Home » Mengapa Kita Perlu Bersedih
Bagikan

Fondasi emosi yang paling mendasar ini ternyata menyimpan banyak keuntungan.

Ada sesuatu yang menggelitik dalam pikiran saya tentang sebuah pernyataan bahwa seluruh hasil pembuangan biologis manusia adalah menjijikkan bagi orang lain, sehingga apapun hasil buangan tersebut lebih baik tidak diperlihatkan atau tidak dibicarakan, karena akan memicu rasa jijik. Ya, saya membicarakan hal seperti poop, dan ini pun saya sarukan agar Anda tidak merasa jijik. Tetapi ada satu hal lain ketika buangan tersebut justru memicu sebuah rasa yang amat berbeda dan justru bisa mendekatkan satu sama lain. Kali ini saya membicarakan air mata, sebuah tangisan yang ketika terlihat oleh orang lain justru bisa memicu rasa haru dan ikut menularkan rasa yang sama. Saya masih teringat ketika ibu saya menangis saat saya di wisuda, atau menangis saat saya meminta izinnya untuk menikah. Tangisan itu adalah tangisan yang keluar disaat bahagia, ketika emosi mencapai puncak tertentu dan tidak ada lagi kalimat yang bisa menggantikannya. Lucunya, tangisan pun bisa keluar justru disaat kita sedang bersedih. Hanya saja bedanya, tangisan yang keluar dari kesedihan justru lebih tidak di hargai di kebudayaan kita terutama para pria. Berbagai buku pertolongan diri dan keuntungan berpikir positif, bersikap positif, berperilaku positif dan melabelkan kesedihan sebagai “masalah emosi” membuat fondasi emosi ini menjadi terpojokan atau terbuang.

Namun evolusi pasti menyimpan sesuatu di dalam pikiran, jika tidak, mengapa rasa sedih masih ada hingga saat ini? Sebuah emosi yang membuat seorang – selain menangis,  juga bisa membuatnya kehilangan nafsu makan dan juga menarik diri dari dunia luar. Apa intinya?

Para psikolog  telah menjelajahi pertanyaan tersebut semenjak Sigmun Freud dan berhasil mengidentifikasinya, kemudian mereka pun menemukan jawaban yang sangat meyakinkan. Faktanya, kesedihan – paling tidak kesedihan yang tidak mendalam – mungkin membantu kita untuk memproses kenangan, menjadi panduan navigasi pada situasi sosial yang tidak pasti dan bahkan membasmi bias kognitif yang mewarnai penilaian kita. Lebih profokatif lagi, keuntungan dari emosi sedih ini bisa menjelaskan mengapa terjadi sebuah depresi yang mengerikan

Evolusi dari kesedihan

Sangat mudah untuk di imajinasikan bagaimana emosi berhasil melakukan evolusi untuk menjaga para moyang lebih aman tinggal di lingkungannya. Dari jaman Paleolithic, seseorang tanpa rasa takut yang sehat akan mudah terjatuh dari tebing atau diserang oleh seekor beruang sebelum mereka melimpahkan genetic mereka pada keturunan yang  berikutnya, sama halnya seperti rasa senang yang membuat kita menjadi lebih terlibat dalam prilaku penting untuk membuat reproduksi menjadi sukses seperti kesenangan untuk makan dan hubungan seksual.

Para pemikir teori evolusi juga beranggapan bahwa kesedihan memiliki aturan mainnya sendiri.  Dalam sebuah karyanya di tahun 1940an dan 1950an, John Bowlby, seorang psikolog dari Inggris mengembangkan sebuah teori tentang keterikatan cinta dan kasih sayang. Teori ini masih memiliki pengaruhnya hingga hari ini, dimana dalam teorinya menyebutkan bahwa bayi dan anak-anak akan selalu berusaha mendekat kepada mereka yang mengurusnya dalam usaha untuk menjaga kelangsungan hidupnya.  Dalam keterikatan yang sehat, pengasuh akan menjadi sensitif untuk memenuhi kebutuhan anaknya, dan anak akan merasa nyaman untuk berjalan dalam jarak yang terpantau dari pengasuhnya karena mereka mengetahui bahwa yang menjaga mereka tidak jauh dari tempat mereka berpijak.

Kesedihan dari sudut pandang ini adalah sebuah emosi yang membuat keterikatan cinta-kasih menjadi berfungsi. Kesedihan bisa datang beriringan dengan rasa kehilangan (seperti kehilangan sosok pengasuh atau orang tua), dan disaat yang bersamaan, orang yang kehilangan tersebut akan berusaha memperbaiki rasa kehilangan tersebut (untuk kasus ini, anak akan mulai mencari kemana ibunya pergi). Tentu saja, jika orang yang hilang tersebut telah meninggal, rasa kehilangan tidak bisa diperbaiki.

“Kehilangan orang yang dicintai adalah salah satu pengalaman rasa sakit yang paling mendalam yang manusia pernah alami,” kata Bowlby dalam bukunya yang berjudul Attachment and Loss, Volume III: Loss, Sadness and Depression. Dalam sudut pandang ini, emosi kesedihan tersebut adalah harga yang harus Anda keluarkan agar memiliki suatu kemampuan untuk mempererat satu sama lain di lingkungan sosial. Tentu saja harganya bisa lebih tinggi lagi, Bowlby merangkum 56 studi dari para ibu di Swedia yang telah kehilangan bayinya dimana dalam satu atau dua tahun kedepan, sepertiga dari mereka mengalami masalah psikologis termasuk depresi dan rasa cemas yang berlebihan.

Rasa sedih juga bisa dijadikan sebagai navigasi kehilangan di dunia sosial. Beberapa pakar dalam sebuah jurnal Evolution Psychology yang di terbitkan di tahun 2009  menduga bahwa emosi yang melibatkan tangisan dianggap sebagai tanda untuk meminta pertolongan atau secara khusus sebagai sebuah tanda untuk mengatakan “Saya sedang bermasalah dan membutuhkan bantuan.”

Contoh lainnya, para peneliti di universitas Tel Aviv mengatakan bahwa tangisan adalah sinyal yang mengindikasikan kerentanan serta mempromosikan rasa untuk menjalin keterikatan sosial. Sementara itu dalam jurnal yang sama di tahun 2013, peneliti mencoba menampilkan wajah yang sedang menangis di sebuah layar hanya dalam beberapa mili detik sehingga peserta tidak bisa mampu membedakan wajah tersebut. Studi tersebut menemukan apapun wajah tersebut, sedang sedih atau dalam kondisi netral, air mata yang keluar dari wajah tersebut membuat partisipan mengatakan bahwa orang tersebut sedang membutuhkan dukungan sosial dibandingkan mereka yang tidak mengeluarkan air mata – lucunya, tidak ada satupun partisipan yang menyadari bahwa di gambar tersebut ada foto orang yang sedang mengeluarkan air mata karena cepatnya foto tersebut berganti.

Keuntungan dari merasa mellow

Kesedihan yang datang akibat sebuah rasa kehilangan yang besar sering kali melemahkan seseorang. Namun mood jelek yang tidak terlalu menghempaskan seperti situasi kehilangan, di sisi lain memiliki keuntungan tersendiri.

“Rasa sedih yang tidak terlalu dalam berfungsi sebagai sebuah sinyal alarm, memberikan indikasi bahwa ada situasi yang baru dan tidak pernah dikenal sebelumnya serta memberikan tantangan kepada diri sendiri.” Kata Joseph. P Forgas, professor psikolog dari University of New South Wales di Australia yang fokus terhadap penelitian tentang kesedihan

Dalam penelitian, professor yang akrab disapa Joe ini bersama rekan kerjanya menemukan bahwa sinyal tersebut seperti membawa otak pada sebuah situasi siaga penuh dimana mereka yang bersedih memiliki kemampuan untuk melihat segala hal menjadi lebih detil yang membawa mereka keluar pada situasi yang membingungkan.  Mereka yang bersedih juga memiliki kecenderungan untuk jatuh pada perangkap kognitif misalnya seperti mempercayai bahwa wanita dengan paras ayu pasti baik hatinya atau biasa disebut Halo Effect dimana kesan pengamatan dari seseorang mempengaruhi perasaannya

Dalam beberapa kasus, kesedihan mungkin bisa membuat Anda menjadi orang yang lebih baik lagi. Studi yang dilakukan oleh Joe dan tim nya di tahun 2010 mengajak partisipan untuk bermain game diktator, dalam permainan tersebut setiap orang diberikan sejumlah uang cash dan harus memutuskan berapa yang harus mereka simpan dan berapa yang harus mereka berikan pada partner mereka. Secara tipikal, mereka yang memberikan uang sebanyak-banyaknya pada partner mereka memberikan indikasi bahwa orang tersebut tidak tamak atau egois. Dalam permainan yang dibuat oleh Joe Forgas, beberapa partisipan dalam keadaan senang dan beberapa lainnya dalam keadaan sedih.  Hasilnya cukup mengejutkan, mereka yang moodnya sedang bersedih memberikan uang mereka jauh lebih banyak daripada mereka yang sedang bersenang. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa orang yang sedang bersedih memiliki orientasi fokus pada kehidupan eksternal, lebih konsen terhadap normal sosial dan lebih memikirkan apa yang partner mereka pikirkan tentang dirinya ketimbang partisipan yang dalam keadaan bahagia.

Lebih dalam lagi, mengapa depresi perlu ada

Jika kesedihan memiliki keuntungan yang jelas, namun tidak pada depresi mayor.  Kebanyakan depresi pada umumnya membuat orang kesulitan untuk mengenali emosi orang lain, kesulitan pada daya ingat dan bekurangnya kendali pada kemampuan kognitif, seperti yang dilaporkan pada  jurnal Emotion tahun 2007.

Depresi mayor bisa membawa seseorang terutama pria menuju kematian -karena depresi dianggap sebagai faktor utama seseorang untuk bunuh diri. Munculah pertanyaan: Mengapa kondisi mengerikan tersebut sering terjadi pada manusia? Di Indonesia sendiri terdapat 11,6 persen orang dewasa yang mengalami gangguan kesehatan mental seperti yang dilansir dari data Riskeda tahun 2007. Jika terdapat sekitar 150 juta orang dewasa, maka terdapat 1,7 juta orang yang mengalami gangguan tersebut. National Mental Health Insitute di Amerika Serikat mengatakan bahwa dalam hidup seseorang, terdapat 16% kemungkinan seseorang menderita depresi. Sementara itu rata-rata umur mereka yang terkena serangan depresi adalah 32 tahun dengan 3.3% diantaranya adalah remaja yang mengalami serangan depresi yang serius. Angka yang sesungguhnya mungkin berbeda dan memiliki kecenderungan lebih tinggi di kehidupan nyata.

“Yang sangat aneh adalah meliaht seseorang berusia 20 tahun dengan kondisi fisik yang sehat, tidak memiliki tanda-tanda infeksi dan tidak memiliki tanda-tanda luka pada tubuhnya namun memiliki disfungsi otak yang sangat tinggi,” kata Ed Hagen, direktur dari bioantrohology lab di Washington State University, Amerika Serikat. Depresi membawa kerusakan otak lainnya seperti schizophrenia paling tidak memberikan dampak pengaruh sebesar 1 persen pada setiap orang selama hidupnya.

Ed Hagen beropini bahwa semakin sering depresi artinya memberikan tanda bahwa ada sesuatu yang sangat penting: Hal yang sama seperti saat menderita rasa sakit pada pergelangan kaki, dimana saraf pada kaki mengirim sinyal bahwa ada masalah yang perlu diperbaiki.

“Jika Anda berjalan dengankaki patah namun berjalan seolah-olah tidak ada masalah, maka Anda membuat sakit pada pergelangan kaki Anda semakin parah,” ujar Ed Hagen. “Jika Anda melakukan hal bodoh yang membuat kaki Anda sakit, maka dikemudian hari Anda harus menghindarinya supaya kaki Anda tidak mengalami sakit yang sama.” Hal yang sama bisa terjadi pada sakit mental, dimana rasa depresi dikirim agar Anda tidak mengulangi kejadian yang sama. “Bahkan pada titik tertentu dimana seseorang mencoba untuk bunuh diri, mungkin ada sesuatu yang sangat salah dan harus diubah secepat mungkin.” Jelas Ed

Pernyataan tersebut bukan berarti depresi tidak perlu diobati, atau seseorang hanya perlu menghindari kejadian yang sama agar depresi tidak terulang lagi. Namun Ed Hagen menyarankan untuk lebih baik mengenali apa pemicu dari depresi tersebut, karena menurutnya meresepkan obat anti depresi hanyalah bersifat sementara dan kejadian bisa terulang kembali

Tidak semuanya setuju dengan pemikiran semacam ini. Banyak para peneliti berpikir bahwa depresi tidak seperti kaki yang patah melainkan seperti kanker.  Depresi tidak dianggap sebagai sinyal yang tidak menyenangkan tapi membantu melainkan depresi adalah rasa sedih normal yang tidak terkendali, kurang lebih seperti sel normal yang tumbuh tidak terkendali seperti kanker. Depresi sendiri sangatlah kompleks, jalur genetik juga dianggap sebagai pemicu serangan depresi. Ketika genetik dianggap bermain,bahkan pengobatan yang paling berbahaya sekalipun tidak akan bisa membantu.

“Depresi merupakan penyakit yang sangat serius karena bisa membawa penderitanya akan kesulitan untuk mengatasi masalah dan sering kali diakhiri dengan bunuh diri,” kata Joe Forgas. “Apapun keuntungan yang di dapat dari depresi hanyalah kebetulan dan tidak sebanding dari biaya yang harus dikeluarkan karena penyakit tersebut.” Jelas Joe

Selain itu ada metaphor lain yang mungkin bisa menjelaskan betapa meruginya depresi.  Depresi mirip dengan diabetes atau obesitas, kata joe.  Hal tersebut dianggap mirip karena lingkungan modern kita gagal menyerupai kondisi lingkungan leluhur saat otak manusia mengalami evolusi. Mudahnya menikmati lemak dan gula membuat otak Anda merongrong untuk meminta gula lebih banyak lagi dan membuat Anda obesitas. Sama halnya seperti depresi yang dikaitkan dengan kehidupan urban, dimana kehidupan modern lebih terisolasi dan kurang aktif dibandingkan kegiatan para leluhur kita yang lebih terbuka dan menyatu di alam. Beberapa faktor tersebut mungkin menjelaskan mengapa depresi kian merajalela, ketika terjadi ketidak-cocokan antara lingkungan modern dan lingkungan dimana manusia berevolusi.

Walaupun keuntungan depresi masih banyak diperdebatkan, namun keuntungan dari kesedihan pantas untuk mendapatkan tempat. “Kebiasaan masyrakat yang mencari kebahagiaan secara konstan adalah sebuah kesalahan,” ungkap Joe.

“Manusia memiliki berbagai respon afeksi yang berevolusi untuk alasan yang baik, dan kita harus menerima afeksi negatif yang lunak sebagai bagian dari kehidupan,”  Menurut Joe, kebudayaan modern saat ini sedang mempopulerkan dan mengagungkan keuntungan berpikir positif dimana orang diharuskan untuk selalu positif agar bisa mendapatkan banyak keuntungan mental dan fisik.  Namun menurutnya, hal tersebut menciptakan sebuah standar yang sulit dijangkau, secara paradoks, hal tersebut justru bisa menyebabkan lebih banyak frustasi  dan penderitaan.

Boks

LEBIH DEKAT DENGAN KESEDIHAN

Kenali keuntungan yang mungkin Anda dapatkan dengan membolehkan diri Anda bersedih

Meningkatkan daya ingat

Dalam sebuah studi yang dilakukan Joseph Forgas, dalam sebuah situasi yang tidak mengenakan dimana situasi tersebut memproduksi mood jelek pada banyak orang. Para partisipan ternyata mampu mengingat lebih banyak objek yang mereka lihat pada sebuah toko dibandingkan pada mereka yang sedang bahagia, dimana daya ingatnya kurang akurat untuk mengingat objek yang identik. Tampaknya mood positif merusak dan mood negatif mampu meningkatkan perhatian dan daya ingat untuk hal hal tak terduga dalam lingkungan kita. Kesimpulan pun datang, menggunakan mood yang tepat dapat meningkatkan kemampuan kita untuk mengkumpulkan memori, dimana kebahagiaan bisa menghilangkan fokus dan kemampuan memproses sehingga meningkatkan kemungkinan untuk menerima informasi yang salah, sedangkan mood negatif memberikan kemampuan akan detail dan memberikan kemampuan untuk meningkatkan daya ingat.

Kesedihan bisa memperbaiki kemampuan mengkritik

Manusia secara terus menerus membuat kritik sosial, mencoba membaca petujuk sosial dengan tujuan untuk mengerti dan bisa mengira apa yang orang lain pikirkan. Sayangnya, setiap penilaian dan kritisi tersebut bisa saja salah dan menimbulkan kesimpulan yang sesat.

Lagi-lagi dalam penelitian Joe Forgas, mereka menemukan bahwa mereka yang dalam kondisi bahagia seringkali membuat penilaian yang salah. Dalam studinya, partisipan yang bahagia atau sedih dimintai untuk menilai sebuah pernyataan melalui video tentang seorang pencuri dan ditanyakan apakah mereka bersalah atau tidak. Partisipan dalam kondisi mood negatif cenderung membuat penilaian bersalah – tetapi mereka juga secara signifikan lebih baik dalam menganalisa manakah tersangka yang benar-benar mencuri dan yang tidak. Dalam percobaan yang lain, setiap partisipan diminta untuk mengisi 25 kuis dengan jawaban yang benar dan salah, kemudian mereka diberitahu bahwa seluruh jawaban adalah benar. Dua minggu kemudian hanya partisipan dengan mood negatif yang datang kembali dan mengatakan bahwa tidak semuanya benar, sementara itu mereka yang memiliki kecenderungan mood positif tetap melihat semuanya benar. Joe akhirnya menyimpulkan bahwa mood negatif bisa meningkatkan kemampuan penilaian dan kritik dengan cara meningkatkan kemampuan untuk melihat detil dan gaya berpikir yang fokus.

Kesedihan bisa meningkatkan motivasi

Ketika seseorang dalam keadaan bahagia, maka secara umum orang tersebut akan menjaga rasa bahagia tersebut. Rasa bahagia merupakan sebuah sinyal bahwa Anda berada dalam kondisi aman disebuah situasi yang dikenal. Dalam situasi tersebut hanya diperlukan sedikit usaha untuk mengubah sesuatu. Sementara itu kesedihan di sisi lain berfungsi sebagai sinyal lunak, memicu lebih banyak usaha dan motivasi untuk berurusan dengan situasi yang menantang. Mereka yang dalam kondisi bahagia terkadang menjadi kurang motivasi untuk menekan diri mereka dengan aksi pada titik tertentu dibandingkan mereka dengan mood negatif, dimana dengan mood negatif seseorang akan mengubah situasi yang tidak menyenangkan hingga kondisi berbeda. Dalam sebuah eksperimen, Joseph forgas dan tim mengajak partisipan untuk menyaksikan film senang dan film sedih – kemudian mereka mengajak partisipan untuk megerjakan sebuah test kognitif dengan banyak pertanyaan sulit. “Tidak ada batasan waktu yang kami berikan,” kata Joseph. Menruutnya hal tersebut diperlukan untuk melihat seberapa lama partisipan mampu mengerjakan tugas yang diberikan. “Kenyataanya, kami menemukan bahwa mereka yang dalam kondisi senang hanya mengerjakan sedikit pekerjaan, sedikit menjawab pertanyaan dan memiliki skor yang kecil dibandingkan partisipan dengan mood negatif yang secara spontan membuat lebih banyak usaha untuk menyelesaikan tugas dan memberikan hasil yang lebih baik,” jelas Joe.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment