Sebelumnya, setiap kali berjalan melewati pintu depan rumah sepulang dari kantor, perhatian saya 100 persen segera tertuju pada keluarga. Namun malam ini, sesuatu terjadi setelah saya melewatkan hidangan utama.
Sebelumnya saya masih sempat tahu “Bagaimana sekolah hari ini?” dan “Apakah si bungsu tidur tadi siang?”. Saya dan istri bahkan sempat mengundi siapa yang harus mengantar si sulung latihan band besok pagi. Tetapi tiba-tiba, pikiran saya terbawa pada perdebatan tadi siang dengan Bob di kantor.
Otak saya, seperti halnya BlackBerry saya, menerima pesan-pesan pekerjaan, lama setelah saya meninggalkan gedung kantor. Namun bukan seperti alat elektronik biasa, otak saya tak punya tombol off.
Dalam survei nasionalnya yang terbaru, the Families and Work Institute menemukan bahwa 44 persen pria Amerika percaya bahwa delapan jam kerja tidak memberikan mereka cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Banyak dari kita, sebagai hasilnya, cenderung membawa pulang urusan bisnis yang belum beres – jika bukan dalam tas kerja maka dalam otak kita.
Mengapa pria tidak bisa melupakan pekerjaannya sejenak untuk benar-benar fokus pada keluarganya? “Mungkin karena masalah kerja dirasa lebih penting daripada hal lainnya,” jelas Mario Alonso, PhD, seorang clinical psychologist dan Best Life columnist.
Alonso menawarkan sebuah ide radikal: Jangan melawannya. “Berikan perhatian pada segala sisa pikiran yang mengganggu itu sebelum Anda melepaskannya,” ujarnya.
Ingat Ulang Yang Positif
“Kemungkinannya, Anda bersikap terlalu kritis pada hasil kerja Anda,” kata Alonso. Cobalah fokus hanya pada hal-hal yang berjalan dengan baik saja, ini akan membuat Anda menutup hari dengan tenang.
Gunakan Imajinasi
Jika Anda terobsesi pada tugas-tugas yang belum rampung, bayangkan diri Anda menyelesaikannya…esok hari. “Yakinkan diri Anda bahwa Anda bisa membereskan hal yang mengganggu ini nanti dan ijinkan diri Anda untuk menghilangkannya dari pikiran Anda,” terang Alonso.
Berlari
Atau naik sepeda, berlatih yoga, atau angkat beban. Aktifitas-aktifitas fisik “akan memutuskan siklus yang merasuki pikiran Anda itu,” kata Alonso.
Curhat dengan Istri
Cobalah untuk lebih terbuka dengan istri Anda dengan menceritakan apa pun yang mengganjal dalam pikiran Anda –termasuk masalah kantor. “Menceritakan ulang masalah-masalah di tempat kerja dengan seseorang yang sangat mendukung Anda akan sangat membantu dan dapat mengatasi situasi sulit yang Anda rasakan,” kata Alonso.
Kebanyakan pria memiliki kesulitan menceritakan masalah mereka pada saat mereka belum menemukan solusinya. “Ini membuat mereka berada di posisi yang tidak nyaman,” ujar Alonso. Namun ini patut dicoba. Faktanya, sedikit terapi bercerita benar-benar manjur untuk saya. Dengan bercerita pada istri saya, Kathy, tentang sebuah konflik di tempat kerja baru-baru ini, membuahkan dua hasil: Membuatnya lebih perhatian pada karir saya, dan berkat pendapatnya, saya terhindar dari melakukan kesalahan besar dalam berbisnis.
