Home » Kenapa Harus Ada Indiana Jones and the Dial of Destiny?

Kenapa Harus Ada Indiana Jones and the Dial of Destiny?

by O.J.
Bagikan

Sesosok profesor tua yang suka menyelamatkan benda-benda purbakala, nyatanya bisa tetap eksis dalam rupa Indiana Jones. Masih menyengatkah?

Di era digital dimana kaum muda suka berseloroh ‘Ah, dasar generasi boomer’, sekonyong-konyong hadirlah sosok Indiana Jones!

Indiana Jones memang sosok yang melebihi eksistensi istilah ‘boomer’ itu sendiri. Bahkan boleh dibilang ia adalah sosok prasasti kuno dari deretan aksi petualangan demi petualangan menyelamatkan harta karun kuno yang ‘rare’ dan berharga.

Rasa sensasi bertualang menyelamatkan artefak-artefak harta karun itulah yang membawa Indy, panggilan akrab, Indiana, menjadi sosok ikonik layar perak selama berabad-abad.

Itu dimulai sejak film pertamanya, Raiders of the Lost Ark, yang muncul di 1981. Dimana Indy bertualang menyelamatkan Tabut Perjanjian Tuhan, yang dipercaya barang siapa sebagai pemiliknya akan punya kuasa tertinggi.

Kesuksesan formula petualangan kuno tanpa kecanggihan gawai dan komputer itu nyatanya membuahkan sukses. Raiders menjadi salah satu film laris di era ’80-an.

Tak heran aroma box office dicoba lagi dalam film keduanya, Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), yang kali ini berkutat seputar sekte terlarang, Kali, di India. Meski terbilang punya nyawa yang dark, lagi-lagi film Indy ini sukses sebagai tontonan.

Steven Spielberg dan George Lucas, sebagai dedengkotnya, kembali melanjutkan petualangan Indy lagi dalam kali ketiga via Indiana Jones and the Last Crusade (1989). Fokusnya pada pencarian cawan perjamuan terakhir Yesus yang diburu milyuner dan Nazi. Bisa ditebak, film ketiga ini sukses melebihi film kedua dan pertama.

Yang membuat film ketiganya sukses dan istimewa, sosok ayah Indy muncul dan diperankan aktor legendaris, Sean Connery. Chemistry Ford dan Connery pun terasa mantap paripurna!

Plot hubungan ayah dan anak yang seprofesi tapi berbeda satu sama lain dan dirundung hilangnya sosok perempuan sebagai istri dan ibu diantara keduanya terasa begitu prestis.

Tak dilupa, The Last Crusade menjadi film legend dari aksi aktor muda saat itu yang digadang sebagai the next big thing, River Phoenix. Sayangnya, Phoenix yang memerankan Indy muda tak berusia lama.

Tapi tiga film Indy tersebut sempat terhenti nyaris seabad lebih.

Syukurlah para dedengkot terutam Harrison Ford, sang pemeran Indy, memiliki usia panjang.

Pada bilangan era 2000, tepatnya di 2008, Indy kembali menorehkan aksinya via Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull.

Disini Indy berhadapan dengan isu yang lebih modern, UFO. Sosok Indy pun digadang punya penerus, yang diperankan Shia LaBeouf. Meski sukses secara box office, rencananya regenerasi Ford ke tangan LaBeouf menguap – menyusul attitude sang aktor.

Dari rencana mematenkan Indiana Jones dalam tiga film alias trilogi, pada akhirnya aksi Indy ada pada format pentalogy alias lima film. Itulah karena kemunculan the Dial of Destiny ini.

Aksi baru, rasa lama Indiana Jones

Meski terbilang baru, aksi Indy dalam the Dial of Destiny tetaplah terasa lama atau sebut saja klasik.

Kali ini Indy harus berkutat seputar perjuangan mencari artefak bernama Antikytera, sebuah mekanisme kuno dari zaman Syria yang dipercaya bisa berfungsi sebagai mesin waktu, membawa orang yang menggunakannya kembali ke masa lalu.

Indy harus berhadapan dengan anak teman baiknya, Helena, yang punya intelejensia dan skill tentang sejarah dan bahasa, persis seperti Indy. Indy pun tak hanya harus menghadapi Helena tapi juga musuh klasiknya, Nazi.

Performa Harrison Ford

Yang menarik, Harrison Ford sempat tampil dalam rupa wajah muda, di bilangan 30 tahun. Ini apalagi kalau bukan berkat CGI yang canggih. Performa tarung Indy dalam rupa Ford sekarang pun masih terbilang asyik, meski tak bisa dibilang prima, tapi cukup menyenangkan melihatnya mengayunkan cemeti!

Plot The Dial of Destiny terbilang mengasyikkan meski tak bisa dibilang istimewa. Beberapa adegan tarungnya memang khas Indiana Jones, adegan-adegan perburuan petunjuk demi petunjuknya juga masih mengasyikkan. Cukup memberikan rasa nostalgia kepada trilogi film pertamanya.

Yang bikin beda, Ford berhadapan dengan sosok Phoebe Waller-Bridge yang berperan sebagai Helena, yang notabene terasa seperti Indy versi perempuan. Jadi tak heran, jika ke depannya bisa jadi spin-off dari Indy. Meski kembali lagi ke keputusan para petinggi studio Fox, eh, Disney, yang sekarang memegang kendali atas semua aksi khas Indiana Jones.

Patut dicatat, Mads Mikkelsen berhasil tampil sebagai antagonis yang sadis. Tapi memang bukanlah menjadi performa hebatnya, tapi cukup sebagai peramu bentrokan demi bentrokan seru antara dirinya dengan Ford.

Indiana Jones (Harrison Ford) in Lucasfilm’s IJ5. ©2022 Lucasfilm Ltd. & TM. All Rights Reserved.

Musik skor dari John Williams tetap menjadi nyawa utama aksi Indy di sini. Dan bisa jadi, ini menjadi film penghujung Indy, mengingat semua peramu petualangan Indy sudah berusia senja.

Jadi, kembali menjawab pertanyaan di awal tulisan ini: ‘Kenapa Harus Ada Indiana Jones and the Dial of Destiny’ ?

Tentu saja simpel jawabannya: hingga detik ini belum ada karakter petualangan yang kuat dengan segala aspek ramuannya yang bisa menandingi keikonikan Indiana Jones.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment