Home » Keseimbangan dari atas Motor
Bagikan

Direktur Utama JEC Menteng ini memiliki kiat menyeimbangkan hidup di antara jadwal praktek yang padat dan menguras energi: melajukan motor gede.

Jika ada sosok yang berada di tempat namun sulit ditangkap, barangkali  dr.Setiyo Budi Riyanto SpM(K) bisa mewakilinya. Sehari-hari, Direktur Utama Jakarta Eye Center (JEC) Menteng yang juga berpraktek di JEC Kedoya, sangat padat oleh jadwal praktek, meeting dan operasi mata yang harus ditanganinya.

“Ya, jadwal saya memang sangat penuh. Ini hanya sebagian dari kegiatan saya,” kata ayah dua anak yang akrab disapa dengan ‘Dokter Budi’ ini.

Dokter yang lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1988 ini lalu melanjutkan pendidikannya sebagai spesialis mata dari almamater yang sama dan lulus pada 1999. Pada tahun 2002, pria penggemar olah raga golf ini mengikuti program Cataract and Refractive Surgery, juga di Universitas Indonesia, dan mendapat gelar Konsultan Katarak dan Bedah Refraktif tahun 2008.

Saat ini selain kegiatan praktek dan operasi yang menyita sebagian besar waktunya, Dokter Budi masih aktif sebagai Presiden pada INASCRS (Indonesian Society Cataract and Refractive Surgery dan menjadi Ketua Service atau Head of Cataract and Refractive Surgery Service JEC. Meskipun demikian, ia masih mampu mengalokasikan waktunya juga untuk terlibat dalam sejumlah kegiatan sosial melalui Coporate Social Responsibility yang diadakan oleh JEC.

“Sebagai dokter saya tidak boleh membedakan pasien saya, apakah ia dari kelas atas, menengah atau bawah. Dan kalau kita bicara tentang betapa sibuknya kita sehari-hari, tidak akan ada habisnya. Tapi kita harus bisa menyeimbangkan semuanya,” kata Dokter Budi.

Lalu sudah seimbangkah kehidupan pria ini? Dokter Budi tersenyum. “Saya mencoba menyeimbangkannya melalui banyak hal,” katanya.

Tidak mudah memang, karena meskipun keluarganya terhitung kecil karena hanya memiliki dua anak, semua anggota keluarga Dokter Budi memiliki kesibukannya masing-masing.

“Istri saya dokter spesialis anak, anak pertama saya sudah lulus dokter umum, dan dia memiliki jadwal yang padat karena saat ini sedang menempuh pendidikan spesialis mata. Suaminya juga Dokter Spesialis Mata baru lulus tahun ini. Anak kedua saya sekarang sedang sekolah kedokteran Umum di UGM.  Makanya kami perlu mengalokasikan waktu setidaknya sekali seminggu atau dua kali seminggu untuk berkumpul,” Dokter Budi bercerita panjang lebar.

Lalu apa biasanya yang mereka lakukan saat berkumpul? “Biasanya kami jalan ke mall, ngopi bareng, makan malam,” kata Dokter Budi.

Hmm, rasanya itu adalah cara-cara lazim yang biasa dilakukan oleh keluarga manapun. Mungkin menurut keluarga lain, itu tidak istimewa karena keluarga lain juga melakukan cara-cara yang sama untuk menikmati waktu bersama keluarga. Tapi kepiawaian Dokter Budi dan keluarganya untuk menyesuaikan waktu mereka di antara jadwal yang padat, perlu kita apresiasi. Karena pria ini toh masih memiliki energi yang besar untuk bermain golf dan berkumpul dengan rekan-rekan sejawatnya yang tergabung dalam komunitas motor gede, MedDocs (kelompok Dokter yang hobby Motor gede)

“Ya, aktivitas lain yang saya pakai untuk menyeimbangkan kehidupan sayam selain berkumpul dengan keluarga, juga meluangkan waktu untuk bisa berkumpul dengan teman-teman yang mempunyai hobi yang sama, naik motor gede,” kata Dokter Budi.  Wajah pria ini mulai berbinar ketika ia membuka diri tentang ketertarikannya pada motor gede.

“Saya mulai aktif hobi motor gede sudah sekitar enam tahun ini,” Dokter Budi mulai menuturkan.

“Tapi sebenarnya, saya mulai suka motor gede sejak saya masih muda. Waktu itu, kalau saya dengar suara derum mesin motor gede, rasanya diri saya juga ikut bergetar,” pria ini tertawa lebar ketika melukiskan perasaannya kala itu.

 “Tapi dulu kan saya belum punya duit. Belum mampu beli motor gede. Jadinya hanya bisa mengagumi,” katanya dalam pandangan yang sedikit menerawang.

“Sekarang, setelah saya punya motor gede sendiri saya bisa merasakan sensasinya. Kepuasan itu semakin bertambah ketika saya duduk di sadelnya. Ada perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Terlihat semakin macho,” kata pria yang memiliki motor gede beroda tiga, Harley Davidson Ultra Classic Triglide. Selama 6 tahun ini sudah empat kali berganti motor Gede dengan berbagai type, tapi selalu memakai Harley Davidson ( Type Sporter, Electra Glide, Ultra Classic )

“Ketika Anda naik motor gede, lalu menyalakan mesinnya, dan mendengar suaranya, Anda akan merasakan power nya dan kebanggaan yang kuat,” katanya lagi.

Sayangnya, saking sibuknya, pria ini hanya bisa mengendarai motor gede kesayangannya itu sekali dalam seminggu.

“Kalau motor saya sedang diservis dan di rumah tidak ada motor, rasanya ada yang kurang. Pusing deh, hahaha,” kata Dokter Budi disusul tawa yang menghidupkan suasana ruang prakteknya yang tenang di JEC Kedoya, siang itu, ketika Best Life menemuinya.

“Saat ini Motor saya hanya satu ( Harley davidson Ultra Classic Triglide),, makanya kalau motor saya diservis, saat hari Minggu motor harus ada di rumah,” kata pria yang pernah turut dalam rombongan komunitas motor gedenya untuk touring hingga ke Bali.

“Awal Juni ini kami touring ke Bandung sebagai rangkaian dari agenda pembentukan chapter baru MedDocs di Bandung.”

Mengendarai motor gede dengan sensasi yang dirasakan, tentu mengasyikkan. Sayangnya, sensasi itu hanya bisa dirasakan oleh sang pengandara. Karena justru  kerap kali ada sebagian kalangan masyarakat yang merasa terganggu saat sebuah motor gede melintas, apalagi ketika serombongan motor gede mulai mengambil alih jalanan dan menghalangi pengguna jalan lainnya.

“Saya tidak memungkiri bahwa ada tudingan dari sebagian masyarakat bahwa ketika komunitas motor gede sudah mulai jalan, sering kali merepotkan,” kata Dokter Budi mencoba memahami keberatan sebagian kalangan masyarakat.

“Kebetulan saya senang motor, dan teman-teman dalam komunitas itu adalah para dokter yang juga senang motor.  Jadi karena kami satu profesi, kami naik motor hanya untuk fun. Tidak maksud lain, apalagi untuk ugal-ugalan,” katanya.

“Kami menghormati para pemakai jalan dan rambu-rambu lalu lintas, misalnya berhenti saat lampu merah. Walaupun kami juga dijaga vooreijder (pengawal iring-iringan) kami tetap harus disiplin. Kami bahkan sampaikan kepada polisi yang menjaga kami, bahwa sebagai komunitas dokter, kami tidak ingin menampilkan kesan ugal-ugalan,” kata Dokter Budi.

“Motor gede itu besar, berat, dan mudah panas. Jadi kami membutuhkan vooreijder untuk membuka jalur yang kami lewati agar motor tidak bermasalah dan malah mengganggu pengguna jalan lainnya. Kalau jalannya pelan, justru berisiko mengalami tabrakan atau kecelakaan. Jadi sebenarnya salah satu untuk menghindarkan pengendara motor gede dari kecelakaan adalah dengan menggunakan vooreijder. Jadi bukan untuk gaya-gayaan,” kata Dokter Budi, menglarifikasi.

Hobi memang kerap kali menyita waktu penggemarnya. Namun sesayang-sayangnya Dokter Budi pada motor gede beroda tiga miliknya, dan betapa ia senang saat mengendarainya, pria ini menyanggah ketika ditanyakan apakah lalu Harley Davidson Ultra Classic Triglide itu kemudian kerap ‘dicemburui’ istrinya.

“Tidak sampai seperti itulah, bagaimanapun juga istri tetap nomor satu,” kata Dokter Budi.

“Istri dan anak-anak saya mendukung hobi saya itu. Tapi istri saya tidak pernah ikut touring. Takut, katanya,” kata pria ini sambil tertawa.

Hmm, jadi hobi mengendarai motor gede ini bisa sepenuhnya menjadi ‘me time’ untuk Dokter ya? Lanjut, Dok. Brrrrmmm…

Boks

Bermotor gede  memiliki resiko yang tidak kecil, agar Anda bisa menikmati hobi ini dengan optimal, ikuti sejumlah tip dari dr.Setiyo Budi Riyanto ini:  

Kondisi badan Fit
Ya, kesehatan Anda harus prima untuk bisa mengendarai motor gede dengan aman dan nyaman. Lakukan olah raga pendukung secara teratur misalnya, jogging yang dipadukan dengan angkat berat.  Apapun olah raga yang Anda lakukan diharapkan bisa mendukung kemampuan Anda bermotor gede. Sedangkan dokter budi rupanya memilih golf sebagai salah satu olah raga yang dipilihnya.

Penglihatan prima
Anda pikir ini hal sepele? Ternyata tidak. Dalam mengendarai motor gede pun, penglihatan juga harus prima. Menurut Dokter Setiyo Budi Riyanto, “Penglihatan kita harus bagus dan tidak ada gangguan. Gangguan mata minus apalagi katarak bisa membuat pengendara celaka.” Nah, rasanya Anda perlu memeriksakan mata Anda sebelum Anda memacu motor gede Anda keluar dari garasi rumah.

Berlatih
Anda perlu berlatih mengendarai motor gede sebelum Anda terjun ikut touring, misalnya mengikuti pelatihan safety riding. Bagimana menyalip dengan aman tanpa mencelakai kendaraan yang disalip, atau bagaimana menikung dengan benar hingga terhindar dari kecelakaan.  “Komunitas kami, Meddocs, sering memfasilitasi pelatihan safety riding ini. Tapi kami juga sering bergabung dengan HOG (Harley Owner Group) dan HDCI (Harley Davidson Club Indonesia)” kata Dokter Budi.

Motor prima
Apapun motor gede yang Anda kendarai, motor seharusnya dalam kondisi yang prima. “Ini sangat penting untuk menghindari kecelakaan yang diakibatkan karena kondisi motor yang buruk,” kata Dokter Budi. Oleh karena itu, lakukan servis berkala agak kondisi motor Anda selalu terjaga. “Tapi saya selalu usahakan kalau motor saya diservis, hari Minggu motor itu sudah ada di garasi saya, kalau garasi kosong, saya tidak tahu harus ngapain,” kata Dokter Budi sambil tersenyum


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment