Perceraian mungkin adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang pria, yang berdampak pada kesehatan, keuangan dan emosional. Dan satu dari empat pria yang mengalami perceraian tidak tahu menahu mengapa semua itu bisa terjadi. Inilah beberapa cara untuk menghindari kejutan yang tak terduga: sebuah perceraian.
Seperti semua suami yang kemudian berubah status menjadi ‘mantan suami’, Martin Paul, seorang pria berusian 51 tahun dapat membayangkan hal seperti ‘perceraian ini dapat terjadi pada dirinya. Saat memikirkan hal ini, ia sedang duduk di serambi rumah mewahnya yang terletak di atas bukit di tepi kota Boston, dalam satu hari Sabtu pagi yang cerah, beristirahat sambil menikmati kopi.
Paul adalah seorang kolektor professional, yang fokus utamanya adalah mengumpulkan koin, tapi juga tertarik untuk mengumpulkan benda-benda langka lainnya. Paul memiliki sabuk tinju Sonny Liston, hingga sebuah kapal selam yang dipakai dalam film James Bond: The Spy who Loved Me. Tidak mudah untuk membangun bisnisnya sebagai kolektor, tapi akhirnya dia mendapatkan reputasi yang cukup baik dan berhasil memasarkan 7 benda dalam dalam setahun. Anak lelaki tertuanya pernah menderita cedera otak, tapi setelah 2 tahun dalam perawatan, ia akhirnya sembuh total dan dapat kuliah. Untuk pertama kali, setelah melewati tahun-tahun yang sulit, Paul merasa hidupnya sangat baik.
Pada suatu pagi di hari Sabtu, dia ingin mengatakan pada istrinya, bahwa pada akhirnya mereka mungkin bisa bersantai bersama sejenak. Mungkin mereka bisa berlibur ke Eropa atau Hawaii, dan berpikir mungkin istrinya punya keinginan untuk berlibur bersama lebih sering sekitar seperempat abad yang lalu, saat-saat di mana perkawinan mereka bergejolak. Dan dia berpikir, dengan sedikit waktu bersama, gairah cintah istrinya akan kembali lagi seperti dulu.
Tapi, kenyataannya tidak demikian. Istri Paul sama sekali tidak mau mendengar tentang rencana pensiun, liburan atau apa pun yang ingin Paul sampaikan. Dia mempunyai rencana sendiri.
“Saya ingin bercerai,” tegasnya.
Paul sangat terkejut mendengar perkataan tersebut, dan menyangka ada yang salah dengan pendengarannya. Tapi ekspresi wajah istrinya menjelaskan segalanya. “Dia telah berubah menjadi musuh,” kata Paul. Dia mulai berpikir tentang segala sesuatu yang telah ia rintis, bisnis yang sukses, keluarga yang bahagia, kehidupan yang tenang di pinggiran kota. Paul juga memikirkan istrinya, betapa ia masih sangat mencintainya. Yang terjadi kemudian, masih di hadapan istrinya, Paul mulai menangis.
Malam harinya, Paul menemukan sebotol wisky dan dia tidak berhenti minum sampai hampir pingsan.
Keadaan pun berubah menjadi buruk dalam sekejap. Istri Paul meminta polisi mengeluarkan larangan bagi Paul untuk mendekati rumah, dengan menuduh Paul mencoba menculik anak lelaki mereka yang paling kecil. Tuduhan ini tidak pernah terbukti di pengadilan. Kemudian, dengan bantuan seorang pengacara yang dibayar sangat mahal, sang istri berhasil mendapatkan tunjangan bulangan sebesar US$ 50.000 sebulan, yang merupakan 75% dari penghasilannya. Paul dilarang untuk memasuki rumahnya, bahkan bagian rumah yang ia jadikan kantor untuk mencari nafkah (jika pun diijinkan masuk, Paul tidak diijinkan untuk memakai kamar kecil dan harus pergi ke hutan untuk buang air). “Pengacara saya berkali-kali berkata pada pengacara istri saya, bahwa mereka telah membunuh sumber penghasilan keluarga yang sangat berharga secara perlahan-lahan,” jelas Paul. Tapi mereka tidak peduli.
Hancur karena harus melunasi berbagai tagihan dan tidak bisa bekerja, Paul kemudian menghadapi krisis keuangan, dan kemudan dinyatakan bangkrut. Istrinya tidak peduli sama sekali. Sang istri bahkan menuduh Paul berlaku kasar pada salah seorang putra mereka. Paul menangkal tuduhan itu, tapi gagal. Hasilnya, waktu kunjungan Paul untuk menemui putranya dikurangi.
Paul menjadi sulit tidur dan semua masalah yang mendera telah merampas semua semangatnya. Dia tetap merindukan mantan istri dan keluarganya. Dia merindukan suara aktifitas di rumahnya, suara kehidupannya dulu. “Saya tidak bisa hidup dalam kesunyian,” jelasnya. “Saya merindukan bunyi nafas istri ketika dia tidur di samping saya.” Dalam situasi yang putus asa, dua kali Paul mengalami over dosis obat-obatan penenang, tapi dia selalu sempat menelepon 911 sebelum obatnya benar-benar bekerja. Dia juga menyimpan barang kenangan dari tempat yang dulu pernah menjadi keluarganya: Sebagian besar foto dan sepatu bayi anaknya. “Saya adalah orang yang emosional,” katanya. “Tapi hanya ini yang saya punya, sepatu dan beberapa foto. Hanya itu. Dulu, saya adalah seorang pria penggembira. Tapi sekarang saya menjadi pria yang pemurung.”
‘Sindroma Perceraian Mendadak’, Anda tidak akan menemukan istilah itu dalam Panduan Diagnosa dan Statistik Gangguan Mental, buku sucinya para psikiater, tapi Anda akan menemukannya dalam dunia nyata. Dalam jajak pendapat yang diadakan oleh sebuah lembaga pada tahun 2004, mengatakan satu dari empat pria yang mengalami perceraian “sama sekali tidak melihat tanda-tanda menuju ke sana.” (Hanya 14 % wanita yang mengatakan hal yang sama). Ada beberapa kejadian dalam kehidupan seorang pria yang bisa membuatnya sengsara secara fisik, mental dan keadaan keuangan.
“Saya menemui beberapa pria yang sedang dalam proses perceraian. dan sangat umum ketika mereka berkata bahwa mereka terkejut dengan kejadian ini,” ujar Lori Buckley, terapis seks yang berpraktek di Los Angeles dan host dalam acara “On the Minds of Men” sebuah acara tentang hubungan yang disiarkan melalui iTunes dengan menggunakan podcast. Sebenarnya ada beberapa tanda yang bisa dilihat, tapi pikiran pria yang cenderung sederhana kadang tidak mengenali tanda-tanda tersebut. “Ketika seorang wanita telah mengambil keputusan bahwa satu hubungan telah berakhir, maka mereka akan berhenti membicarakan hal itu,” jelasnya. “Para pria menganggap kalau istrinya tidak pernah mengeluh, berarti hubungan mereka tidak ada masalah, padahal bagi wanita, hal tersebut artinya mereka telah menyerah dan tidak mau lagi membicarakannya.”
Menurut John Guidubaldi, seorang mantan anggota Komisi Anak dan Kesejahteraan Keluarga, sebanyak 66% orang yang mengajukan perceraian adalah wanita –bahkan pada beberapa tahun ini meningkat sampai 75%. “Mengakhiri sebuah perkawinan lebih mudah dibandingkan memecat pegawai,” jelas Guidubaldi. Jika seorang istri menginginkan sebuah perkawinan berakhir, maka terjadilah hal tersebut. “Anda bisa membubarkan sebuah perkawinan tanpa dasar apa pun.”
Kebanyakan pria mengalami perceraian pada usia pertengahan, ketika anak-anak sudah beranjak dewasa, dan mereka mulai berpikir bahwa masa-masa sulit dalam kehidupan mereka sudah terlewati. Seperti Martin Paul, mereka baru mulai memikirkan waktu untuk lebih bersantai. Tapi justru saat inilah angka perceraian meningkat. Joe Cordell, seorang pengacara dari Cordell and Cordell yang sering mewakili pria dalam masalah perceraian, mengatakan bahwa usia 40 tahun adalah masa di mana seorang wanita memutuskan ‘sekarang atau tidak sama sekali’ untuk memasuki arena pencarian jodoh lagi. Fenomena yang sama terjadi pada pria kaya yang mencari istri-istri pajangan. Hanya saja untuk kasus ini, lebih banyak wanita yang membuat para pria menderita.
Seharusnya hal ini tidak terjadi. Ketika sebuah perceraian dilegalkan secara hukum selam hampir 2 abad lamanya, tetap saja ada perdebatan panjang dan orang masih segan untuk melakukannya. Perubahan drastis terjadi pada tahun 1960. Tahun yang disebut sebagai ‘masa bebas bercinta’ ini membuat perceraian meningkat dan orang tidak malu lagi untuk melakukannya. Meningkatkan kemandirian wanita dalam bidang finansial membuat mereka tidak mau bertahan dalam sebuah perkawinan yang penuh penderitaan. Hasilnya, angka perceraian meningkat drastis. Tapi cerita perceraian yang selama ini dianggap stereotip: seorang pria menikah, memulai keluarga, bertemu wanita yang lebih muda dan kemudian meninggalkan istrinya, justru bukanlah skenario perceraian yang banyak terjadi.
“Sebuah perkawinan justru lebih banyak mengubah kehidupan seorang pria dibandingkan pada wanita,” jelas Steven Nock, seorang sosiolog, dan pengarang buku Marriage in Men’s Lives. Sebuah perkawinan akan membuat pria menjadi lebih dewasa. Nock mengoobservasi bahwa banyak pria sebelum menikah lebih banyak pergi bar atau hanya duduk santai di depan televisi. Setelah menikah, mereka menjadi lebih tekun bekerja, lebih rajin beribadah, atau mungkin aktif dalam organisasi di lingkungan rumah. Dan perceraian merampas semua itu dari kehidupan seorang pria, meningglakannya dalam kehidupan yang asing dan penuh ketidakpastian. Mereka merasa seperti orang asing yang berada di tengah-tengah pertandingan sepak bola atau sebuah pertunjukkan teater.
Melengkapi penderitaan ini, pria akan menghadapi berbagai masalah yang menghadang, bersamaan dengan proses perceraian. Sistem perceraian akan lebih menguntungkan wanita, mereka mendapatkan hak asuh anak, tunjangan anak, rumah, sebagian harta gono-gini, dan tunjangan bulanan yang jumlahnya sangat besar.
Mungkin kenyataan ini sangat mengejutkan, karena selama ini orang banyak menganggap bahwa wanita-lah yang dirugikan secara finansial setelah bercerai, bukan pria. Tapi data yang ada menunjukkan sebaliknya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sanford L. Braver, seorang professor psikologi pada Arizona State University dan pengarang buku Divorced Dads: Shaterring the Myths, mengatakan bahwa, ”Seorang pria bercerai akan berada dalam kondisi yang lebih menyedihkan dibandingkan apa yang ada dalam bayangan masyarakat umum,” jelasnya, ”Selama ini seorang pria yang baru bercerai digambarkan sebagai orang yang lepas dari ikatan, berganti-ganti pasangan dan menjalani kehidupan yang gembira tanpa beban apa pun… Padahal tidak demikian kenyataannya.” Penggambaran ini mematahkan pendapat seorang professor dari Harvard, Lenore Weitzman yang dikutip dalam buku, The Divorce Revolution: The Unexpected Social and Economics Consequences for Women and Children in America. Weitzman mengeluarkan pernyataan pada tahun 1985 yang menyatakan bahwa sebanyak 73% wanita dan anak-anak mengalami masalah paska perceraian, sedangkan pria hanya 42% persen saja. Bertahun-tahun kemudian, persentase ini ternyata mengalami koreksi sebesar 27% dan 10% untuk masing-masing pernyataan. Tapi Braver mengatakan bahwa biarpun pernyataan Weitzman ini telah melalui proses perhitungan yang panjang dan tanpa cela, tapi ada yang dilupakan oleh para peneliti tersebut, tentang biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang pria, mulai dari peralatan rumah tangga, juga biaya untuk membesarkan anak. Jika seorang istri yang sudah bercerai menikah kembali, dia masih berhak mendapatkan tunjangan bagi anaknya, bahkan jika dia menikahi seorang milyader. Dan setiap tahunnya ada saja seorang pria yang harus mendekam di penjara karena tidak sanggup memenuhi kewajiban membayar tunjangan. Pada negara bagian Michigan saja, pada tahun 2005, hampir sekitar 3.000 pria yang meminta peninjauan kembali untuk masalah besarnya tunjangan perceraian.
Tapi bagi kebanyakan pria, penderitaan yang mereka rasakan lebih kepada emosional ketimbang finansial. “Pria sangat tergantung pada wanita secara emosional,” kata Buckley. “ketika sebuah perkawinan berakhir, pria harus menghadapi kesendirian lebih dari yang mereka bayangkan.” Dalam sebuah penelitian di Canada, 19% pria melaporkan bahwa kegiatan sosial mereka menurun secara drastis setelah bercerai. Para wanitalah yang selalu ingat tentang tanggal-tanggal penting dan beberapa kegiatan sosial yang harus dihadiri. Menurut sosiolog dari University of Texas, Norval.D. Glenn, hal tersebut dapat memancing masalah emosional bagi para pria, karena lewat kegiatan-kegiatan seperti itulah yang justru bisa membuat para pria merasa memiliki tempat di dunia. Wanita-lah yang mengirimkan kartu lebaran, merencanakan pesta kejutan, dan bergaul dengan tetangga. Para suami yang kemudian bercerai menghadapi kenyataan bahwa mereka harus menghadapi semua itu sendirian, sementara anak dan istri mereka hidup di rumah tempat mereka pernah hidup bersama. Bagi seorang mantan suami, memasuki rumah tersebut seperti memasuki daerah terlarang, meskipun rumah tersebut dibeli dengan uang –bahkan dibangun dengan tangan mereka.
Jauh sebelum berkeluarga, Jordan Appel, seorang pemilik toko bingkai foto berusia 55 tahun, telah membangun sebuah rumah untuk dirinya sendiri di daerah elit West Newton Hill, di pinggiran Boston. Ketika kemudian dia menikah dan mempunyai 2 orang anak, semua itu menjadi anugerah tambahan yang membuatnya bersyukur. “Sangat menyenangkan ketika saya menyebut mereka istri dan anak saya dan menjadi bagian dari masyarakat sekitar. Appel kemudian ikut serta dalam berbagai kegiatan seperti bazaar di lapangan sekolah, dan di saat itulah istrinya bertemu dengan pemuda yang kemudian menjadi kekasih rahasia istrinya. Kadang-kadang mereka berdua bercinta dalam rumah Appel, dan tidak lama setelah itu istrinya meminta cerai. Lebih parah lagi, Appel harus meninggalkan rumah yang telah dia bangun dan juga harus berpisah dari lingkungan sekitarnya. Uang menjadi masalah sehingga dia pernah tinggal di ruang kerja yang terletak di lantai 2 tokonya. Mantan istrinya bekerja paruh waktu dan masih menerima tunjangan anak dan bulanan dalam jumlah yang cukup besar, dan membangun hidup di rumah yang dulunya milik Appel. Istrinya hidup dalam kondisi baik, sementara Appel harus mendapatkan uang sebesar US$ 100.000 setiap tahunnya untuk membayar tunjangan dengan cara bekerja selama 70 jam seminggu. Satu hari, Appel mengunjungi rumahnya dan melihat banyak barang miliknya dibuang di pinggir jalan. “Rasanya saya mau meledak karena marah. Saya benar-benar dikuasai amarah yang makin bertambah setiap harinya.”
“Ada lima penyebab stress utama dalam kehidupan manusia,” jelas Ned Holstein, MD, direktur eksekutif Father and Families, sebuah kelompok asal Massachusetts yang bergerak dalam pemulihan untuk para ayah paska perceraian. Pertama adalah: kematian anak. Kedua: kehilangan pasangan. Ketiga: kehilangan rumah. Keempat: kesulitan finansial. Dan kelima: kehilangan hubungan dengan anak. Semua itu, kecuali pertama adalah kombinasi situasi yang harus dialami seorang pria setelah bercerai. Kebanyakan orang selalu berpikir bahwa pria adalah seorang serigala tegar yang bisa mengurus dirinya sendiri. Menurut seorang sosiolog Augustine Kposowa, pria yang baru saja bercerai mempunyai kecenderungan bunuh diri 9 kali lebih besar dibandingkan wanita yang mengalami hal yang sama. “Penyebabnya bukan kehilangan uang,” jelasnya, “tapi karena harus menghadapi kenyataan bahwa mereka tidak bisa menemui anak-anak lagi sehingga menyebabkan seorang pria berniat bunuh diri. Atau kombiansi dari empat penyebab di atas. Frustasi karena harus menyediakan uang untuk membayar tunjangan bagi 3 orang anaknya yang jarang dilihatnya lagi, menyebabkan Perry Manley membawa granat siap ledak ke dalam gedung pengadilan Seatlle tahun lalu dan yang kemudian ditembak oleh polisi pengadilan, lalu tewas di tempat. Kematiannya disebut sebagai “bunuh diri oleh polisi.” Kposowa juga mendeteksi adanya kecenderungan meningkatnya kecelakaan kendaraan bermotor yang terjadi pada pria yang baru bercerai, entah disebabkan karena kurangnya konsentrasi, tidak tidur atau yang lebih menyeramkan, bunuh diri, “tapi disamarkan sebagai kecelakaan,” jelasnya.
Dibandingkan dengan pria berkeluarga atau pria lajang, pria yang bercerai mempunyai kecenderungan masuk rumah sakit 9 kali lebih besar, dan dilaporkan bermasalah dalam kerja atau menderita depresi akut. Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam American Journal of Psychiatry, penderitaan pria bercerai hanya bisa disamakan dengan wanita yang kehilangan teman terdekatnya. Dan kesedihan emosional bisa menyebabkan penyakit fisik. “Tekanan darah menjadi lebih tinggi, begitu juga dengan kolesterol. Peluang untuk menderita darah tinggi, penyakit jantung, penyakit yang berhubungan dengan gangguan pembuluh darah koroner menjadi lebih tinggi,” jelas psikiatris Arnold Robbins, associate editor pada Journal of Men’s Health & Gender. Para peneliti di Texas Heart Institut menemukan bahwa tekanan secara emosional bisa menyebabkan melebarnya pembuluh darah pada ventrikel kiri, yang dikenal dengan sebutan “Broken heart syndrome”. Tambah Dr. Robbins, “Banyak penyakit metabolisme lainnya yang mengintai seperti diabetes tipe 2 dan pengerasan hati karena terlalu banyak minum minuman keras. Bahkan masalah pada prostat. Memang bukan gambaran yang menyenangkan.”
Beberapa peneliti mencoba mencari jawabannya mengapa hal tersebut bisa terjadi. Dan penyebabnya bisa sangat sederhana, kehilangan sentuhan. James Coan, Ph.D., seorang psikolg pada University of Virginai menemukan, bagi seorang sami, hanya dengan memegang tangan sang istri, masalah stres mereka bisa hilang. Hubungan seks yang teratur juga menolong seorang pria untuk menatasi stres dan bisa meningkatkan kesempatan mempunyai umur yang lebih panjang. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Queen’s University pada 1000 pria paruh baya menunjukkan bahwa pria yang berhubungan seks secara ruitn 3 kali seminggu mempunya peluang terkena stroke dan serangan jantung lebih kecil dibandingkan dengan pria yang lebih sedikit frekuensinya.
Dengan menekankan pada fakta tersebut, beberapa kelompok pria kemudian bermunculan di seluruh negara bagian. “Coba pikirkan,” ujar Stephen Bakersville, Presiden Koalisi untuk Ayah dan Anak di Washington D.C, “Seorang ayah bisa duduk di dalam rumahnya, tidak setuju untuk bercerai, tetap setia pada sumpah pernikahan, dan tidak pernah menyakiti, harus menghadapi kenyataan kalau pengadilan menyita rumahnya, dan dia dipaksa untuk membayar biaya yang ditetapkan hukum bagi istrinya dan bahkan biaya psikologis istrinya. Sang suami bisa dijebloskan ke dalam penjara jika menolak.
Jadi, apakah ada cara untuk menghindari sindrom perceraian yang sering muncul mendadak? Hal yang utama tentunya adalah menghindari pernikahan. Cara lain adalah mempertahankan pernikahan jika memang masih layak dan masih bisa diselamatkan. Secara statistik, menemui konseling pernikahan pada taraf pernikahan yang sudah parah ternyata sangat tidak efektif, apa pun yang dikatakan oleh konselor pernikahan sepertinya sudah terlambat untuk memperbaiki yang sudah rusak. Menurut John Gottman, Ph.D., seorang peneliti tentang stabilitas perkawina, seorang suami sebaiknya memperhatikan persentase perbandingan antara perkawinan yang berhasil dan gagal adalah 5:!. Ini artinya para suami (dan istri) harus berkonsentrasi pada 5 hal atau perbuatan positi dari pasangan mereka untuk setiap satu hal negatif yang ditemukan. Dengan begitu mereka akan lebih sedikit menghadapi masalah. Atau cobalah untuk mengikuti apa yang disarankan oleh Howard Markman, Ph.D., yang mengadakan workshop bagi para pasangan (loveyourrelationship.com), seorang suami harus mendorong diri mereka sendiri untuk mengganti perhatian mereka menjadi empati, untuk segala hal yang terjadi dalam hubungan mereka dan melakukan yang terbaik bagi hal tersebut. Dalam kenyataannya, para suami cenderung tidak terlalu peduli tentang hal ini, mereka lebih menyembunyikan emosi ketika berbicara. Tapi kemudian, hal tersebut menjadi sulit dalam sebuah perkawinan. Karena ketika seorang istri menuntut hal tersebut, maka itu bukan berarti dia egois dan tidak perhatian. Kadang cinta hanya membutuhkan tindakan sederhana untuk menjaganya tetap hangat. Cara inilah yang bisa menghindarkan perkawinan dari bencana perceraian.
Tapi nasehat ini tampaknya sudah terlambat bagi seorang Martin Paul dan Jordan Appel, yang sudah terlanjur menderita sindrome akibat perceraian. Bagi mereka, yang terbaik adalah mencoba menyembuhkan rasa sakitnya bersama waktu, dan memulai hubungan baru dengan belajar dari kesalahan yang terjadi pada hubungan sebelumnya. Bagi kebanyakan pria atau wanita yang brcerai, mereka biasanya akan kembali menikah. Perkawinan kedua adalah jalan untuk meraih kembali kepercayaan diri dan harapan, dan juga jalan untuk membangun kembali kesehatan dan rasa aman yang telah diambil dengan paksa. Bahkan tanpa harus menikah kembali pun, rasa sakit itu akan berangsur-angsur hilang. Dan pada saat itu, yang tertinggal adalah pelajaran yang bisa diambil, biarpun menyisakan perasaan getir.
Dia menyimpannya selama tujuh tahun
Sang suami tidak pernah menyangka kalau istrinya selama ini ternyata tidak bahagia. Atau dia pernah selingkuh dengan pria lain.
(seperti yang diungkapkan pada Best Life)
Dia tidak pernah melihat tandaBukan berarti dia tidak pandai. Ya, dia cukup pandai, tapi dia tidak telalu peduli dan tidak terlalu ingin tahu. Dia hanya ingin berbincang tentang dekorasi rumah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu, sepeti “Setelah tua, kamu mau kita pindah ke rumah besar itu?” Saya hanya ingin membicarakan sesuatu tentang pemanasan global misalnya. Saya hanya ingin sebuah percakapan yang mendalam dan -saya benci mengatakannya- sedikit berbobot. Percakapan kami selama ini hanya seputar kehidupan rumah dan hanya berlangsung singkat.
Dia seorang suami yang baik dalam arti mau berbagi tugas rumah tangga. Dia mau mengerjakan laudry, memasak dan kegiatan luar rumah. Dia adalah ayah yang baik. Kami tidak pernah bertengkar. Dia adalah orang yang benar-benar saya kagumi dan benar-benar baik, tapi saya pikir kami tidak cocok satu sama lain.
Kami sudah menikah selama tujuh tahun. Jika saya boleh jujur, saat berpacaran saya tidak terlalu yakin kami akan menikah. Lalu seorang teman dekat saya meninggal. Dalam kesedihan yang mendalam, saya kembali mempertanyakan apa sebenarnya yang saya cari dalam hidup. Dia dengan penuh perhaitan membantu saya melewati semua ini, dan dia benar-benar memuja saya. Saat itu saya berpikir mungkin saja dia bisa menjadi suami yang cocok untuk saya. Dia menawarkan kehidupan yang layak dan stabil, baik dalam hal emosional, membeli rumah dan memiliki kecukupan finansial. Saya merasa stabil, tapi justru tidak kreatif.
Saya menginginkannya agar memiliki kehidupan lain di luar rumah tangga, dan tertarik dengan sesuatu hal lain selain saya dan anak-anak kami. Dia memang punya beberapa hobi, ia mencoba menekuninya, tapi dia tidak punya teman terlalu banyak, sehingga dia menjadi sangat tergantung pada saya dan keluarga. Dia selalu berkata,” Jika kamu bahagia, maka saya juga akan bahagia.” Pernyataan dengan penekanan yang agak aneh. Saya pikir hal tersebut sangat egois. Saya harus merasa berbahagia, maka dia akan mengikutinya. Tidak menjadi masalah jika saya hanya ingin berbahagia bagi diri saya sendiri.
Saya ingin tahu pendapat Anda tentang hal ini. Kami sudah lama tidak berciuman, hanya ciuman alakadarnya dan dengan ucapan: ”Sampai nanti ya.” Kami memang masih bercinta, tapi bagi saya hal itu hanya sekedar kewajiban dan saya tidak pernah bergairah ketika melakukannya. Saya merasa semua itu dilakukan begitu saja, tanpa kreativitas dan imajinasi. Jika dia adalah seorang yang bisa membangkitkan semangat dan gairah, makan saya bisa lebih bergairah lagi melakukannya.
Keinginan untuk meminta cerai darinya sudah terpikirkan bertahun-tahun yang lalu. Tidak terjadi sesuatu antara kami. Saya pikir semua itu dimulai dari saya. Saya cemas jika dia menjadi marah dan menjauhkan saya dari anak-anak. Tapi secara naïf, saya berpikir hal itu tidak mungkin terjadi. Saya lalu memikirkan masalah keuangan, tapi kami sudah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kami. Saya punya pemikiran yang aneh. Kami menyewa jasa arsitek ketika akan merenovasi rumah, berjaga-jaga jika sesuatu terjadi antara kami berdua. Saya tidak ingin terlibat di tengah proses renovasi tersebut dan menghabiskan uang kami.
Kemudian, tanpa diduga, saya terlibat affair. Pria ini adalah seseorang yang saya pernah temui dan saya tertarik dengannya. Dia cerdas dalam hal yang suami saya tidak terlalu peduli. Saya tidak berpikir bahwa hubungan kami akan lebih medalam, tapi saya berada dalam satu tempat yang jauh dari rumah dan kami berdua ada di tengah-tengah pesta koktail. Saya lalu berbicara dengannya dan minum beberapa gelas. Saya hanya penasaran dan ingin tahu. Jika saya tidur dengan pria lain, apakah akan terjadi masalah?
Dan ternyata tidur dengannya adalah pengalaman yang menakjubkan. Pria tersebut menyentuh tubuh saya dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh suami saya. Saya merasa sangat bergairah dan merasa menemukan diri saya kembali. Ini bukan hanya sekedar seks, ini adalah tentang akhirnya menemukan orang yang saya rasa saya ingin hidup bersamanya, dan kami bisa menghabiskan waktu bersama. Tapi saya meninggalkan suami saya bukan demi pria lain, tapi demi diri saya sendiri.
Saya tidak tahu apakah kejadian ini yang akhirnya mendorong saya untuk mengambil keputusan. Akhirnya saya kembali dalam kehidupan normal, di mana saya tidak harus memikirkan, “Apakah kami bahagia?” Saya perlu menemukan cara untuk mengatakan padanya bahwa saya tidak bahagia dan kami memerlukan konseling. Tapi saya sudah tahu apa yang akan terjadi. Saya harap dengan adanya penasehat perkwainan akan membuat saya jadi lebih mudah untuk berkata, ‘saya rasa perkawinan ini sudah tidak bisa dipertahankan, saya akan meninggalkanmu’.”
Diagnosa Pernikahan
Lima cara untuk mencek apakah perkawinan Anda dalam bahaya atau tidak.
Mudah untuk mengetahui dan memeriksa keadaan mobil. Ganti oli, cek sabuk pengaman, putar rodanya, selesai. Menjaga sebuah hubungan akan lebih sulit. Setelah berbicara dengan beberapa ahli, kami mengembangkan sebuah alat untuk menolong Anda untuk mempertahankan sumpah perkawinan Anda. Daripada membawa masalah perkawinan Anda keluar dan membiarkan orang lain melihatnya, di bawah ini ada beberapa hal yang wajib diperhatikan dalam perkawinan Anda, ujar Professor William Dohery, Ph.D., direktur terapi perkawinan dan keluarga pada University of Minnesota dan pengarang buku Take Back Your Marriage: Sticking Together in a World That Pulls Us Apart. Inilah cara untuk menjaga Anda dan pasangan tetap berada dalam jalurnya.
Checkup 1 . Kebersamaan
Ketika Anda mengatakan kepada istri Anda hendak pergi memancing saat akhir pekan, bagaimana reaksi istri Anda? Apakah dia komplain karena Anda kurang menghabiskan waktu bersama dengannya? Jika jawabannya, ya, maka Anda boleh bernafas dengan lega. “Ketika seorang wanita terlibat dalam satu hubungan dengan sepenuh hati, dia akan menjadi sangat menuntut,” jelas Doherty (para wanita: bersoraklah) Tapi jika dia pernah sangat menuntut, kemudian perlahan-lahan tidak peduli, jangan berasumsi istri Anda setuju dengan apa yang Anda lakukan. “Dia mungkin sudah menyerah dan tidak mau lagi mempertahankan perkawinan,” jelas Doherty, dan beralih dengan kegiatan baru seperti mencari apartemen, menemukan pengacara dan merencanakan strategi untuk keluar dari perkawinan.
Check up 2: keintiman
Pikirkan tentang seks dalam semenit. Ok, mungkin terlalu singkat, namun itu normal. Anak dan pekerjaan adalah pengurang frekuensi bercinta. “Bendera merah pertama adalah ketika terjadi perubahan dalam pola hubungan seksual Anda,” jelas Jennifer Berman, M.D, pendiri Berman Women’s Wellnes Center di Beverly Hills, California. Mungkin acara kartun Sabtu pagi merupakan kesempatan bagi Anda dan istri untuk berduaan di dalam kamar. Tapi jika kemudian istri Anda menjadwalkan manicure saat tersebut? Kapan lagi ada kesempatan langka bagi Anda berdua? Apakah dia sering merasa bergairah saat malam hari? Tanyakan pada diri Anda. “Apakah istri Anda hanya memberikan respon seadanya dan membiarkannya berlalu begitu saja?” ujar Dr. Berman. Saatnya untuk meyakinkan bahwa istri Anda mendapatkan apa yang dia inginkan.
Check up 3: Komunikasi
Semua pasangan pernah bertengkar, tidak cuma terjadi pada Brangelina (Brad Pitt dan Angelina Jollie). Pikirkan apa yang terjadi setelahnya pertengkaran. Jika istri Anda berlaku sangat manis, apakah Anda berasumsi dia telah melupakannya dan kemudian menemani hari-hari Anda? Jika ya, maka masalah besar telah menanti di depan mata. “Wanita biasanya masih merasa jengkel bahkan sampai berbulan-bulan setelah pertengkaran,” jelas Doherty. Jika Anda langsung membereskan masalah setelah pertengkaran, dan kemudan dia bisa tertawa, maka hal ini tidak menjadi masalah. Jika tidak, makan istri Anda masih menuntut permintaan maaf. Peringatan: mendiamkan masalah akan mengerogoti perkawinan Anda. Doherty menyarankan untuk membuka percakapan dengan istri Anda setelah pertengkaran. Memang menakutkan karena ada kemungkinan Anda akan didamprat. “Tapi hal ini akan lebih baik untuk tahu bagaimana reaksinya daripada tidak sama sekali.”
Check up 4: Sosialisasi
Siapa saja teman hang out istri Anda? “Jika kegiatan Anda adalah bermain basket dengan pria yang sudah berkeluarga dan istri Anda lebih senang berteman dengan wanita lajang, dan menghindari dari teman-teman Anda yang sudah berkeluarga, Anda memiliki ketertarikan yang berbeda dan tanpa terasa hal ini akan membuat Anda berdua saling menjauh. Kebanyakan pasangan tidak menyadari hal ini, padahal dapat membahayakan perkawinan. Ketika seorang istri mencari saran tentang bagaimana mengatasi masalah dengan suami, maka wanita lajang akan berkata, ”Lebih baik hidup sendiri!” Wanita lajang punya kecenderungan lebih senang memiliki teman sesama lajang.
Check up 5 : Cemburu
Dalam satu pesta, Anda sempat bercakap-cakap dengan wanita yang berpenampilan mirip Giselle Bundchen. Ketika sampai di rumah, apakah istri Anda akan berkata, ”Siapa sih perempuan itu?” Jika ya, Anda boleh merasa perkawinan Anda masih baik-baik saja. Sedikit rasa cemburu merupakan tanda bahwa Anda masih menarik di mata istri Anda, sehingga dia akan merasa bahwa Anda masih bisa memikat wanita lain. “Kadang seorang pria mengartikan bahwa berkurangnya rasa cemburu dari istri adalah tanda boleh sedikit bebas untuk menggoda wanita lain,” jelas Doherty. Tapi coba ubah cara berpikir Anda,” Jika istri Anda tidak lagi terlalu mengawasi Anda, hal tersebut bukanlah pertanda yang baik,” jelasnya. Itu artinya istri Anda sudah tidak terlalu berminat lagi pada Anda dan berpikir tidak merasa dirugikan jika Anda meninggalkannya untuk wanita lain.
