Home » Filosofi Waktu
Bagikan

Tumbuh dalam keluarga pembuat jam, pria ini memiliki filosofinya sendiri tentang bagaimana menjalankan bisnis waktu.


Sore itu Dimitri Aubert muncul memakai dua jam tangan. Satu di pergelangan tangan kirinya melingkar jam tangan dari Bell & Ross. Sedangkan di pergelangan tangan kanannya melingkar jam tangan berlabel Frederique Constant.

            “Saya tidak pernah memakai dua jam tangan sekaligus. Sore ini kami membuka butik InTime, jadi ini momen istimewa,” ujar pria ini diiringi tawa. General Manager Luxury Timepiece Division dari FJ Benjamin Singapura tersebut memang datang ke Jakarta dalam rangka pembukaan InTime, butik jam tangan Time International yang pada tanggal 5 Februari lalu di Grand Indonesia Jakarta.

Dua puluh tahun sudah, Dimitri yang berasal dari kota pusat jam tangan Neuchatel, menekuni bidang luxury product. Ketertarikannya pada bisnis tersebut bukan tanpa sebab. Ayahnya memiliki bisnis jam tangan berlabel Catena.

“Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat pembuatan jam tangan di rumah. Ayah selalu menunjukkan produk-produk baru. Jadi saya selalu dekat dengan jam tangan.”

Dimitri mengisahkan bagaimana bisnis jam tangan sang ayah memberinya inspirasi akan keindahan yang kelak akan menentukan jalan hidupnya. Sayangnya, pada waktu itu Dimitri tidak bisa memberikan kontribusi  banyak kepada bisnis tersebut. Di tahun 1994-1997, Dimitri sempat menduduki posisi sebagai Area Manager untuk Catena.

“Ya, saat itu saya mulai bekerja dengan perusahaan ayah saya. Dan pada saat itulah ketertarikan saya pada bisnis ini menjadi semakin kuat. Saya banyak belajar. Tapi perusahaan itu sudah dijual, “ kisah Dimitri tentang perusahaan keluarga yang akhirnya berpindah tangan tersebut.

Selintas ada nada gamang dalam kalimat Dimitri. Meskipun demikian, kedekatannya dengan luxury product buatan keluarganya, membuka jalan karirnya menekuni sejumlah luxury product lainnya. Dimitri pernah berkarir di Bertolucci, produsen jam tangan asal Swiss dari tahun 1997 hingga 2001. Selanjutnya, Dimitri memilih berkarir di perusahaan jam tangan high-end, Girard-Perregaux, sejak 2001 hingga 2009. Brand lain yang sempat ditangani oleh Dimitri adalah Ulysse Nardin. Di perusahaan jam tangan yang didirikan di Le Locle Swiss pada tahun 1846, Dimitri hanya bertahan kurang dari dua tahun. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan FJ Benjamin perusahaan ritel dan distributor  high-end product yang bermarkas di Singapura. Sejak Agustus 2011, Dimitri duduk sebagai General Manager untuk Luxury & Lifestyle Timepieces yang menangani sejumlah brand, termasuk  Alpina, Julien Coudray, Guess, GC, Victorinox Swiss Army, Nautica, SuperDry dan Bell & Ross serta Frederique Constant.

“Sebuah luxury product harus mampu menggabungkan kesempurnaan dari sisi disain dan gaya. Selain itu, luxury juga menyangkut emosi. Sebenarnya sangat sulit menggabungkan semua komponen itu. Tapi jika sebuah produk mampu menggabungkan ketiganya, itu akan sempurna sekali,” kata Dimitri.

“Ketika Anda melihat sesuatu  yang sangat cocok dan sempurna untuk Anda dari segi disain dan gaya serta memberikan kenyamanan dan mampu mengikat emosi Anda, itulah luxury yang sebenarnya.”

Paduan disain, gaya, kenyamanan serta emosi itulah yang diusung oleh Dimitri Aubert hari itu lewat dua produk yang diusungnya hari itu bersama InTime: Bell & Ross dan Frederique Constant. Dimitri lalu membandingkan keduanya.

“Ini sangat menarik, karena Frederique Constant sangat berbeda dari Bell&Ross. Jamnya sangat berbeda dari jam klasik yang regular. Frederique Constant memiliki perceived value atasbrand yang jauh lebih tinggi daripada price point nya.”

“Saya melihat demand atau customer behavior di sini berubah karena InTime sangat profesional menggarap pasarnya,” ujar Dimitri, memuji mitranya tersebut.

“Selain itu, saya melihat, ada perubahan pola pembelian dalam masyarakat karena pengaruh eksternal seperti internet, game dan media sosial.”

“Bersama dengan InTime, kami mengenali dan memahami konsumen potensial kami. Sekali kami sudah berhasil mengidentifikasi mereka, kami tahu bagaimana memasarkan produk kami,” kata Dimitri.

 “Dalam bisnis ini, Anda juga belajar seiring waktu. Contohnya, kami akan lakukan lebih banyak aktivitas yang akan diarahkan langsung kepada customer kami untuk mengomunikasikan brand kami, seperti misalnya lewat event ini,” kata Dimitri.

“Pastikan bahwa Anda meraih customer yang menyukai pesan-pesan yang Anda sampaikan. Setelah pesan itu diterima dengan baik oleh customer Anda, dari situ Anda bisa melihat komunitas-komunitas tumbuh.”

Dimitri dengan jujur mengakui bahwa  pemasaran memang tidak pernah seratus persen benar.

“Selalu ada perbaikan untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi-kondisi riil,” ujar pria yang juga mengoleksi jam tangan tersebut.  

Ah, hanya dua belas buah dan itupun hanya jam-jam tertentu,” ujar Dimitri yang mengakui agak sulit untuk berinvestasi dalam bentuk jam tangan karena ia mengetahui industri ini luar dalam. Namun yang pasti, berinvestasi dalam jam tangan atau tidak, Anda harus memilih jam tangan yang tepat untuk Anda.

“Membeli jam tangan itu seperti membeli sepatu. Anda harus mencobanya dulu. Karena Anda tidak bisa memutuskan hanya dengan melihat showcase dan langsung menyukainya.”


Bahkan untuk melejitkan bisnis jam tangan pun perlu teamwork yang solid. Inilah kiat Dimitri Bauert, sang General Manager Luxury Timepiece Division dari FJ Benjamin Singapura, membentuk team super nya.

Membentuk teamwork solid
Untuk mencapai target bisnisnya, Dimitri sadar ia perlu merekrut orang-orang unggulan untuk membentuk teamwork yang solid. “Anda harus mencari orang-orang yang memiliki passion untuk menekuni dan menjalankan bisnis Anda,” kata Dimitri.

Passionate teamwork
Dengan passion, tidak ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan. Dan dengan passion pula team bisa bekerja lebih keras, membangun target dan tujuan mereka, dan menghargai apa yang mereka kerjakan. “Jika Anda tidak memiliki passion ketika Anda bekerja untuk industri jam tangan, Anda hanya akan melihatnya sebagai benda.”

Berikan pelatihan
Dimitri memberikan pelatihan tentang brand kepada anggota teamnya. Tujuannya untuk membekali mereka agar bisa mengedukasi mitra bisnis, customer, dan media. “Ketika mereka mengenal brand tersebut, saya berharap itu akan menjadi bagian dari diri mereka. Saya rasa itu kunci yang utama. Saya ingin anggota tim saya mencintai apa yang mereka kerjakan. Dan ini bisa berlaku untuk semua bidang industri,” kata Dimitri.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment