Jangan Memandang Rendah Barbie. Barbie bukan sekadar cewek cantik bertubuh aduhai dengan rumahnya yang menawan. Loh, kok?
Margot Robbie dan Greta Gerwig menjadi duet ampuh yang bukan kaleng-kaleng untuk film Barbie. Reputasi Robbie yang sebelumnya mantap dengan karakter Harley Quinn, dan Gerwig yang sakti membidani film-film perempuan, cukup membuat Barbie melebihi ekspektasi yang ada.
Di tangan Gerwig, Barbie tak hanya bicara tentang rambut tergerai kemilau, desain baju seru dan perabotan rumah yang unik dan lucu, tapi juga bicara tentang Barbie yang bosan dengan rutinitas, Barbie yang mempertahankan eksistensi dan … mempertanyakan alam kematian.

Ya, Barbie dalam versi live action ini menegaskan kalau kehidupan seorang perempuan tak hanya bicara mengenai tampilan luar saja. Barbie berhasil dibawa Gerwig (lewat skrip yang witty dan ‘gila’) menampar kehidupan perempuan era digital ini yang ‘terasa konsumtif’.
Barbie berhasil keluar dari dunianya yang serba pinky-winky.
Barbie bisa tak sempurna. Barbie bisa merasa berantakan.
Ya, Barbie keluar dari Barbie Land dan menapak di dunia nyata, para manusia berupa petinggi-petinggi korporat yang memproduksinya. Hebatnya, Barbie tak ingin dikuasai mereka dengan kembali ke dalam boks kotaknya. Barbie ingin bebas.
Kebebasan Barbie dibayar mahal. Barbie Land runtuh, Ken menguasai dengan kekuatan maskulinitasnya. Hingga di poin ini, kedalaman plot hanya bisa dimengerti oleh mereka yang sudah ngeh tentang superioritas gender.
Serunya, Gerwig bisa bermain-main dengan imajinasi para perempuan cilik dengan visualisasi yang khas Barbie.
Akting Margot Robbie Keluar dari Harley Quinn
Yes, jangan harap mata kita menemukan nyawa Harley Quinn, sang kekasih Joker, dari Robbie. Margot entah kenapa berhasil menggantikan senyuman atau seringai ‘fake’ Quinn dengan senyuman manis penuh gula khas Barbie!

Begitu pula dengan Ryan Gosling yang sebelumnya eksis melalui peran-peran menawan. Di sini Gosling berhasil berakting jenaka sebagai Ken yang polos, mengagungkan rasanya ke Barbie. Mual melihatnya? Tunggu dulu …
Ya, Barbie adalah film komikal yang menjepret kehidupan superior vs inferior bak dalam kemasan klip-klip pendek Reels atau TikTok.
Jepretan Gerwig (yang sebelumnya membidani Little Women dan White Noise, serta menggaet perhatian via Lady Bird) ini berhasil membuat sosok gagah Simu Liu yang ditangkap via Shang-Chi, menjadi Ken versi Asia yang flamboyan mencuri perhatian dengan tarian dan suaranya.

Meski Robbie berhasil memborong kilatan lampu sorot, Barbie berhasil diwarnai sedemikian rupa oleh penampilan-penampilan sosok seleb perempuan menawan, seperti Kate McKinnon, yang keren sebagai ‘Weird Barbie’, Alexandra Shipp sebagai ‘Writer Barbie’, Issa Rae sebagai ‘President Barbie’ hingga Dua Lipa sebagai ‘the Mermaid Barbie’ yang sekaligus mengisi lagu musik filmnya.
Bujet lebih dari 100 juta dolar
Biaya produksi yang terbilang wah, menembus 100 juta dolar, infonya, nih, 145 juta dolar, sepertinya memang sebanding dengan konten filmnya sendiri yang menawan. Tak hanya memanjakan mata, set-set yang dibangun memang tumplek-plek persis set-set mainan Barbie!
Barbie pun sangat strategis sebagai tontonan seluruh keluarga – tak hanya tontonan buat para perempuan saja, mengingat ada sosok Ken dengan porsi plot dan konten yang sepadan.
Nikmati selebrasi Barbenheimer
Dan bicara tentang konten Barbie, momen dirilisnya film ini berbarengan dengan Oppenheimer besutan Christopher Nolan – membuat Barbie ‘menang duluan’dari segi isi. Mengingat Barbie justru menjelaskan situasi ‘pertarungan gender’ laki-laki dan perempuan di dalamnya.
Meski film memang tak mengenal gender – apakah Barbie film perempuan atau Oppenheimer notabene film maskulin, secara nyata sosok kedua film ini memang mengambil proporsional masing-masing gender itu sendiri.
Jadi tak heran jika nanti ada satu teater yang penuh ibu-ibu beserta anak perempuan mereka menyaksikan Barbie (dan ada para ayah yang menyempil menemani anak-anak perempuan mereka menonton). Dan teater Oppenheimer dipenuhi para kaum Adam beserta konco-konco mereka.
Tapi justru hal tersebut terlihat sebagai selebrasi betapa serunya momen menonton film dari dua kubu gender (yang sebenarnya tak bisa dibilang bersaing).
Momen Barbenheimer yang mencuat saat Barbie dan Oppenheimer dirilis berbarengan di Indonesia pada 19 Juli 2023 ini, tentunya benar-benar sebagai momen selebrasi para penikmat film baik pria-wanita – yang haus tontonan bermutu (setelah mengalami pandemi selama kurang lebih 2,5 tahun).
Lupakan isu perilisan barengan Barbie dan Oppenheimer sebagai ajang tarung Christopher Nolan dan Warner Bros.
Lupakan poin Barbie adalah film cewek dan Oppenheimer adalah film cowok.
Rayakan saja momen ini dengan menikmati bahwa menonton film adalah momen asyik menikmati ‘kehidupan layar perak’!
Untuk Barbie sendiri: tentu saja layak ditonton saat weekend!
