Home » Mission Impossible: Dead Reckoning Part 1 Penuh Action, Intrik, dan Kematian Tingkat Tinggi

Mission Impossible: Dead Reckoning Part 1 Penuh Action, Intrik, dan Kematian Tingkat Tinggi

by O.J.
Bagikan

Ethan Hunt memang bukan sekadar agen rahasia biasa. Aksinya sebagai agen IMF (yang bukan instansi keuangan dunia. Hahaha!) memang tak terbendung sejak Mission: Impossible pertama di 1996. Lalu, bagaimana dengan sosoknya dalam film ketujuhnya, Dead Reckoning Pt.1 ini?

Memori apa yang paling mudah banget melekat di kepala jika ngomongin tentang Mission: Impossible dalam kurasi sebuah film?

Bisa lagu tema ciptaannya yang legend banget hasil karya Lalo Schifrin, bisa media delegasi misi yang mengambil berbagai rupa dari layar TV di dek pesawat, kacamata hitam, hingga telepon umum trotoar, bisa adegan-adegan gila menantang, hingga akhirnya bisa pada deretan peralatan canggih, terutama set mesin pembuat topeng – yang kerap dipakai untuk mengelabui lawan spionase IMF aka Ethan Hunt.

Dari semuanya itu kita bisa melihat kalau ramuan film-film Mission: Impossible memang berbeda jauh dengan ramuan film-film spionase tandingannya, 007.

Yes, harap dibedakan. Ethan Hunt adalah agen rahasia Amerika yang notabene dari organisasi mata-mata swasta, sedangkan 007, James Bond, agen rahasia Inggris dari organisasi mata-mata, MI6, yang notabene resmi kepunyaan pemerintahan Inggris.

Jadi bisa dilihat, kenapa Tom Cruise begitu ngotot untuk ‘mengubah’ konteks serial Mission:Impossible menjadi ‘franchise Tom Cruise’. Mengingat Amerika (sebelum kemunculan film pertama Mission: Impossible), belumlah memiliki franchise agen rahasia yang ‘trademark’ atau ‘establish’.

Bagaimana Jack Ryan? Bagaimana dengan Jason Bourne?

The Bourne Identity milik Jason Bourne baru muncul di 2002, diselesaikan dengan apik oleh Matt Damon di 2007. Lalu coba dibangkitkan Jeremy Renner di 2012. Dan coba dihidupkan lagi oleh Damon di 2016. Dan hingga kini … Menguap.

Jack Ryan muncul di The Hunt for Red October pada 1990 via sosok Alec Baldwin.

Jack Ryan versi Alec Baldwon tak berlanjut. Lucunya, Alec Baldwin sempat nongol di Mission: Impossible – Rogue Nation dan Mission: Impossible – Fallout sebagai atasan Ethan Hunt!

Lalu muncul melalui sosok solid Harison Ford di dua film, Patriot Games (1992) dan Clear and Present Danger (1994).

Sayangnya tak berlanjut, aksi Ford sebagai Ryan tak berlanjut.

Saat sosok agen rahasia AS itu diangkat ke film lagi via The Sum of All Fears, sosoknya dipekat Ben Affleck.

Dan Jack Ryan dicoba dihidupkan lagi pada 2014 lewat sosok Chris Pine dalam Jack Ryan: Shadow Recruit, cukup menjanjikan, tapi sayangnya lagi-lagi tak berlanjut. Yes, tak ada konsistensi pada Jack Ryan, padahal volume film-filmnya cukup menawan dan nyawa Jack Ryan sebenarnya sudah kuat karena gudang plot-plot seru tokoh karangan Tom Clancy melalui buku-bukunya.

Toh, pada akhirnya Tom Clancy’s Jack Ryan menjadi konsistensi Jack Ryan meski dalam format serial yang diperankan John Kransinski.

Jadi bisa dibilang, langkah Tom Cruise untuk membela Amerika di kancah perfilman spionase benar-benar tepat.

Cruise begitu konsisten membangun eksistensi Ethan Hunt sejak film pertamanya di 1996.

Dengan beraninya, skrip bikinan David Koepp dan Robert Towne, melibas habis eksistensi pentolan pimpinan IMF dengan mem-plot-nya menjadi rogue alias berkhianat demi kocek pribadi. Notabene Hunt-lah yang menjadi satu-satunya agen IMF yang eksis, sekaligus menjadi pondasi film-film Mission: Impossible hingga kini.

Adegan pembobolan markas besar CIA di Langley di film pertamanya termasuk ‘legend’ dengan porsi tubuh Hunt yang bergantung pada tali tanpa menjejak ruangan data sedetik pun, menjadi adegan klasik yang belum ada tandingannya hingga kini.

Sayangnya, aksi Cruise sebagai Ethan Hunt di film keduanya, Mission: Impossible II kedodoran. Meski ditangani sineas handal film-film action Asia saat itu, John Woo, aksi kedua Hunt terbilang standar, skripnya pun cenderung biasa, tak ada yang bisa dikenang.

Kecuali adegan Hunt sedang ber-rock climbing di awal film tanpa pengaman apapun dan ‘scene’ dimana Hunt melempar kacamata hitamnya setelah menerima info misi terbaru. Atau adegan-adegan slow-mo burung-burung merpati terbang khas John Woo yang dramatis. Kering.

Toh, Cruise belum putus asa. Butuh waktu 6 tahun sebelum akhirnya Cruise siap melanjutkan aksi Ethan Hunt lewat film ketiga, Mission: Impossible III.

Timing-nya cocok. Ada J.J.Abrams yang saat itu baru panas setelah kelar membidani film drama sci-fi, Cloverfield, sebagai produser, dan sebelumnya meramu serial ALIAS dan Lost, yang hingga kini belum ada tandingannya.

Cruise pun mendapuk Abrams sebagai sutradara Mission: Impossible III, dan era Hunt dengan disorot dengan kamera handheld dan intrik yang berlapis pun dimulai.

Jika unsur melankolis drama di film kedua sudah ditampilkan dengan Hunt yang jatuh cinta pada pencuri profesional – digadang sebagai plot yang bikin Mission flop, justru Cruise berani mengambil plot ‘agen rahasia yang menikah’ di film ketiga Hunt.

Hasilnya?

Ramuan intrik, kehidupan pribadi dan adegan aksi penuh ledakan yang legend tumpah-ruah, dan menaikkan skor menawan dari para kritisi dan penonton. Ramuan inilah yang lalu dikembangkan Cruise di Mission: Impossible selanjutnya, Ghost Protocol.

Mission: Impossible – Ghost Protocol berlanjut dengan deretan adegan-adegan aksi yang lebih gila, seperti memanjat gedung tertinggi di dunia (saat itu), Burj Khalifa. Intrik-intrik diramu lebih kuat, Hunt menghadapi jurus-jurus The Syndicate, organisasi kriminal yang masih disajikan abu-abu di film keempat Mission ini.

Dalam film kelima ‘lah, Mission: Impossible – Rogue Nation, Hunt baru menghadapi The Syndicate dengan blak-blakan. Taruhlah The Syndicate ini adalah Spectre-nya Mission: Impossible. Kebut-kebutan motor dengan sosok Ilsa Faust (Rebecca Ferguson), adu intrik dan hi-tech tetap berlangsung,

Rogue Nation ditangani Christopher McQuarrie yang menjadikan film ini terasa begitu lebih intens.

Meski terasa wah, tapi Rogue Nation hanya menyisakan adegan gila Ethan Hunt bergelantungan di sisi luar pesawat tanpa pengaman dalam memori. Dan tentu, itu dilakukan Cruise tanpa stunt-manjust like Jackir Chan did with all his films

Mission: Impossible – Fallout sebagai film ke-6, dirilis, dan menghadirkan sosok agen CIA sebagai lawan Ethan Hunt, August Walker yang diperankan Henry Cavill.

Meski penuh adegan tarung yang intens, Fallout terasa sentimentil juga, terutama saat klimaks.

Dead Reckoning kembali ke era klasik spionase

Dan sekarang, akhirnya film ke-7, Mission: Impossible – Dead Reckoning Pt.1 muncul.

Cruise langsung mendaput teknologi sebagai musuh utama dunia spionase Ethan Hunt. Meski Hunt tetap harus bergulat dengan intrik-intrik lain, aksi terjangnya bersama timnya sendiri, Luther dan Benji, tetaplah harus bergelut dengan teknologi.

Dead Reckoning Part I membawa penonton merenungi bahwa pada akhirnya musuh utama kita selain waktu adalah teknologi. Pesan yang sebelumnya sudah dibawakan franchise Terminator milik Arnold Schwarzeneger ini, terasa begitu klise tapi membumi.

Bagaimana jika teknologi yang akhirnya justru mengacaukan kehidupan kita atau aktifitas kita sehari-hari?

Hebatnya, semua kecanggihan teknologi di film-film Mission sebelumnya tak sepenuhnya ditampilkan. Ya, tim IMF milik Ethan Hunt justru harus melawan teknologi itu sendiri.

Cruise dengan unik justru membawa Dead Reckoning Part I kembali ke era spionase di masa dulu. Segala sesuatu dalam film ini terasa begitu klasik.

Meski kelihatan seperti me-downgrade, tapi justru Dead Reckoning Part I terasa begitu orisinil. Sebuah formula yang justru tak berusaha ditampilkan film-film 007 di akhir-akhir ini. (Cmiiw about this, guys!)

Untuk itu, siapkan diri Anda menghabiskan waktu kurang-lebih 3 jam untuk aksi Ethan Hunt paling fresh ini!


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment