Home » Suara dari Medan Perang
Bagikan

Penulis buku dan sutradara film dokumenter Sebastian Junger menyuarakan kisah dari medan perang, lewat buku dan sejumlah karya dokumenternya. Ia mendirikan yayasan pelatihan training medis bagi para jurnalis perang.

Oleh: Rudolf Santana (dari berbagai sumber)

            Selembar foto itu menggambarkan seorang tentara Amerika yang sedang beristirahat di tengah tugasnya di sebuah medan perang di Korangal Valley, Afghanistan. Prajurit muda itu menyandarkan tubuhnya pada dinding tanah yang terlindung terpal. Ia melepas helmnya dan mengusap wajahnya yang lelah. Foto karya mendiang fotografer Tim Hetherington itu memenangi anugerah World Press Photo 2008. Pada tahun 2011, dalam sebuah pertempuran, saat menjalankan tugasnya meliput peperangan di garis depan di Misrata Libya, sang fotografer, Tim Hetherington, tewas.

            Adalah Sebastian Junger, penulis buku dan pembuat film dokumenter peperangan, yang lalu mendirikan Reporters Instructed in Saving Colleague.

            “RISC adalah sebuah program pelatihan medis gratis bagi para jurnalis lepas yang bekerja di medan perang,” kata penulis kelahiran Belmont, Massachusetts itu.

            Sebastian Junger mendiang Tim adalah dua sahabat yang saling mendukung satu sama lain. Tim kerap menerima penugasan dari Sebastian untuk membuat dokumentasi guna kepentingan bukunya. Sebastian pernah memakai foto-foto Tim untuk karyanya termasuk War.

            “Saat itu, kami para jurnalis sedang bertugas di garis depan di Misrata,” tutur Sebastian. Dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh pasukan Kolonel Moammar Gaddafi, sebuah rudal dijatuhkan di di garis depan jalanan Tripoli.

            “Peristiwa itu mengubah kehdupan kami,” kata Sebastian. Disamping melukai dan membunuh para pemberontak Libya, ledakan itu juga menewaskan fotojurnalis Amerika Chris Hondros dan melukai Tim Hetherington.

            “Tim terkena pecahan mortir pada selangkangannya,” Sebastian menuturkan.

            Menurut Sebastian, luka yang diderita oleh Tim cukup fatal sehingga mengakibatkan kematian. Femoral arteri di bagian tersebut terpotong sehingga mengakibatkan luka yang serius. Meskipun cukup fatal, sebenarnya Tim bisa tertolong seandainya saat itu ada yang mengerti tindakan pertama yang dilakukan pada luka semacam itu.

            “Sayangnya tidak ada satupun dari kami, para jurnalis dan tentara pemberontak yang tahu bagaimana melakukan pertolongan pertama tersebut,” kenang Sebastian.

            Tim yang terluka diangkut ke atas mobil pikap dan menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan menuju rumah sakit Misrata.

            “Tim bukan sahabat pertama saya yang tewas dalam pertepuran, tapi kematiannya sangat mengguncang saya,” kata Sebastian.

Sebastian Junger sebenarnya cukup akrab dan paham dengan pekerjaan-perkerjaan khas pria yang memiliki risiko tinggi seperti pemadam kebakaran, tentara atau nelayan. Pekerjaan-pekerjaan tersebut juga memiliki konsekuensi besar mencelakai pelakunya. Buku-bukunya seperti Fire, The Perfect Storm, dan War serta film-film dokumenter Restrepo dan Which Way is the Front Line from Here? menggali segala aspek mengenai pekerjaan-pekerjaan tersebut, terutama bagi kejiwaan pria.

“Sebagai penulis, selama lebih dari 25 tahun, saya sudah melaporkan pekerjaan-pekerjaan berbahaya yang dilakukan para pria dan resikonya,” kata pria yang juga aktif dalam organisasi nirlaba Tragedy Assistance Program for Survivors (taps.org)

“Satu masalah besar yang dihadapi oleh para tentara yang pulang dari medan perang adalah mereka kehilangan dan merindukan ikatan dengan rekan-rekan dalam satu grup. Perang pada akhirnya mendudukkan mereka sebagai manusia biasa,” kata Sebastian.

“Kita lihat, masyarakat banyak menyuarakan dukungan terhadap para veteran, tapi kenyataannya itu hanya ungkapan kosong. Warga melihat para tentara dan berpikir bahwa masalah mereka adalah masalah militer. Tapi kita telah mengirim mereka ke medan perang, dan mereka sudah menjalankan tugas mereka. Jadi sebenarnya, perang yang mereka lalui juga perang kita.”

Junger beberapa waktu lalu sudah merampungkan buku dan dokumentasi, Last Patrol, tentang sekelompok veteran perang yang mencoba berbaur lagi dengan kehidupan ketika mereka kembali ke rumah, pasca bertugas di Afghanistan. Ia percaya bahwa masyarakat harus berbuat lebih banyak bagi kesehatan mental dan spiritual para veteran perang tersebut.

Sama halnya dengan perlindungan terhadap para tentara di medan pertempuran, ia juga berharap agar para jurnalis yang bertugas di medan perang juga dibekali dengan pelatihan pertolongan pertama dan fasilitas pengaman dan keselamatan.

“Harapan saya para jurnalis juga bisa mendapatkan fasilitas tersebut, setidaknya seperti helm dan flak jacket,” kata Sebastian. “Hanya masalah waktu sampai akhirnya jurnalis yang lain mengalami apa yang pernah dialami Tim.”

“Saya ingin melakukan apapun yang saya bisa agar para jurnalis lain bisa terbantu dan terlidungi dalam menjalankan tugasnya,” kata Sebastian yang kini tinggal di New York dan Massachusetts bersama istrinya Daniela Petrova.


PERLINDUNGAN UNTUK JURNALIS PERANG

RISC yang didirikan Sebastian Junger membekali pelatihan pertolongan pertama dan keselamatan bagi para jurnalis lepas yang bertugas di medan perang.

Prosedur dasar
Kursus berlangsung 3 hari. Mencakup prosedur dasar penyelamatan korban di medan perang, seperti menghentikan pendarahan, menghentikan kebocoran udara pada luka di dada dan membawa krban ke fasilitas medis terdekat.

Bekal dasar
Setiap lulusan menerima perlengkapan medis untuk perang. Diharapkan agar para jurnalis yang telah lulus bisa menyimpan dan membawanya sendiri ketika mereka sedang bertugas di medan perang.

Lokasi pelatihan
Pelatihan yang diberikan, diadakan setahun sekali di New York, London dan Beirut, dan didanai dari sumbangan para donatur. Para jurnalis hanya mengeluarkan biaya untuk ongkos perjalanan dan pengeluaran untuk makan.

Fokus pelatihan
Fokus pelatihan pada kondisi medis darurat dan kritis yang terjadi di medan pertempuran. Diharapkan, para jurnalis yang telah mendapatkan pelatihan tersebut bisa mencegah kematian dalam menjalankan tugas yang penting bagi kemanusiaan.


BUKU FAVORIT JUNGER
Jika Anda memiliki buku-buku Sebastian Junger di perpustakaan Anda, penulis berdarah Jerman ini juga memiliki buku favoritnya sendiri.

‘At Play in the Field of the Lord’
Peter Matthiessen
Junger sudah membaca buku ini lima kali sejak berusia 17 tahun. Buku ini tentang misionaris dan keterlibatan dalam perang di Amazon. Brutal, sekaligus sastrawi dan indah. Hampir semua karya Matthiessen dibacanya.”

‘Caravans to Tartary’
Roland and Sabrina Michaud

Saat usia 12 tahun, Junger melihat buku ini di etalase sebuah toko di Paris. Buku foto ini mengisahkan perjalanan sepasang insan yang mengarungi pengunungan di Afghanistan pada tahun 1970an. Dunia yang tidak pernah dibayangkannya. “Tapi saat itu saya yakin, suatu saat saya akan ke sana,” kata Junger.

‘Miami’
Joan Didion

Gaya jurnalisme dan non fiksi Didion sangat tajam, jelas, akurat sekaligus anggun.  “Ketika saya mulai belajar menulis, saya mencoba meniru gayanya, tapi gagal,” kata Junger.

‘Collected Works’
Louise Glück

“Saya tidak ingin menjadi pujangga, tapi baru-baru ini saya membaca buku puisi. Tulisan Louise Glück sangat indah. Membuka mata saya tentang apa yang bisa saya lakukan dengan bahas,” kata Junger lagi.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment