lain,” ujar Sam. Dengan cara ini, anak Anda akan mendapat perhatian dari orang lain akan jasanya, dan hal tersebut otomatis akan membuat sang anak menjadi lebih percaya diri. T. EDWARD NICKENS
