Sebuah kata yang mudah diucapkan tapi sulit untuk dikeluarkan, kalimat ‘maaf’ seperti benda berharga yang jarang dijumpai belakangan ini
Oleh Arya Nangagra
Setiap weekend saya selalu mengizinkan anak saya, Audi (6 tahun) bersama kakaknya Marsel (8 tahun) untuk bermain Playstation seharian penuh mengingat saya sendiri pun lebih menginginkan untuk menghabiskan waktu dirumah saja ketimbang harus mengajak mereka keluar. Pada Satu jam pertama awalnya memang menyenangkan melihat kakak-beradik ini saling teriak mengingatkan ada musuh pada permainan mereka, lalu tiba-tiba tenang dan kemudian mereka tertawa lagi hingga dua jam kemudian terdengarlah suara tangisan Audi yang meronta-ronta di ruangan bermain tersebut. Kaget, saya pun berlari meninggalkan sofa dan membuang Koran yang sedang saya baca karena khawatir terjadi sesuatu, namun ternyata tidak terjadi hal yang menakutkan, saya hanya melihat Marsel yang asik bermain sendiri di depan televisi tanpa memberikan kesempatan pada adiknya untuk bermain. Audi pun mengadu bahwa kesempatan bermainnya dirampas oleh sang kakak dengan alasan audi tidak bisa bermain dan hanya menggangu saja.
Akhirnya saya hanya menggelengkan kepala dan menyuruh Marsel untuk meminta maaf. Nyatanya sang kakak malah tidak mau meminta maaf karena merasa tidak bersalah dan berdalih bahwa Audi terlalu cengeng untuk hal semacam ini. Hingga akhirnya saya mengancam akan mematikan Playstation tersebut barulah Marsel mau meminta maaf kepada Audi dan mereka pun bermain kembali. Namun hal ini akan menjadi masalah karena menurut istri saya, Marsel kerap kali melakukan hal tersebut ketika saya tidak ada dirumah hingga akhirnya saya pun harus mencari jalan keluar yang terbaik agar anak saya mengerti bagaimana caranya meminta maaf dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kemudian harinya.
Pahami Esensi Maaf
Menurut Dr. Rose Mini A. Prianto, M.Psi. kalimat maaf sangat mudah diucapkan kapan saja oleh seorang anak, namun yang terpenting bukanlah pengucapannya saja melainkan essensi dari kata maaf tersebut. Ajari anak Anda akan dampak positif dari pengucapan maaf, semisal jika anak Anda baru memukul adik atau temannya maka ingatkan ia akan konsekuensinya bahwa tindakannya tersebut akan membuatnya dijauhi sehingga ia tidak memiliki teman bermain lagi dan hanya maaf lah yang bisa memperbaiki kejadian tersebut.
Hukuman Bukan Segalanya
Memberikan anak hukuman atas tindakannya sering kali dilakukan oleh orang tua. “Secara behavior tindakan pemberian hukuman memang bisa merubah perilaku secara cepat, tapi belum tentu sesuatu yang terjadi secara cepat bisa bertahan lebih lama.” Ungkap Dr. Rose Mini. Lebih jelasnya lagi orang tua harus mengajarkan konsekuensi sebab dan akibat yang terjadi pada sebuah kesalahan untuk mencegah pengulangan kesalahan, apalagi pemberian hukuman yang berulang-uilang hanya akan membuat anak bersifat keras atau bahkan bisa membuat anak menjadi penakut.
Biarkan Anak Menjelaskan
Tumbuhnya rasa ego pada anak berimbas pada sulitnya anak untuk meminta maaf, karena itu berikan kesempatan pada anak agar ia bisa menjelaskan permasalahan yang ada. Pada kondisi ini orang tua harus bersifat netral dan harus mencoba melihat dari sudut pandang anak. Jika diketahui bersalah, maka usahakan untuk tidak menaikan nada bicara untuk menghindari kecenderungan anak melawan orang tua.
Berikan Contoh Baik
Tindakan orang tua adalah contoh bagi seorang anak. Dr. Rose Mini mengatakan bahwa sebaiknya seorang anak diberikan modeling dan induction yaitu penjelasan dan pemberian contoh yang baik . Jika Anda melakukan kesalahan di depan anak Anda seperti menumpahkan gelas, maka mengambil kain lap dan membersihkannya di depan anak Anda akan memberikan makna positif terhadap pola pikirnya.
Berikan Terus Kesempatan
Jika kata maaf tidak terucap tepat saat ia melakukan kesalahan maka ada baiknya Anda sebagai orang tua tidak menekan anak untuk mengucapkan saat itu juga. Biarkan anak berpikir akan kesalahan yang ia buat, hingga saatnya tiba maka ungkap kejadian sebelumnya lalu ingatkan akan kesalahan yang ia perbuat. Orang tua bisa juga menjadi perantara yang baik untuk mendamaikan kedua anak yang bertengkar.
Tunjukan Berbagai Cara
Meminta maaf tidak harus melalui kata-kata tapi bisa juga melalui sebuah tindakan. Dr. Rose Mini sendiri mengatakan bahwa Anak enggan meminta maaf karena akan tampak seperti kekalahan. Karena itu bimbing Anak untuk melakukan sesuatu perbuatan yang menyenangkan hati. Misalkan jika sang kakak enggan meminta maaf maka orang tua bisa membagikan coklat lalu menyuruh kakak untuk memberikan coklat kepada adiknya. Disini tidak ada kalimat yang terucap, tapi diharapkan anak mengerti bahwa ia baru saja melakukan kesalahan dan berusaha memperbaikinya tanpa menunjukan sesuatu kekalahan.
Tumbuhkan Empati Anak
Anak dengan rasa empati yang tinggi akan mengerti dan mencoba untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Karena itu coba ajak bicara buah hati Anda tentang permasalahan yang terjadi, misalkan jika ia baru saja memukul seseorang maka deskripsikan sebaik mungkin bahwa pukulan tersebut mengakibatkan orang menjadi sakit sehingga ia sadar dan menghindari untuk melakukan hal yang sama di kemudian hari.
Tetap Konsisten
Disiplin pada aturan yang telah Anda buat juga menjadi kunci utama agar anak tidak mengulangi kesalahannya. Jika suatu saat Anda membiarkan kesalahan yang dibuat lalu dikemudian hari Anda memaksakan aturan tersebut maka anak akan berpikir bahwa melakukan kesalahan di saat yang tepat tidak menimbulkan konsekuensi apapun.
Beri Pujian
Pujian bisa merupakan motivasi atas kegiatan positif yang anak lakukan. Coba ucapkan kalimat yang meninggikan hati anak saat ia berhasil meminta maaf, dengan begitu anak merasa bahwa mengucapkan maaf bukanlah sesuatu yang menakutkan.
