Home » Kekuatan Implementasi
Bagikan

Tidak ada yang sempurna dalam hidup. Tapi memiliki karakter perfeksionis dalam dosis yang moderat, bisa membawa kesuksesan untuk bisnis Anda, seperti yang dijalankan David Santoso.

Tidak salah jika Anda memiliki sedikit karakter perfeksionis jika Anda tahu bagaimana memanfaatkan ‘kekuatan’ Anda itu. David Santoso agaknya memiliki karakter itu. Dokter yang pernah duduk sebagai CEO Siloam Hospital Makassar tersebut, kini dipercaya duduk sebagai CEO Mayapada Hospital sejak sekitar satu setengah tahun lalu. Tujuan utamanya: membawa rumah sakit yang berada di bawah grup Mayapada tersebut, menjadi rumah sakit yang memiliki standar dan reputasi internasional. Dan untuk itu memang harus sempurna.

“Jujur saja, beberapa tahun lalu ada banyak salah kaprah tentang istilah internasional untuk rumah sakit,” ujar David mulai mengritisi.

Salah satu kesalahkaprahan itu adalah pemakaian kata ‘internasional’ yang menurut David seringkali tidak sesuai dengan pakemnya.

“Untuk mendapatkan predikat rumah sakit internasional, sebuah rumah sakit harus memenuhi sejumlah syarat yang ditetapkan oleh badan sertifikasi international yaitu JCIA,” David menyebutkan lembaga Join Commission International Accreditation di Houston, Amerika Serikat.

“Ada banyak aspek yang harus diukur kualitasnya. Semua ada parameternya. Sejak mulai pasien masuk sampai dengan pasien itu meninggalkan rumah sakit, semua harus terukur.”

“Kalau kita bisa memenuhi semua kualifikasi yang mereka tetapkan, barulah kita mendapatkan sertifikasi internasional, JCIA.”

Rasanya David layak bersemangat menjelaskan tentang hal itu. Ketika ia duduk sebagai Head of Emergency Rumah Sakit Siloam Karawaci, ia pernah berada dalam tim yang bekerja keras untuk mendapatkan sertifikasi JCIA di tahun 2004.

“Waktu itu saya juga terlibat aktif dalam tim di bawah pimpinan dr. Grace Frelita yang menyediakan semua parameter yang disyaratkan. Setiap tahun, diulang. Ketika pengajuan sertifikasi yang pertama, saya termasuk yang disurvei,” ujar David yang pada waktu itu menjadi Kepala IGD.

Pada periode kedua dimana David sudah beralih menjadi corporate medical officer, David juga berperan dalam perolehan sertifikasi internasional. Sedangkan pada periode ketiga, David berperan sebagai internal auditor yang

“Jadi saya tahu apa saja standar yang ditetapkan yang diminta oleh JCIA, yang mempersyaratkan sebuah rumah sakit memiliki sertifikasi internasional. Itu yang hendak saya bawa ke Mayapada,” kata David.

Pengetahun dan skill itulah yang dibawa David ketika menjadi CEO Rumah Sakit Siloam di Makassar. Dari awal, David beserta timnya sudah men-setting nya dengan standar JCI. Mereka berkeliling ke rumah sakit – rumah sakit yang berada di bawah naungan Siloam.

Saat David akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Mayapada Hospital sebagai CEO, ia melihat rumah sakit tersebut memiliki banyak sekali keunggulan dan memiliki standar internasional.

“Tapi yang lebih penting daripada akreditasi adalah implementasinya,” ujar David. “Bukan hanya gedung atau alat-alat. Tetapi bagaimana sumber daya manusianya. Bagaimana kualitas pelayanannya. Bagaimana quality control bisa melakukan deteksi dini, terhadap kemungkinan-kemungkinan timbulnya kesalahan dalam pelayanan rumah sakit.”

David mengakui bahwa ada banyak lubang yang belum digarap maksimal, ketika ia mulai bergabung. Ada banyak hal yang harus diperbaikinya sebelum akhirnya ia menjalankan sejumlah rencananya untuk melajukan ‘kapal baru’-nya tersebut.

David bahkan mengakui saat ini sudah ada banyak rumah sakit bagus yang dibangun di Jakarta. Ibaratnya, tidak mudah untuk memenangkan persaingan, tapi juga tidak lantas membuat semangat bersaing menjadi padam.

“Untuk bersaing dan memenangkan kompetisi dalam bisnis rumah sakit, kita harus berani terus berinovasi. Selain itu harus menjaga kualitas mutu pelayananan. Dua hal ini menjadi pegangan saya dalam memimpin Rumah Sakit Mayapada selama hampir dua tahun ini,” ujar David.

Diakuinya apa yang dilakukannya mungkin terdengar umum dilakukan dimanapun. Tapi implementasi rencana yang dilakukannya tidak hanya pepesan kosong. Rumah Sakit Mayapada yang berlokasi di Lebak Bulus berhasil menawarkan

“Saya membuat sejumlah deregulasi yang membuat customer kami merasa dilayani lebih cepat, merasa lebih baik, daripada ketika mereka pergi ke rumah sakit lain,” ujar David yang menyebut tingkat kepuasan pelanggan rumah sakitnya saat ini mencapai 95%.

“Kami mengukurnya setiap bulan. Ini perlu kami lakukan agar kami tahu, bagian apa saja yang perlu dibenahi. Memang belum sempurna, tapi saya yakin kami on the right track.”

David lalu mencoba membandingkan rumah sakit bertaraf internasional di Indonesia dengan rumah sakit bertaraf sama di Singapura.

“Yang membedakan keduanya sebenarnya hanya satu, pelayanannya,” tegas David. “Oleh karena itu kita harus mampu mengadaptasi kualitas pelayanan yang prima untuk diimplementasikan untuk melayani customer kita. Dan itu sebenarnya tidak sulit. Tergantung, kita mau berubah untuk menuju lebih baik atau tidak.”

Sehat Tak Perlu Rumit

Kata siapa bahwa untuk memilki tubuh sehat Anda harus menjalankan sejumlah aturan diet yang rumit dan olah raga yang menguras energi? CEO Mayapada Hospital memiliki beberapa kiat menuju hidup yang sehat dan gembira.

Olah raga rutin
Meski mengakui bahwa kesibukannya sangat menyita waktu, David masih berusaha menyempatkan diri untuk berolah raga. “Bagi saya, olah raga itu sangat penting untuk menjaga kebugaran. Setidaknya saya selalu menyempatkan diri untuk jalan kaki, entah di sekitar apartmen saya, atau di mesin treadmill, sekitar 45 menit.”

Berikan batasan
Saat tinggal di Makassar, berat badan Davis sempat melonjak karena menyantap beragam hidangan lezat dari kota itu. “Tapi saya sadar, makan berlebihan sangat buruk bagi kesehatan. Sekarang saya menjaganya dengan membatasi jumlah dan porsinya. Anda masih bisa menikmati makanan kesukaan Anda, tapi tetap sehat.”

Selalu Gembira
Salah satu cara David bergembira adalah  dengan menonton konser. “Saya menyukai semua jenis musik, yang penting musik harus memberi energi baru yang positif bagi diri kita,” kata David yang sempat menikmati konser Michael Buble beberapa waktu lalu di ICE BSD City. “Akhirnya Jakarta punya gedung konser yang bagus,” puji David.

Jalankan hobi
Satu lagi yang membuat David merasa energinya selalu terbarukan adalah menikmati hobi. Penyuka hobi fotografi ini meluangkan waktu akhir minggunya untuk berburu foto. “Tidak selalu hunting di tempat yang jauh,” kata David. “Memotret di sekitar tempat tinggal Anda pun bisa menemukan obyek yang menarik.


Best Watch
“Tag Heuer, Carrera series dan Aqua Racer, simple dan terkesan kokoh.”

Best Perfume
“Gucci Guilty Intense, aromanya kuat tapi ringan.”

Best Car
“Tidak terlalu suka mobil, tapi kalau harus beli : Mini Cooper atau VW Tiguan.”

Best Gadget
“Ipad.”

Best Music
“Sarah Brightman, album ‘Eden’.”


Best Movie
“Gone with the Wind dan The Bourne trylogy.”

Best Destination
“Bali Timur, masih innocent dan magis.”

The most critical time
“Jam 9 pagi – 12 siang.”

The most simple luxury
“Sabtu pagi, ngopi di balkon sambil menikmati pemandangan Jakarta.”

The most sophisticated luxury
“3 hari 2 malam di Karma Kandara Bali.”


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment