CEO PowerPR ini yakin bahwa seorang pemimpin sejati harus memiliki dampak yang positif bagi lingkungannya.
Pada suatu sore minggu pertama Februari lalu, sesosok pria bertubuh tinggi besar itu hadir dalam sebuah peluncuran buku karya penulis Kristin Samah di sebuah jaringan toko buku terkemuka. Pria itu, Christovita Wiloto, menjadi salah satu nara sumber yang membagikan perspektifnya sebagai pakar public relation tentang buku itu.
“Buku ini sangat bagus, tapi sayang sampulnya justru tidak mewakili isinya,” kata Christov, sapaan akrab pria itu. Christov yang merupakan CEO PowerPR – perusahaan bidang public relations– melontarkan kritiknya.
“Penilaian itu harus disampaikan karena kalau tidak justru akan merugikan penulis dan penerbitnya sendiri,” kata Christov.
Pertemuan kami lalu berlanjut beberapa waktu kemudian menjelang akhir Februari di kantornya di kawasan bisnis BSD City, Foresta Business. Di lantai dasar yang didominasi warna putih dengan aksen pernik interior warna-warni, pria kelahiran Cilincing Jakarta itu lalu bertutur tentang bisnisnya.
Lahir sebagai sulung dari empat bersaudara, Christov yang mewarisi darah Solo dari ayah dan ibunya tampaknya memang sudah digariskan untuk menekuni bisnis yang banyak berhubungan dengan para pejabat tinggi dan pimpinan tertinggi perusahaan-perusahaan terkemuka.
“Di tahun 1987, saya tamat dari Universitas Padjajaran sebagai lulusan tercepat,” kata Christov. Tidak ada nada sombong di situ, karena sedetik kemudian ia justru ‘mementahkan’ prestasinya itu. “Sayangnya saya bukan lulusan termuda,” ujarnya sambil tertawa. Christov hanya mencoba menunjukkan kerja keras yang sudah dimulainya sejak muda.
Christov memulai karirnya pada divisi charged card pada American Express. Sebagai lulusan bidang strategic management, ia terang terangan mengincar posisi di kantor pusat, karena menurutnya bagian operasional sangat membosankan untuknya.
“Tapi itu mungkin cara Tuhan untuk menuntun saya bagaimana deal with the leaders. Bagaimana agar mereka bersedia menerima saya, mendengarkan saya.”
Perjalanan karir Christov yang cemerlangmembawanya berkarir sebagai corporate planning and communicationdi Bank Niaga selama dua tahun, disusul di divisi yang samapadaBank Tiara. Hingga akhirnya iahinggap sebagai agency secretary di BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional)di kala Indonesia tengah dikepung krisis pada tahun 1998. Selama perjalanan karirnya itu, Christov telah bertemu hingga mengenal baik tokoh-tokoh pemimpin yang menginspirasinya.
“Puji Tuhan, saya seperti sudah disiapkan untuk ke tempat-tempat dimana saya akan bertemu dengan banyak orang-orang penting itu,” kata Christov.
Setiap kali bertutur, Christov selalu menyelipkan kalimat ‘puji Tuhan’ yang seakan menunjukkan bahwa setiap usahanya memang tidak pernah lepas dari campur tangan Tuhan. Tapi ia juga terang-terangan enggan disebut sebagai pribadi yang religius.
“Saya tidak suka istilah itu,” tegasnya.
Saat masih menjabat sebagai corporate secretary baik di Bank Niaga, Bank Tiara terutama sebagai agency secretarydi BPPN, baginya, every minute is crisis. Christov sebenarnya cukup beruntung pernah duduk di posisi penting itu. Karena tidak bisa sembarang orang bisa berada pada jabatan tersebut. Jabatan Christov tersebut selain memerlukan skill dan wawasan luas serta leadership yang kuat, ia harus bertanggung jawab sebagai Kepala Divisi Hubungan Investor dengan Rp 600 triliun aset perusahaan dan atusan perusahaan induk untuk dikelola.
“Selain itu juga, kala itu saya juga masih harus meng-handle lebih dari 400 investor di dunia.”
“Saya harus bisa mendeteksi krisis ketika krisis itu masih baby. Kalau krisis itu sudah bisa saya handle dengan baik sejak dini, krisis tidak akan berkembang,” kata Christov yang mengaku bahwa salah satu kemampuannya yang memiliki nilai jual tertinggi adalah dalam crisis management.
Tapi itu hanyalah satu dari sekian banyak skill Christov dalam manajemen yang menjadi modal kuatnya mendirikan Wiloto Corp. Kelompok perusahaan yang didirikan Christov saat ia masih berkarir di Bank Tiara kala itu, menangani puluhan bidang manajemen dan kepemimpinan termasuk diantaranya Management Strategy, Business Intelligence, Crisis Management, Government & Parliaments Relations, Investor Relations, Strategic Planning dan Political Campaign Management.
Perusahaan-perusahaan Christov yang berada di bawah bendera Wiloto Corp. menangani sejumlah perusahaan besar dan ternama. Sayangnya, ketika krisis ekonomi melanda di akhir tahun sembilanpuluhan, beberapa klien besarnya justru ngemplang. Akibatnya, perusahaan Christov menderita kerugian besar.
“Maaf saya tidak bisa sebutkan nama-nama perusahaan itu,” kata Christov yang justru mengindikasikan bahwa perusahaan itu adalan nama-nama ternama yang memiliki kedekatan erat dengan kelompok penguasa kala itu.
Ketika akhirnya ia memilih mengundurkan diri dari jabatannya sebagai agency secretary di BPPN, Christov sadara bahwa ia harus menghadapi semakin banyak tantangan, dan tidak semkain ringan.
“Saat itu, ketika saya akhirnya keluar dari BPPN, saya tidak dapat pesangon dan saya mulai membuka usaha dengan tanpa modal.Istri saya nangis nangis. Saya sampai pinjam emas seserahan pernikahan yang pernah saya berikan pada istri saya,” kata Christov, mengenang masa-masa itu sambil tertawa.
Christov yang meraih gelar Master of Managementbidang Strategic Management dari Asian Institute of Management, Makati Manila, akhirnya mendirikan PowerPR, perusahaannya saat ini yang bergerak di bidang integrated communications dan investment strategy.
“Background saya adalah strategic management. Dan strategic management akan berjalan dengan baik kalau ada strategic communication,” kata Christov.
Persaingan yang teramat ketat di bidang perusahaan public relation tidak membuatnya gentar. Para pemain asing yang masuk, tidak segan bersaing secara terbuka.
“Okelah mereka cukup jago dalam hal public relations, tapi mereka tidak cukup tahu konteks Indonesia,” ujar Christov tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Christov mengaku tahu persis situasi Indonesia. Menurutnya, perubahan besar yang dialami negara ini sejak krisis 1998, mengubah banyak hal. Dan Christov yang dalam kurun waktu turbulensi tersebut memegang posisi-posisi penting dan berhubungan dengan para pengambil kebijakan baik dari pihak pemerintah maupun korporasi, jelas memiliki kekuatan yang tidak dimiliki pr lain.
“Itu yang saya kapitalisasi,” kata sarjana Strategic Management dari Universitas Padjadjaran Bandung, yang juga pernah menempuh pendidikan kepemimpinan di Galillee Institute, Israel dan Haggai Institute, Maui Hawaii.
Christov mengakui bahwa selain hal di atas, satu karakter lain yang membedakan bisnisnya dari bisnis serupa adalah keberaniannya mengusung konsep white public relations atau ‘pr putih’. Lewat konsep tersebut, ketika Christov melihat kliennya melakukan kesalahan, ia akan melakukan perombakan lebih dulu.
“Perusahaan tersebut harus melalui corporate repentance atau ‘pertobatan korporasi’. Dan itu sangat tergantung dari kasus masing-masing perusahaan,” kata Christov. Ia lalu membuka kasus ‘pertobatan korporasi’ yang pernah ditanganinya sembari tidak lupa berpesan untuk tidak mempublikasikannya.
Menurut Christov, impact sebuah bisnis terhadap masyarakat sangat besar. Sama halnya dengan bisnis, pemimpin pun harus memiliki impact, pengaruh positif yang kuat.
“Menjadi pemimpin formil seperti para anggota wakil rakyat atau pejabat itu mudah. Namun menjadi pemimpin yang memiliki pengaruh positif yang kuat terhadap masyarakat itu yang harus terus kita bangun,” kata Christov
“Ada banyak pemimpin yang memiliki pengaruh positif, tapi justru tidak berada dalam posisi sebagai pemimpin formil. Sebaliknya, banyak pemimpin formil yang justru tidak memberikan pengaruh positif apapun ke tengah masyarakat,” kata Christov yang pernah melakukan advokasi kasus meninggalnya David Hartanto, mahasiswa Indonesia yang meninggal di Singapura. Kasus yang terjadi pada tahun 2009 itu sempat menggegerkan karena David diduga tidak mati akibat bunuh diri, melainkan dibunuh. Tapi segala upaya Christov dan timnya pun gagal. “Kami tidak didukung pemerintah untuk terus memperjuangkan kasus tersebut.”
Christov yakin, pengaruh positif seorang pemimpin terhadap masyarakat di sekitarnya tidak bisa dipaksakan, melainkan harus mengalir secara alamiah.
“Dan saya terus berusaha agar bisa menjadi pemimpin yang memiliki pengaruh positif tersebut,” pungkas Christov.
Kunci Kepemimpinan Sejumlah poin berikut ini menjadi patokan Christovita Wiloto dalam memimpin. Komunikasi Christov merasa telah dianugerahi kemampuan komunikasi natural yang mumpuni sejak muda. Hal itu yang diyakininya mampu merengkuh para pemimpin top untuk berlama-lama ngobrol dengannya. |
Buka diri Anda
Sebagai pemimpin, buka pintu Anda untuk menerima para karyawan atau orang-orang muda yang ingin menimba ilmu dari Anda, atau sekedar ngobrol dan bertanya tentang perjalanan karir Anda. Bermurahhatilah untuk berbagi dengan mereka.
Berikan opsi
Christov berpesan bagi para direktur yang merekrut karyawan, berikan opsi kepada para kandidat untuk memilih berada di divisi mana. “Para pemimpin yang hebat selalu memberi opsi. Kalau si kandidat tidak suka berada di bawahnya, dia tidak akan mengarahkan untuk itu.”
Berintegritas
Sebagai pemimpin, Anda harus memiliki integritas. Dalam situasi sulit, integritas Anda bisa menjadi jaminan bagi orang lain yang ingin Anda ajak kerja sama. Dan integritas tidak bisa dibangun dalam semalam.
Bangun trust
Trust merupakan dasar dari integritas. Ketika Anda sudah menanamkan trust pihak lain terhadap Anda, Anda sudah separuh jalan untuk bisa menunjukkan integritas Anda, dan Anda sudah menjadi pihak yang bisa sangat dipercaya.
Jujur
“Kami sangat menentang pencitraan, karena pencitraan tidak jujur. Kamuflase, tidak tampil apa adanya. Lawan pencitraan adalah public trust. Sebagai pemimpin, sebaiknya Anda tampil jujur untuk bisa membangun public trust,” kata Christov.
KALAHKAN KRISIS
Wahai para pemimpin inilah cara mendeteksi krisis agar tak berkembang menjadi monster dalam perusahaan Anda!
Kunci deteksi
Kunci mendeteksi sebuah krisis, seorang pemimpin harus peka terhadap segala gejala yang ada dalam keseluruhan sistem dalam bisnis. Ada benih yang belum menjadi krisis tapi kalau tidak segera dibenahi akanberkembang menjadi krisis.
Jangan abai
Dalam bisnis, kadang krisis yang berkembang pelan, sengaja dibiarkan dengan harapan akan segera sirna. Namun, jika Anda tidak peka dan apalagi jika sebagai pemimpin Anda cenderung mengabaikannya, krisis kecil bisa menjadi monster.
Zero tolerance
Dalam mendeteksi krisis, seorang pemimpin harus menghindari kesalahan diagnosis. Karena hal ini akanSalah analisis diagnosis akan fatal akibatnya dan bisa membuat krisis semakin menjadi MONSTER yang sangat mengerikan dan sulit dikendalikan.
Jika terlambat
Jika krisis sudah meledak, segera temukan ‘core problem’ dari masalah dan selesaikan. Setiap krisis memiliki core problemsendiri. Dengan analisis diagnosis dan terapi yang tepat, Anda bisa menyelamatkan perusahaan Anda dari kehancuran akibat krisis.
