Home » Kekuatan Kebersamaan
Bagikan

Presiden Direktur Mandiri Tunas Finance mengusung semangat kekeluargaan dan kebersamaan untuk meroketkan bisnis yang baru seumur jagung. Hasilnya sungguh di luar dugaan.

            Pada suatu hari, dalam sebuah kegiatan family day  yang diadakan oleh PT. Mandiri Tunas Finance di Jogja, seorang office boy menghampiri boss nya, Presiden Direktur dari PT Mandiri Tunas Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo.  Tidak untuk memprotes kebijakannya ataupun untuk meminta kenaikan gaji. Pemuda asal Sumatera itu lalu menyalami pria yang akrab dengan sapaan ‘Satyo’ itu.

            “Terima kasih, Pak. Akhirnya saya bisa ke Jogja. Saya belum pernah ke Jogja sebelumnya,” kata pemuda itu kepada Satyo yang hanya bisa tersenyum sambil memandang pemuda itu.

            “Saya masih teringat peristiwa itu,” kata Satyo, kepada kami, siang itu di ruang tengah Mandiri Tunas Finance, Graha Mandiri, Jakarta. (Di luar gedung, hujan turun deras.)

Siang itu Satyo yang berperawakan tinggi besar mengenakan kemeja batik lengan panjang warna cerah. Pria asal Jogja itu lantas menuturkan perjalanannya membangun Mandiri Tunas Finance (MTF) sejak ia bergabung pada tahun 2009. Saat itu, ia bertanggung jawab sebagai Direktur Keuangan di perusahaan pembiayaan tersebut.

“Selama hampir tujuh tahun ini, banyak sekali achievement yang telah kami capai,” kata Satyo meraih gelas Sarjana Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada dan gelar Master bidang Manajemen Internasional dari Universitas Prasetya Mulya.

Satyo memulai karirnya sebagai Management Trainee di PT. Toyota Astra Motor pada 1993, lalu menjadi Operation Division Head pada PT.Astra Sedaya Finance. Pada kurun waktu 2006 hingga 2009, pria ini pernah menjabat sebagai Senior General Manager Recovery Asset Management Division & Recovery Division di PT Adira Dinamika Multifinance. Hingga akhirnya ia bergabung dengan PT.Mandiri Tunas Finance pada 2009 dan menjabat sebagai Direktur Perseroan hingga Juni 2010. Lalu sejak 2010, Satyo pun memimpin PT.Mandiri Tunas Finance.

“Saya tahu betul bagaimana rasanya merintis karir dari bawah,” kata Satyo. Pemahaman inilah yang membuat Satyo mampu lebih berempati kepada semua orang yang berada di bawah naungannya.

Babat alas, atau membuka hutan, mungkin istilah itu bisa dialamatkan pada apa yang telah Satyo lakukan kala memulai MTF. Saat perusahaan itu didirikan tujuh tahun lalu dan ia mulai bergabung, kantor MTF masih ikut nebeng berkantor di kantor pusat Tunas Ridean yang berlokasi di Showroom Tunas Toyota Pasar Minggu. Data karyawan per Dec 2009 berjumlah 1230 orang.

“Pada awalnya nama MTF tidak diperhitungkan dan tidak dilihat oleh pasar, bahkan kami juga sempat dicemooh oleh para pemegang saham MTF sendiri,” tutur Satyo.

Saat itu MTF masih bernama Tunas Finance Indo Sarana dan hanya fokus pada pembiayaan mobil bekas dan sepeda motor, serta support pembiayaan mobil baru dari group Tunas. Bank Mandiri lalu memutuskan mengambil alih perusahaan pembiayaan tersebut, dan segmen pun diubah dan fokus pada pembiayaan mobil baru dari semua merek. MTF tidak hanya merangkul principal dan dealer, tapi kini sudah melangkah jauh dengan mengakrabi end user.

 “Saat itu, dilihat dalam urutannya pada daftar 200 perusahaan pembiayaan, kami berada pada kisaran nomor 40 sampai 50. Tapi tiga tahun terakhir ini, prestasi kami terus membaik.”

”Untuk di level asosiasi APPI (Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia), kami pembelanja mobil ketiga terbesar. Bahkan untuk pembiayaan mobil baru, kami berada di urutan pertama, dari nomor entah berantah, lima tahun lalu.”

Terbukti, sejak 2010 hingga 2015, aset maupun profitabilitas MTF terus tumbuh. Pada 2010 aset yang dikelolanya bernilai sekitar 4 Triliun. Di ujung 2015, sudah mencapai sekitar 27 Triliun. Begitupun laba, yang pada 2010 hanya sekitar 60 Miliar, sampai akhir tahun 2015 lalu, laba MTF mencapai 307 Miliar. Selain itu jumlah karyawan pun meningkat, dari tahun 2009 sejumlah 800 an karyawan, sekarang sekitar 3700 karyawan.

“Jadi kenaikannya cukup signifikan. Bahkan Maret tahun ini pertumbuhannya cukup signifikan dibandingkan Maret tahun lalu. Bahkan tahun lalu kami tidak melakukan layoff by design sama sekali. Ini sungguh membanggakan,” kata Satyo.

Kepiawaiannya dalam memimpin dan mengatur strategi bisnis membuat pria ini terus dipercaya untuk menakhodai perusahaan pembiaayaan itu hingga kini.

“Bagi saya, jabatan itu amanah. Mau jadi dirut atau tidak, itu nomor dua, dan itu kan keputusan para pemegang saham. Yang paling penting adalah bagaimana saya membawa perusahaan ini untuk terus dan berkembang, dan karyawannya menjadi lebih sejahtera,” tegasnya.

Satyo menyadari, bahwa pencapaian target yang diraih oleh perusahaan lewat kepemimpinannya tidak lepas dari kontribusi semua anggota timnya. Bahkan demi memberikan reward bagi semuanya, pria  yang gemar berkebun hidroponik ini ‘ngotot’ menerapkan value yang diusungnya dari rumah: kekeluargaan.

“Untuk menjaga kebersamaan dan komunikasi dalam keluarga, saya dan keluarga biasanya pergi berlibur setiap tahun,” kata Satyo yang lalu mencanangkan program family day di MTF.

Melalui program yang telah berjalan selama empat tahun terakhir ini, semua orang yang berada di bawah bendera MTF menjadi satu keluarga. Tidak hanya mengajak jajaran manajemen berlibur, para karyawan hingga tingkat office boy pun turut dilibatkan, bahkan keluarga mereka. Sejumlah tempat menarik seperti Paris dan kota-kota lain di Eropa serta Asia pun mereka singgahi.

“Awal Mei lalu, kami mengadakan family day ke Jogja bersama 6500 karyawan dan keluarganya. Kami bersama-sama naik bis ke Jogja. Kami blok kompleks Prambanan untuk rombongan kami,” tutur Satyo.

            “Inilah yang membuat kami guyup. Keluarga kami saling kenal dan akhirnya kami jadi satu keluarga. Nilai keluarga inilah yang pada akhirnya menghancurkan tembok-tembok penghalang komunikasi,” kata Satyo.

Lalu, ke mana Satyo dan team nya akan bertolak ketika target mereka selanjutnya terlampaui?

“Mimpi berikutnya, kami ingin nonton bola bareng. Kalau nggak Liga Inggris, Liga Spanyol atau Liga Itali,” kata Satyo yang saat akhir bulan sering memilih untuk

berada di salah satu cabang MTF, untuk menemani karyawan di sana saat melakukan tutup buku.

“Itu kebiasaan saya dari dulu,” pungkasnya.

Team Berkarakter ‘Perwira’

MTF, perusahaan pembiayaan ini sukses merumuskan budaya dan karakter ‘Perwira’ yang wajib dimiliki setiap orang di dalamnya. “Budaya ini lahir dari rasa senasib,” kata Satyo. Pada Desember 2009, para kepala divisi berkumpul dan melakukan brainstorming. Maka lahirlah 3 kata yang mendasari Perwira: Kepercayaan, Kewirausahaan dan Kegembiraan.


Kepercayaan

Setiap pegawai wajib menjunjung tinggi nilai-nilai integritas,bertanggung jawab, jujur, loyal, disiplin dan berkomitmen.

Kewirausahaan
Setiap pegawai wajib mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap perkembangan perusahaan yang diwujudkan dalam sikap profesionalisme, fokus kepada pelanggan dan kesempurnaan hasil kerja.

Kegembiraan
Setiap pegawai harus bekerja dengan antusias, ulet dan pantang menyerah, serta mampu menciptakan sinergi dan suasana kerja yang menyenangkan.

Boks 2


‘Kebun Sayur di Atap Carport

Satu hobi Satyo yang bisa menyeimbangkan hidupnya, adalah berkebun. “Saya suka bertanam sayuran dengan sistem hidroponik,” kata Satyo. Di rumahnya yang asri di kawasan Cibubur, Satyo menyuburkan hobinya itu.  Ingin merasakan kepuasan bertanam hidroponik dan memanennya, ikuti tips dari Ssatyo berikut ini:

-Manfaatkan lahan
Jika di rumah Anda tidak ada lahan yang cukup untuk bertanam hidroponik, manfaatkan lahan yang ada, misalnya pojok halaman atau dinding vertikal. “Saya sendiri memilih berkebun hidroponik di atas carport di rumah,” kata Satyo.

-Alokasikan waktu
Berkebun cara hidroponik terhitung praktis karena tanaman hanya membutuhkan air agar bisa tumbuh. Meskipun demikian, penggunaan air dan nutrisi yang diperlukan untuk tanaman hidroponik pun perlu dimonitor, agar tanaman tumbuh optimal.

-Pilih tanaman favorit
Agar semakin bergairah menjalankan hobi yang satu ini tanaman sayuran favorit Anda perlu memilih tanaman favorit. “Saya suka menanam tomat, bayam, bayam merah, kangkung, sawi, selada, cabe, dan melon,” kata Satyo.

-Tularkan hobi
“Karena saya suka hidroponik, saya ajak teman-teman untuk menyukai hidroponik, saya tularkan knowledgenya. Terserah, ilmunya mau dipakai atau tidak,” kata Satyo.

-Panen dan bagikan
Tidak ada yang lebih mengasyikkan dari hobi berkebun selain menikmati panenannya dan lalu membagikannya kepada para tetangga. “Panennya banyak, jadi saya bisa bagi-bagikan ke tetangga dan teman-teman kantor,” tutur Satyo. Asik, bukan?


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment