Home » Pelajaran Berharga dari Anak
Bagikan

Bayi yang baru lahir ternyata bisa membuat Anda jadi pria yang lebih baik.

Belum lama ini, saya menjadi ayah untuk pertama kali. Dan sejak itu, saya berubah menjadi pria yang lebih baik. Bukan “pria yang lebih baik” seperti Jack Nicholson dalam film As Good As It Gets, lho, tapi pria yang memang benar-benar lebih baik. Selain memberikan kesenangan pribadi yang mendalam dan luar biasa, menjadi ayah juga membuat saya merasakan sejumlah keuntungan. Bayi perempuan saya bagaikan seorang guru pribadi. Anda juga bisa belajar banyak dari anak Anda untuk menguasai hal-hal lain dalam hidup ini.

Sedikit Bicara, Banyak Mendengar. Putri saya, Kate, benar-benar luar biasa. Anda harus melihat cara dia menunjuk segala sesuatu. Jenius seperti Einstein. Dia juga bisa berjalan dan tersenyum. Dia jelas-jelas terlahir untuk menerima penghargaan di Stockholm. Sayang, ada satu kelemahannya: Dia belum bisa bicara. Putri saya berumur 14 bulan. Sehari-hari bersama dia terasa seperti setengah jam pertama film 2001: A Space Odyssey.

Bagi orang dewasa seperti saya, saat-saat diam semacam itu membuat saya jadi pendengar yang lebih aktif dan ekspresif. Tahukah Anda kalau kualitas pribadi seperti itu, yang biasanya diasosiasikan dengan Bill Clinton, bisa membuat seseorang merasa hanya dirinya yang ada di ruangan itu bersama Anda? Jadi, terapkan saja prinsip komunikasi antara ayah dan anak itu (empati, fokus, antusias) saat berhubungan dengan orang dewasa, dan Anda bisa memengaruhi lawan bicara Anda. Baru-baru ini saya diwawancarai untuk pekerjaan yang baru. Wawancara itu ternyata berjalan dengan sangat lancar karena saya memperlakukan calon CEO saya itu seolah-olah anak berusia 14 bulan.

Tetap Tenang. Di tempat kerja, tak jarang kita mendengar orang menggambarkan situasi yang menyebalkan sebagai badai. Mengatasi badai semacam itu jauh lebih mudah kalau Anda pernah merasakan yang sesungguhnya. Bukan perumpamaan, tapi benar-benar badai.

Rasanya kita semua pernah berurusan dengan bayi, mereka sama dengan orang-orang yang dramatis. Saat mereka berhadapan dengan hambatan, emosi mereka bisa langsung meledak. Kemarahan mereka kadang tidak jelas.

Sejak kelahiran Kate, saya selalu mengelompokkan segala hal dalam hidup ke dalam dua kategori: “Hal-hal yang Bisa Membahayakan Bayi” dan “Hal-Hal yang Tak Membahayakan Bayi”. Botol pemutih pakaian terbuka? Masukkan ke kelompok pertama. Atasan yang marah? Masukkan ke kelompok kedua. Dengan mengetahui situasi mana yang lebih bahaya, Anda bisa jadi lebih tenang dalam menghadapi apa pun, bahkan yang tak masuk akal sekali pun.

Mengenali Kekuatan Anda. Putri saya, meski sangat manis, dia juga bisa sangat merepotkan. Jadi, begitu Anda menjadi ayah, Anda harus memperhitungkan segala aspek. Kalau Anda tak punya anak, Anda pasti tak akan terlalu memusingkan cara membuka bagasi mobil Anda. Namun begitu saya hendak membuka bagasi mobil sambil menggendong Kate, saya lantas berpikir, di mana saya harus meletakkan tangan saya, atau kaki mana yang bisa menopang beban tubuh saya. Teman saya yang belum punya anak menyebut hal itu sebagai: “kekuatan ayah.” Menurutnya, hal itu akan timbul begitu menjadi ayah baru. Dan memang benar. Tak semata berhubungan dengan otot. Tapi saya jadi lebih perhatian dengan gerakan saya, serta lebih berhati-hati seperti ninja, untuk hal-hal yang sangat remeh-temeh.

Berpendirian Teguh. Ada yang berubah ketika Anda menjadi ayah: Anda lebih sedikit menerima omong kosong. Anda jadi lebih sedikit menebak-tebak. Begitu Anda memutuskan sesuatu, Anda akan melakukannya. Namun bukan berarti melakukannya dengan asal-asalan. Yang pasti, ketika Anda berkomitmen, Anda akan memegang teguh komitmen itu. Menjaga buah hati Anda agar tak lari ke lapangan parkir bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan efeknya kepada rasa percaya diri putri Anda. Anda perlu melakukan sesuatu, dan itu harus dilakukan sekarang juga. Hal itu bisa Anda terapkan, baik di taman bermain maupun lantai bursa. Para ayah memang CEO yang andal.

Bekerja Sama. Menjaga bayi itu mirip dengan menjadi tangan kanan Pangeran atau ajudan Kim Jong-Il. Anda bertanggung jawab untuk mengantisipasi keinginan-keinginan orang yang irasional, yang sama sekali jauh dari kenyataan. Anda akan melakukan apa saja untuk membuat dia tetap bahagia, dan dengan begitu, Anda harus meninggalkan ego Anda. Tentu saja, saya dulu bisa seenaknya pergi ke bioskop kapan pun saya mau, tapi setelah titik tertentu, Anda harus bertanya kepada diri sendiri, apakah semua itu akan menjadikan saya orang yang lebih baik? Belum tentu. Karena itu, Anda memerlukan seseorang yang mengingatkan Anda. Dalam Zen Buddha, ada konsep mu, atau “kekosongan,” yang sering berwujud ke dalam konteks “tak ada diri” atau “tak ada ego.” Saya tak tahu banyak soal Zen Buddha, tapi saya tahu ini: Siapa pun yang sudah menemukan mu, jelas telah menemukan ketenangan.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment