Prasoon Mukherjee, founder dan chairman USE Group, tahu betul bagaimana kesuksesan bisnis dan berkontribusi kepada masyarakat bisa berjalan seiring.
Bagi pebisnis global seperti Prasoon Mukherjee, pendiri sekaligus chairman dari Universal Success Enterprises ( USE ) Group yang berkantor pusat di Singapura, Jakarta tidak sekedar ‘halaman belakang’. Pria yang sudah merambahkan bisnisnya ke enam negara tersebut (termasuk Singapura, Indonesia, Filipina dan tentu saja India) memang membidik Jakarta sebagai salah satu lokasi bisnis strategisnya.
Pertengahan April lalu, Best Life menemui Prasoon Mukherjee di outlet Outback Steakhouse Lippo Mall Puri di The St. Moritz, salah satu bisnis yang masuk dalam kelompok bisnis USE. Siang itu lelaki 54 tahun itu mengenakan kemeja batik lengan panjang bermotif klasik berwarna biru.
“Saya sangat suka batik karena enak dipakai,” katanya sambil menyebut satu merek batik yang menjadi salah satu favoritnya. Pebisnis yang menggeluti bidang energi, real estate dan hospitality itu semestinya dijadwalkan mampir ke Jakarta untuk sebuah event yang digelar Outback Steakhouse di bulan Mei. Namun ia memilih untuk memajukan jadwal kedatangannya ke pertengahan April. Saat kami berbincang, secangkir kopi, dengan krim, dihidangkan untuknya.
Tentang kerajaan bisnisnya
Rasanya, siapapun yang baru pertama kali bertemu dengan Prasoon Mukherjee dan belum mengenalnya, akan terjebak pada stereotipe bahwa pria ini adalah salah satu pengusaha berkebangsaan India yang berbisnis tekstil. Seperti kebanyakan pengusaha berkebangsaan India yang tinggal di Jakarta. Tapi Prasoon jelas bukan pebisnis yang bisa dipandang sebelah mata.
Pria ini tumbuh dalam keluarga kelas menengah sederhana. Ibundanya meninggal dunia saat Prasoon masih berumur 11 tahun. Ayahnya tidak pernah menikah lagi dan membesarkan sendiri Prasoon dan saudara laki-lakinya.
“Ayah saya bukan pengusaha. Jadi saya adalah pebisnis pertama yang datang dari keluarga saya,” kata Prasoon yang tidak tumbuh dari keluarga kaya.
“Meskipun ayah saya dari keluarga kelas menengah biasa, tapi ayah bekerja keras untuk membiayai pendidikan hotel management yang saya tempuh. Itu awal mimpi-mimpi besar saya,” katanya.
Setamatnya dari pendikan perhotelan yang ditempuhnya, Prasoon lalu berkarir di bidang tourism dan hospitality. Setelah 10 tahun berkarir di India. Prasoon hijrah ke Malaysia lalu Singapura. Pada tahun 1995, ia sempat tinggal di Jakarta. Pada tahun itu, Prasoon mulai mengulik bisnis pertamanya, di bidang energy, ketika ia memutuskan untuk melebarkan sayapnya ke Indonesia.
“Saat itu saya sedang berada di Indonesia, dan trading crude oil adalah bisnis yang menguntungkan. Saat itu sekitar tahun 1994, bisnis itu sedang bagus-bagusnya,” kata Prasoon yang mengaku belajar berbisnis secara otodidak. Prasoon tergolong luwes menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat.
“Jika Anda seorang investor asing, hormatilah negara dan masyarakat dimana Anda tinggal. Niscaya, Anda dan bisnis Anda akan dihormati dan diperlakukan dengan baik,” kata Prasoon yang menggemari buku-buku bertema sejarah.
Selanjutnya, bisnis terus berkembang dan membawa Prasoon mendirikan Universal Success Enterprises (USE) Group, pada tahun 2000. Kelompok bisnis ini lalu menggurita. Prasoon menjatuhkan pilihannya pada bisnis energi, real estate dan hospitality. Dan brand Outback Steakhouse yang dibawanya masuk dari Amerika ke Asia tahun itu, merupakan salah satu bagian dalam bisnisnya.
“Saat itu, tepatnya tahun 1998, saya sedang berada di Citiwalk Los Angeles, saya mencari sebuah restoran. Selama 2 atau 3 hari, saya selalu ke sana, hingga akhirnya saya disarankan untuk mencoba restoran lain. Mereka menunjukkan Outback steak,” kenang Prasoon.
Ia lalu menyinggahi restoran yang direkomendasikan tersebut pada saat makan malam, jam delapan. Tapi penuh. Hari berikutnya, jam enam sore, Prasoon kembali singgah. Penuh lagi. Prasoon tidak menyerah, di hari ketiga, ia singgah pukul empat sore, ketika belum masuk waktu makan malam. Ia pun mendapatkan tempat duduk.
“Lalu saya mencoba makanannya. Saat itu, saya berpikir restoran ini harus ada di Asia,” kata Prasoon yang akhirnya berhasil mendapatkan ijin waralabanya dan memboyong Outback Steakhouse ke Asia.
Singapura menjadi lokasi pertama yang dipilihnya untuk tes pasar. Dan ketika pasar menyambut antusias, Prasoon membuka belasan outlet berikutnya termasuk di Filipina, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Prasoon merasa tidak ada rahasia dalam bisnis ini. Bahan makanan berkualitas terbaik serta lokasi yang tepat menjadi kunci sukses Prasoon meroketkan Outback.
“Saya rasa kami selalu menyasar tempat dimana terdapat konsumen middle class hingga upper middle class. Kami tidak menyasar area yang konsumennya kaya sekali. Karena mereka akan pergi ke hotel bintang lima untuk menikmati steak,” tutur Prasoon yang sangat menyayangi bisnis makanannya ini.
“Bagi saya, food business bagaikan anak perempuan dalam keluarga. Nice, semua orang menyenangi dan menyayanginya, karena ada banyak kebaikan di dalamnya,” kata Prasoon.
“Ini bisnis yang terhitung kecil dalam kelompok kami. Dan kami tidak mendapatkan untung sebesar profit dari bisnis energi maupun real estate. Tapi ini people business dimana kami bisa menyentuh emosi banyak orang melalui bisnis ini. Kami senang ketika orang menyukai makanan kami,” kata Prasoon. mengaku belum bisa memanggang steak.
“Itu perlu latihan. Dan cost untuk pelatihan karyawan pada saat pembukaan outlet baru, sangat besar,” katanya.
Tentang kegiatan sosialnya.
Kesuksesan bisnisnya, tidak membuat Prasoon menutup mata terhadap kondisi masyarakat sekitar yang tidak seberuntung dirinya. Kepedulian itu tidak dibangunnya dalam semalam, melainkan tumbuh sejak dini dalam dirinya.
“Bagi saya, sangat penting untuk bisa memberi kembali kepada masyarakat,” kata bungsu dari dua bersaudara dalam keluarganya. Saat ia berumur 11 tahun, sang ibunda meninggal dunia. Ayahnya yang tidak pernah menikah lagi lalu membesarkan Prasoon dan sang kakak seorang diri.
“Tumbuh tanpa ibu bukan hal yang mudah. Saya melihat banyak kesulitan dalam hidup,” kenang Prasoon. Keprihatinan itulah yang terekam dalam benaknya hingga membuatnya menjadi pribadi yang mudah tergerak membantu orang lain yang membutuhkan.
“Saya tidak ingin terdengar hypocritical, tapi yang paling saya nikmati dalam hidup adalah giving back. Ini sangat penting. Anda hidup dalam masyarakat dimana ada banyak permasalahan,” kata Prasoon.
“Kita tidak bisa ada dalam setiap kesempatan untuk menyelesaikan penderitaan orang lain, tapi saya pikir untuk membantu membantu orang lain kita pun harus fokus,” kata Prasoon.
“Dalam sebuah bisnis, dimana Anda masuk menjadi bagian masyarakat, Anda juga harus terlibat di dalamnya. Setidaknya, Anda harus mempekerjakan orang-orang lokal dalam bisnis Anda. Itu sudah menjadi strategi bisnis sekaligus melebur menjadi bagian masyarakat,” kata Prasoon yang prihatin pada nasib anak-anak perempuan di negara-negara berkembang.
“Dimanapun di wilayah Asia di negara-negara miskin, anak-anak perempuan selalu menjadi yang terpinggirkan. Misalnya dalam sebuah keluarga miskin, ada seorang anak perempuan dan anak laki-laki, apapun yang dimiliki keluarga itu, biasanya akan mereka berikan kepada anak laki-laki mereka. Anak perempuan tidak mendapatkan apa apa. Jadi mereka tetap menderita,” kata Prasoon.
“Fokus saya, dimanapun, apakah itu di India, Indonesia, Bangkok, atau Filipina, kami ingin membantu anak-anak perempuan. Jadi mereka bisa mendapatkan pendidikan yang layak, nutrisi yang cukup, sehingga kelak mereka bisa menjadi orang-orang yang berhasil dalam hidup.”
Fokus Prasoon yang kuat terhadap kondisi bocah-bocah perempuan itu membuatnya memahami kondisi lain yang mengiringi.
“Ketika Anda membantu seorang anak, pastikan juga bahwa keluarga tersebut juga mendapatkan sesuatu. Kalau tidak, yang akan terjadi adalah, mereka tidak akan membiarkan anak-anak mereka ke sekolah. Keluarga akan meminta anak-anak tersebut untuk bekerja untuk membantu perekonomian keluarga,” kata Prasoon.
“Jadi kami mencoba membuat paket bantuan dimana keluarganya juga bisa mendapatkan benefit. Misalnya, kalau mereka mengijinkan anak perempuannya pergi ke sekolah, kami harus memberikan uang kepada keluarga tersebut untuk membantu keseharian mereka. Seperti insentif. Itu juga menjadi fokus kami.”
Prasoon tidak bergerak sendiri ia kerap mengajak para karyawannya untuk terlibat dalam kegiatan sosial yang diprakarsainya. Namun Prasoon sendiri menolak untuk mengekspos dirinya seperti yang biasa dilakukan oleh segelintir orang yang ingin dilihat sebagai filantropis. Ia lebih menekankan agar kegiatan amal itulah yang seharusnya lebih disorot.
“Kami lebih sering melakukan kegiatan amal secara diam-diam. Kami tidak suka publisitas. Anda tahu kan prinsip kalau tangan kanan Anda memberi, jangan sampai tangan kiri Anda tahu,” kata Prasoon yang juga pernah membantu para korban bencana Badai Aila di India Timur pada tahun 2009 dan Badai Haian di Filipina tahun 2013.
“Anda bisa saja menulis tentang bisnis saya. Tapi saya sangat tergerak akan kegiatan charity. Itu passion yang memberi kebahagiaan. Dan kebahagiaan adalah kata yang sangat relatif. Banyak anak-anak yang tidak mampu bersekolah yang tidak tahu rasnya naik mobil mewah atau berada dalam penerbangan kelas satu. Tapi bagi mereka, mereka cukup bahagia bisa membaca buku, mendapat pakaian yang layak. Itu kebahagiaan seederhana yang mereka inginkan.”
“Kelak, kalau keterlibatan saya dalam bisnis semakin berkurang, saya ingin lebih fokus menjalankan kegiatan amal tersebut,” pungkas Prasoon.
| Boks |
Prasoon Mukherjee memiliki kiat sendiri dalam membangun kesuksesan bisnisnya, menjaga kesehatan dan menyiapkan penerus bisnisnya.
Makna penghargaan
Sebagai pebisnis, Prasoon Mukherjee telah banyak menerima penghargaan sebagai pebisnis andal sekaligus bukti sumbangsihnya untuk masyarakat. “Penghargaan adalah recognition dari usaha yang kita lakukan. Award itu tidak hanya memotivasi diri kita, tapi juga memotivasi yang lain. Jadi award seperti membawa pengaruh untuk berkinerja lebi baik lagi. Jadi kalau saya menerima award, rasanya bukan hanya ditujukan untuk saya, tapi juga untuk orang-orang di sekeliling saya,” kata Prasoon.
Menjaga kesehatan
“Saya tidak pernah keluar dari rumah sebelum saya membakar 400 kalori. Setiap hari, 6 hari seminggu, lari dengan treadmill, 8 inclination dan 8 speed. Saya tidak ikut marathon, tapi saya mungkin berjalan lebih banyak daripada seorang pelari marathon,” kata Prasoon yang justru tidak melakukan yoga.
Trik menjaga Emosi
Bagi Prasoon olah raga bisa menjadi hal yang sangat spiritual. “Anda bos tertinggi di perusahaan Anda dan mungkin Anda punya hak untuk marah kepada siapapun. Tapi dengan olah raga, Anda bekeringat, lalu Anda mandi membasuh diri, Anda segar lagi dan tidak merasakan kemarahan. Anda sudah melepaskan kemarahan Anda saat berolah raga. Olah raga membuat Anda menjadi orang yang lebih ramah,” kata Prasoon.
Tentang penerus bisnisnya.
Dalam hal bisnis, Prasoon sangat strict. Ia tidak ingin kelak bisnisnya jatuh ke tangan yang salah. “Saya yang mendirikan bisnis ini, dan saya tidak menjamin bahwa anak-anak saya akan mewarisi sesuatu dari saya. Mereka harus bekerja keras membangun diri sendiri. Dan bisnis ini hanya akan dijalankan oleh orang-orang terbaik. Saya tidak menjamin bahwa anak sayalah yang kelak akan mengelolanya. Itu sudah menjadi prinsip saya. Jadi hanya orang terbaik yang akan meneruskan bisnis saya,” tegas Prasoon.
