Home » Bertahan dari Masa ke Masa
Bagikan

Selama empat dekade, bisnis produk spring bed yang didirikan Andry Agus memimpin di kelasnya. Inilah perjalanan dan kiatnya melajukan bisnis.

Di awal tahun delapanpuluhan, ketika TVRI masih menjadi satu-satunya stasiun televisi, sebuah iklan spring bed ditayangkan di televisi. Sesosok jin cantik, tidur di atas spring bed yang kemudian setengah bagiannya dilindas oleh mobil silinder giling seberat 6 ton. Susunan pegas di dalam kasur, yang dibuat dengan teknologi mutakhir saat itu, membuktikan kualitas produk springbed tersebut. Seketika, iklan tersebut langsung menjadi trending topic saat itu. Ada pro dan kontra.

“Anda masih ingat iklan itu, kan?” tanya Andry, mengenang masa-masa tersebut, sambil tertawa bahagia.

Siang itu, dua hari menjelang Hari Raya Imlek, pertengahan Februari lalu, kami menemui  pria 79 tahun itu di kantor PT. Alga Jaya Raya, di pertokoan di kawasan Pinangsia Raya.  Andry Agus tampak bugar di usianya yang nyaris menyentuh delapan puluh tahun. Kemeja lengan pendek bermotif kotak-kotak kecil warna merah biru, melekat pas di tubuhnya yang jangkung. Sebuah jam tangan Rolex Submariner dengan case dan bracelet berlapis yellow gold, melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sebentuk cincin batu giok melingkar di jari manis tangan kanannya.

Untuk sebuah bisnis dengan reputasi sebesar Alga Spring Bed, kantor berlantai dua itu terhitung sangat sederhana. Lantai dasar difungsikan sebagai kantor penjualan sekaligus showroom. Andry menempati lantai dua bangunan itu.Ketika Jakarta dilanda banjir beberapa waktu lalu, air sempat masuk ke ruangan showroom di lantai dasar, hingga melebihi batas mata kaki. Tapi Andry sendiri tampaknya enggan memindahkan kantornya tersebut.

“Ini dulu tempat ayah saya,” kata Andry Agus tentang kantornya itu.  “Ayah pindah kemari dari kawasan Pintu Kecil. Di sini enak, mau makan apa saja ada. Bank juga dekat,” katanya seakan membela keputusannya untuk bertahan di lokasi itu. Dalam kepercayaan Tionghoa, bisa jadi di tempat itulah Andry Agus merasakan peruntungan bisnisnya. Pria kelahiran Tiongkok itu lalu bertutur bagaimana ia mulai membangun bisnis spring bed nya.

Jauh sebelum ia mendirikan bisnisnya, bakat berbisnis Andry sudah terasah sejak remaja. Kala itu, ia  sudah sering membantu ayahnya yang berbisnis tekstil dan batik di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Di era enampuluhan hingga awal tujuhpuluhan, Andry sempat mengimpor produk tekstil buatan Jepang. Lalu seolah mengikuti trend tumbuhnya perfilman nasional di era tujuhpuluhan tersebut, Andry pun sempat menjadi produser film. Tapi bisnis itu tidak berkembang.

“Saya tidak punya rencana untuk membangun bisnis spring bed,” ujar Andry yang di awal tahun tujuhpuluhan sempat melirik bisnis semen putih.

“Ada teman saya dari Taiwan yang menawari saya untuk bekerja sama menjalankan bisnis tersebut. Tapi setelah saya hitung-hitung, rasanya kok tidak pas. Lagipula, dia juga sudah ada kerja sama dengan Oom Liem,” ujar Andry, menyebut mendiang Liem Sioe Liong, konglomerat dari Salim Group.

Andry lalu mundur dari tawaran berbisnis semen putih yang ditawarkan oleh sang kawan. Tapi, sang kawan justru menawari Andry untuk berbisnis kasur pegas.

“Kebetulan, kawan saya itu juga punya bisnis spring bed berkualitas bagus di Taiwan.” Andry langsung menyambar peluang emas tersebut.

Saat itu spring bed masih menjadi barang baru di Taiwan dan Indonesia, karena masyarakat masih memakai kasur yang berisi bahan kapuk. Andry pun mempelajari teknologi pembuatannya dari nol.

            “Kasur kapuk memang empuk sehingga enak ditiduri, tapi tidak bagus untuk kesehatan karena tidak mampu menyangga tulang punggung,” kata Andry. “Akibatnya, tubuh terasa pegal saat bangun tidur. Yang lebih buruk, pemilihan kasur yang salah bisa mengakibatkan tubuh bungkuk.”

Maka sejak awal, Andry sudah menetapkan bahwa ia membuat spring bed untuk kesehatan. Dari tahun 1974 hingga 1975, ia membangun hall dan pabrik, melakukan riset dan melakukan uji coba produksi yang disesuaikannya dengan kebutuhan pasar, kesehatan dan postur tubuh orang Indonesia.

“Sebelum produk dipasarkan, saya selalu mencoba untuk tidur di spring bed Alga untuk membuktikan kualitasnya,” tutur Andry yang mencoba produknya tidak hanya semalam atau dua malam, tapi hingga berminggu-minggu.

“Saya perlu merasakan efeknya terhadap kesehatan saya,” kata Andry. Ia juga menawari beberapa temannya untuk menjadi ‘kelinci percobaan’. Setelah ia yakin dengan kualitas produk spring bed buatannya, Andry berani memasarkan produknya.

“Saya masih ingat, pada tanggal 12 Mei 1976 saya mulai melempar produk ke pasar,” ujar Andry yang saat itu meluncurkan produk pertamanya di stand Jakarta Fair.

Andry yakin bisnisnya berprospek cerah. Dan produk spring bed tersebut pun gencar diiklankan, termasuk melalui televisi di tahun delapan puluhan.

Kontroversi berkembang ketika iklan menunjukkan adegan spring bed Alga yang tidak hancur saat dilindas mesin silinder seberat 8 ton. Maka ketika di pertengahan tahun delapan puluhan, sebuah headline di koran Sinar Harapan menyerang produknya Andry terkejut.

“Padahal adegan itu untuk membuktikan kualitas spring bed buatan kami,” kata Andry yang mengatakan bahwa produk spring bed yang keras justru baik untuk kesehatan tulang punggung.

 “Dalam artikel tersebut, Permadi SH yang waktu itu duduk sebagai Ketua Lembaga Konsumen menyebut bahwa iklan Alga menipu dan meniru iklan dari luar negeri,” Andry mengisahkan satu episode dalam hidupnya, dimana bisnisnya mulai digoyang.

“Jujur saat itu saya kaget dengan berita itu. Saya akui memang ada sedikit terinspirasi dari iklan di luar negeri. Produk saya punya kelas tersendiri dan kualitas kan tidak bisa menipu,” kata Andry.

Ia lalu memanggil pengacaranya dan melayangkan surat keberatan kepada Ketua Lembaga Konsumen Indonesia tersebut.

“Saya protes karena tanpa ada konfirmasi, lembaga konsumen langsung menuduh Alga menipu. Saya meminta dia untuk cek dulu sebelum membuat opini,” ujar Andry.

Demi membuktikan kualitas produknya, Andry bahkan membawa hasil foto sinar X yang menunjukkan tulang punggungnya saat sedang tidur di kasur biasa dan di kasur Alga.

“Kami mengutamakan kepuasan konsumen. Bahkan kalau setelah membeli dan memakai kasur buatan kami malah terasa sakit, silahkan kembalikan.”

Akhirnya Andry mengajak Permadi SH untuk meninjau pabriknya di Bogor. Setelah melihat sendiri bagaimana spring bed tersebut dibuat, Permadi meralat pendapatnya. Meskipun iklannya meniru produk luar negeri, tapi kualitasnya sesuai dengan iklannya.

“Saya pernah bertanya kepada Pak Permadi siapa sebenarnya yang mencoba menggoyang bisnis saya. Tapi Pak permadi tidak mengatakannya. Dan dia lebih memilih untuk meminta maaf. Saya sangat hargai itu. Dia berjiwa besar,” tutur Andry.

Bertahun-tahun kemudian, Andry sempat bertemu lagi dengan Permadi, tanpa sengaja. Keduanya masih ingat peristiwa lalu yang justru mengakrabkan mereka itu.

“Waktu ketemu saya, Pak Permadi berkomentar, ‘Wah pantas Pak Andry kelihatan sehat terus, tidurnya di spring bed terus’,” kata Andry yang masih tampak sehat di usia senjanya.

Andry Agus tidak mendirikan bisnisnya dalam semalam. Ia sudah melewati masa jatuh bangun. Di usia senjanya, Andry bahkan tidak gentar untuk terjun langsung memimpin bisnisnya menghadapi situasi ekonomi yang menurutnya justru menurun.

“Tahun lalu paling buruk dalam sejarah bisnis saya. Pemilihan presiden tahun lalu sangat berpengaruh pada penjualan produk kami. Toh, kami tetap bertahan,” kata Andry sambil menikmati teh hijau yang dihidangkan istrinya. Wangi teh asli Cina yang dihidangkan dalam teko kaca itu tercium samar.  

“Lima belas lagi sudah ada tamu yang mau bertemu,” istrinya mengingatkan. Andry mengangguk. Ia tetap bersemangat.


Apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan sebuah bisnis yang dibangun dari bawah, untuk tetap bertahan dan sukses selama hampir empat dekade?

Fokus sejak awal
Sejak awal Andry memutuskan memproduksi springbed untuk kesehatan. Ia benar-benar fokus di usaha ini. Andry harus mengubah persepsi masyarakat tentang kebiasaan tidur sehat dengan memilih produk springbed kesehatan.

Terus berinovasi
Inovasi baru terus diciptakan demi memenuhi kebutuhan konsumen. Salah satunya, adalah mini pocket spring, pegas berukuran kecil yang mampu meredam kerasnya springbed super keras produk Alga. “Kami sudah mematenkannya,” kata Andry.

Menangkan kompetisi
Seluruh produk springbed nya tanpa busa dan terbuat dari bahan-bahan berkualitas, seperti polyester sisal, cotton sheet, conwed netting, dan pegas berkualitas tinggi dengan ketebalan hingga 2,5 milimeter (mm). Sempurna menopang tulang punggung. Andry membuktikan kualitas produknya dengan sejumlah penghargaan yang diraih.

Bertahan dalam krisis
Bisnis Andry yang moncer di era 80-90-an, jeblok saat krisis ekonomi 1998. Kondisi seperti mundur 10 tahun. Ia harus rela kehilangan sekitar 30% karyawan demi mempertahankan perusahaan. Kondisi membaik di tahun 2005. Tapi surut lagi di tahun 2014, saat Pemilu Presiden berlangsung sengit. “Tapi kami tetap bertahan,” kata Andry.


Kesuksesan bisnis Andry Agus tidak lepas dari 4 poin di bawah ini. Bagaimana dengan kesuksesan Anda?

Menjaga kesehatan
“Saya hidup teratur,” kata Andry. Demi menjaga kesehatannya,  Andry tidak minum es, menghindari minuman beralkohol, dan berhenti merokok sejak tahun 1982. Ia rajin mengonsumsi air putih, vitamin, madu dan teh cina.

Olah raga teratur
“Dulu saya rutin push up dan lari,” kata Andry. Sekarang setiap Senin, Rabu dan Jumat, ia lebih memilih jalan pagi, senam pernafasan. Biasanya aktivitas olah raga ia mulai jam 6 pagi selama satu jam. Lalu istirahat satu jam.

Menikmati hidup
“Di waktu senggang, saya suka jalan-jalan, nonton. Kadang sama anak-anak saya,” kata Andry. “Tapi anak-anak sudah besar, sudah punya urusan sendiri-sendiri. Seperti burung, kalau sudah besar, terbang meninggalkan sarang.”

Dukungan
Kesuksesan bisnis Andry tidak lepas dari dukungan istri, anak-anak dan keluarga besarnya, termasuk dukungan para karyawan yang telah bekerja bersamanya selama bertahun-tahun. “Semua memiliki peran dalam kesuksesan bisnis ini,” kata Andry.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment