Nilai portfolio Anda menyusut? Salahkan evolusi: Saat kita menghadapi persoalan investasi, rupanya “perangkat” di kepala kita cenderung membuat keputusan yang bodoh. Tapi Anda bisa mengakalinya dan memanen keuntungan dari pasar saham. Ini caranya.
Oleh Harry Hurt III
Foto Mark Hooper
Kejatuhan pasar saham bisa membuat saya pusing tujuh keliling. Saham yang berpotensi untung besar ternyata mengalami terjun bebas. Seakan ini belum cukup buruk, reksadana pasar uang ikut-ikutan merosot. Sementara itu, perbandingan antara jumlah penghasilan dan pengeluaran keluarga yang lebih besar pasak daripada tiang mulai membuat buku cek saya tampak seperti Departemen KeuanganNegara.
Merasa seperti orang idiot dalam setiap keputusan tentang keuangan, saya memutuskan sudah waktunya memeriksa otak saya danmengunjungi Princeton University. Princeton saat ini masih yang teredepan dalam bidang penelitian baru bernama neuroekonomi, yangdipimpin oleh Jonathan Cohen, PhD, profesor psikologi dan direktur Princeton Neuroscience Institute. Begitu saya tiba, tim Cohen langsungberaksi. Pertama-tama, mereka meminta saya mengosongkan kantong-kantong pakaian dari uang koin dan benda logam lain. Kemudian, mereka menyuruh saya berbaring telentang, memasukkan dua tabung plastik ke dalam mulut saya, dan memasukkan saya ke dalam alat pemindai resonansi magnetik.
Neuroekonomi adalah ilmu pengetahuan antar bidang ilmu yang memadukan teori ekonomi, psikologi, dan neurosains (termasuk penggunaan fMRI atau functional Magnetic Resonance Imaging) untuk mempelajari bagaimana kita membuat keputusan. Pada 2002, Daniel Kahneman, profesor emeritus di Princeton yang juga psikolog terlatih, memenangkan Penghargaan Nobel dalam bidang ekonomi untuk nyaris 40 tahun penelitian yang mematahkan mitos lama bahwa manusia adalah makhluk yang selalu rasional.
Saat mesin fMRI bekerja, insting lawan-atau-lari di otak saya langsung terpicu. Meski saya mengenakan penutup telinga, bunyi mesin pemindai itu amat bising sampai-sampai saya merasa seakan-akan sedang berada di dalam pengebor beton raksasa. Tapi pada titik ini, saya tidak punya cara yang terhormat untuk lari. Jadi, saya meneguhkan hati untuk tetap berbaring di sana dan berjuang melewati pengalaman tersebut.
Serangkaian imaji berkelebat di layar di depan mata saya. Imaji tersebut dibagi menjadi lima macam. Sebagian menyajikan soal-soal aritmatika sederhana atau soal-soal dengan kata yang lebih rumit, kebanyakan menantang keahlian matematika saya yang sudah amat berkarat. Imaji lain mengundang saya untuk menyusun kembali huruf-huruf acak di dalam anagram, yang tampaknya hanya berhasil mengacak otak saya lebih jauh. Tipe imaji keempat dan tampak paling mudah meminta saya untuk memilih di antara dua gambar. Tipe kelima menyuruh saya memilih antara seteguk jus buah saat itu juga atau sedikit uang dalam waktu dua minggu.
Ketika saya keluar dari fMRI sekitar setengah jam kemudian, saya merasa malu ketika mendapati bahwa hasil dari pemindaian otak saya agak membingungkan. Gambar tak jelas yang ditangkap mesin tersebut menunjukkan bahwa saya memang memiliki otak yang berfungsi di dalam kepala saya. Tapi, seperti yang saya ketahui kemudian dari sesi analisis bersama salah seorang peneliti, keputusan yang saya buat di dalam fMRI menunjukkan penyebab yang mendasari kerugian saya baru-baru ini di pasar saham: Saya cenderung membuat keputusan-keputusan yang sama tentang uang yang juga dilakukan sebagian besar investor, yaitu sering tidak masuk akal dan dipengaruhi oleh emosi.
Kolumnis keuangan Jason Zweig mengatakan bahwa situasi saya yang tidak menyenangkan dan nyaris terjadi pada semua orang ini, sama seperti yang ia tulis dalam bukunya Your Money and Your Brain: How the New Science of Neuroeconomics Can Make You Rich. “Saat harus memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan masalah investasi, otak kita cenderung tidak konsisten, memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal, dan menjadi kurang efisien,” kata Zweig. “Bahkan para pemenang penghargaan novel sekalipun bisa gagal dalam menerapkan teori ekonomi bagi diri mereka sendiri. Ketika Anda berinvestasi –entah Anda adalah manajer portfolio profesional yang memantau miliaran dolar milik pria yang punya tabungan penisun sebesar $60.000– Anda akan mengombinasikan kemampuan menghitung probabilitas dengan gairah ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya, dan perasaan cemas mendapatkan kerugian.
Dengan kata lain, saat otak kita harus memutuskan masalah investasi, nyaris selalu terlibat dalam perang yang menghancurkan kedua belah pihak antara logika dan emosi. Pendekatan kita terhadap investasi di pasar saham hanyalah perwujudan dari jual-beli publik dari konflik-konflik mental ini.
Jika Anda seperti saya dan kebanyakan investor lain, Anda mungkin tergoda untuk membeli lebih banyak saham di tengah-tengah pasar yang sedang melonjak tajam, hanya untuk menderita kerugian besar yang tidak terhindarkan. Sebaliknya, Anda mungkin sempat ditakut-takuti hingga akhirnya menjual saham di tengah harga yang berjatuhan, lantas bertahan di tepi lapangan ketika pasar mencapai akhir kemerosotan dan berlanjut melesat menuju puncak baru. Dalam istilah neuroekonomi, masalah Anda bukan hanya cara Anda berpikir atau merasa firasat Anda terhadap investasi, tapi alam bawah sadar Anda yang mencampuradukkan kedua hal tersebut.
Jadi, bagaimana Anda bisa menarik manfaat dari pengetahuan ini? Langkah pertama adalah memahami dulu interaksi antara fungsi otak “refleksif” dan “reflektif” kita, mengutip istilah Zweig, dan belajar mengapa konflik keduanya kerap menghasilkan keputusan investasi yang bodoh. Langkah kedua adalah merancang sistem pemantauan pribadi yang akan membantu Anda membuat keputusan investasi yang cerdas, sekaligus lebih konsisten.
Otak Lama, Otak Baru
Secara harafiah maupun kiasan, otak manusia sanggup menghasilkan lebih banyak energi – dan lebih banyak uang – dibandingkan organ lain di dalam tubuh. Itulah sebabnya manusia menempati peringkat tertinggi dalam rantai evolusi dibandingkan primata dan hewan lain. Meski otak manusia rata-rata berbobot sekitar 1,3 kg, ia terdiri dari sekitar 100 miliar saraf yang berpijar aktif secara teratur dan dipicu oleh stimulus eksternal maupun internal. Aktivitas selebral yang tanpa henti ini menghabiskan 20% dari asupan oksigen kita dan membakar 20% dari kalori, bahkan ketika kita tidur.
Otak kita dibagi menjadi beberapa bagian yang langsung memengaruhi pembuatan keputusan investasi. Subdivisi fisik paling nyata adalah hemisfer kiri dan kanan, yang pernah diyakini merupakan bagian yang terpisah namun saling terkait dari fungsi-fungsi nonverbal dan verbal. Otak berevolusi dari dalam keluar, dan bagian-bagian dari setiap hemisfer memengaruhi baik aktivitas nonverbal dan verbal. Kebanyakan peneliti neurosains berkata bahwa membagi otak menjadi bagian-bagian “lama” dan bagian-bagian “baru”, lebih penting ketimbang membaginya kiri dan kanan.
Bagian lama menjadi tempat dari fungsi-fungsi “refleksif” otak, insting dekati-atau-hindari dan lawan-atau-lari yang memungkinkan kita untuk berhasil dalam perjuangan-perjuangan dasar untuk bertahan hidup. Struktur sistem limbik seperti amigdala, yang umum bagi banyak hewan lain, mengevaluasi sensasi-sensasi eksternal, menerjemahkan mereka menjadi emosi seperti ketakutan dan kebahagiaan, dan memicu Anda untuk mengambil tindakan yang sesuai. Input ini juga dikirim ke simpul jaringan di pusat dalam otak yang dikenal sebagai basal ganglia. Basal ganglia mengidentifikasi dan secara aktif mencari reward seperti makanan, minuman, seks, dan tentu saja, uang, yang dapat membeli tiga hal lainnya dalam daftar tersebut.
Bagian-bagian baru dalam otak menjadi wadah bagi fungsi-fungsi “reflektif” yang membantu kita menyelesaikan tugas-tugas yang terkait dengan pertahanan hidup pada masa kini, mengorganisir pengalaman di masa lalu, membentuk teori, dan merencanakan masa depan. “CEO” dari otak kita adalah korteks prefrontal, yang berada di bagian belakang dahi. Bagian lain dari jaringan reflektif adalah korteks parietal, yang berada di belakang telinga. Bagian tersebut bertanggung jawab atas pengolahan input yang tiba dalam bentuk verbal atau angka. Anda bisa membayangkan interaksi antara fungsi-fungsi refleksif dan reflektif seperti komputer dengan sistem pendukung yang built-in.
“Otak reflektif bisa ikut campur ketika otak refleksif menemui situasi yang tidak dapat ia pecahkan sendiri,” tulis Zweig. “Jika bagian refleksif dari otak Anda adalah sistem default, yaitu sirkuit ‘andalan’ yang menggunakan pengolahan intuitif untuk menangani masalah-masalah pertama kali, maka bagian reflektif adalah perangkat pendukung, sebagai sirkuit ‘back-up’ yang melibatkan pemikiran analitis.”
Situasi absurd ketika tiba pada masalah berinvestasi adalah bahwa otak refleksif dan reflektif kita kerap bertentangan satu sama lain – dan melawan minat sejati kita – ketimbang menjadi mesin pembuat uang yang terkoordinatif dengan mulus. Menjual dengan panik setelah mendengar berita yang sepertinya buruk hanya satu dari sekian banyak contoh. Jika Anda mendengar berita yang mengatakan bahwa Dow Jones Industrial Average telah jatuh sebesar 200 poin, otak refleksif Anda memicu insting lawan-atau-lari, yang kemudian mendorong Anda untuk mencampakkan portfolio Anda. Butuh intervensi dari otak reflektif untuk mengingatkan Anda bahwa Dow hanya tergelincir dari 12.400 ke 12.200, atau kurang dari 2%, dan bahwa harga yang harus Anda bayar dari aksi penjualan – pajak, tarif, dan kesempatan yang hilang ketika pasar berbalik arah – mengalahkan keuntungan dari menghindari kerugian jangka pendek.
Sayangnya, otak reflektif juga rentan membuat kesalahan investasi yang berpotensi fatal. Hal ini muncul akibat arogansi dari otak reflektif yang mendapat sinyal dari korteks prefrontal. Otak reflektif berspesialisasi dalam mencari dan mengenali pola, yang sebenarnya adalah hal yang bagus. Tapi otak reflektif juga tampaknya amat bangga dengan kemampuannya menemukan “formula rahasia” yang terlewatkan oleh investor lain.
Mungkin kasus paling mencengangkan dari arogansi otak reflektif adalah kehancuran firma investasi bernilai tinggi Long Term Capital Management (LTCM) seperti yang didokumentasikan dalam buku When Genius Failed, oleh Roger Lowenstein. LTCM dipimpin pakar Wall Street bernama John Meriwether dan dua pemenang Penghargaan Nobel dibidang ekonomi, Robert C. Merton dan Myron S. Scholes. Zweig berkata bahwa mereka “mengukur segala sesuatu yang bisa dibayangkan – kecuali risiko meminjam terlalu banyak uang dan menganggap bahwa pasar akan tetap ‘normal.’ Ketika pasar goncang, LTCM rontok dan nyaris menyeret seluruh sistem finansial global bersama mereka.”
Uang dan Narkoba
Bertahun-tahun sejak kehancuran LTCM, neuroekonomi memastikan bahwa faktor biologi sama pentingnya dengan faktor apa pun yang dapat memengaruhi seeorang mengambil keputusan investasi. Setiap transaksi finansial yang Anda buat –terutama yang melibatkan meraup laba atau menderita kerugian– diawali, didampingi, dan diikuti oleh aktivasi saraf secara intens dalam otak Anda. Ini dibuktikan oleh sejumlah penemuan dari tiga studi menggunakan fMRI yang dikutip oleh buku Zweig.
Penemuan pertama adalah bahwa aktivitas saraf di dalam otak seseorang yang sedang berusaha menghasilkan uang pada dasarnya serupa dengan aktivitas saraf dari seseorang yang teler karena kokain dan morfin. (Bahkan, otak mengeluarkan zat bernama dopamin dalam situasi seperti itu, yang sesungguhnya memicu sejumlah efek dari sebuah obat adiktif). Penemuan kedua adalah bahwa kerugian finansial diproses di bagian otak “lama” yang sama dengan ketika otak Anda merespons gejala-gejala bahaya mematikan. Penemuan ketiga adalah bahwa antisipasi dari keuntungan maupun kerugian memicu aktivitas saraf yang lebih intens ketimbang pengalaman sesungguhnya dari menuai keuntungan atau menderita kerugian.
Implikasi penemuan-penemuan ini terhadap cara Anda dalam mengelola portfolio investasi sebenarnya cukup besar sekaligus serius. Jika Anda bisa mencetak keuntungan besar di awal karier investasi Anda dan mengalami eforia karena efek narkoba yang turut serta, Anda mungkin akan menghabiskan sisa hidup dengan mengambil risiko-risiko ceroboh dalam usaha menciptakan kembali kesuksesan yang pernah diraih. Di sisi lain, jika Anda menderita kerugian, reaksi lawan-atau-lari mungkin membuat Anda memandang semua investasi masa depan itu mematikan, dan Anda tidak punya kesempatan meraup keuntungan. Sama buruknya, jika tidak lebih buruk: Fakta bahwa Anda kemungkinan merasa kecewa karena gagal menuai keuntungan yang sudah amat diantisipasi dapat mengempaskan Anda ke jurang kesedihan atau bahkan depresi emosional yang serius.
Prinsip penting bila ingin aman dalam berinvestasi adalah menyadari bahwa toleransi Anda terhadap risiko seringkali amat kaku. Bahkan, toleransi risiko Anda dapat dipengaruhi secara signifikan oleh mood Anda, entah saat Anda bertindak sendirian maupun di dalam kelompok, dan, paling terutama, dipengaruhi oleh penjabaran kata-kata yang tertuang dalam sebuah perjanjian spesifik. Para peneliti neuroekonomi menyebut ini “framing,” dan ini umum terjadi pada sebagian besar orang yang bergerak di bidang pemasaran investasi.
Mari berandai-andai Anda sedang mempertimbangkan dua tawaran. Prospektus untuk tawaran nomor satu menawarkan 80% kesempatan peningkatan, sementara prospektus untuk tawaran nomor dua memperingatkan 20% kemungkinan rugi. Dalam sebuah eksperimen, para subyek penelitian memilih nomor satu meski kemungkinan untuk untung maupun rugi sama saja. Dengan cara serupa, Anda bisa dibujuk untuk bertindak dengan prospektus yang mengemukakan risiko sebagai persentase ketimbang sebagai frekuensi. Ketika ditanya apakah mereka akan berpartisipasi dalam perjanjian yang menawarkan satu dari lima kemungkinan gagal, subyek yang sebelumnya bersedia berpartisipasi dalam perjanjian dengan 20% kemungkinan gagal menolak mentah-mentah.
Persiapan
Demi mematuhi prosedur operasi standar, saya menjadi subyek “buta” selama menjalani pemindaian otak dengan fMRI di Princeton. Ini berarti saya tidak tahu reaksi seperti apa yang seharusnya dihasilkan atau permasalahan apa yang sedang ditelusuri para peneliti. Saya hanya diberi petunjuk kecil bahwa imaji yang meminta saya memilih antara satu atau lebih reguk jus saat itu juga dan sejumlah kecil uang dalam dua minggu adalah inti penelitian. Ketika pertama kali imaji jus/uang muncul, saya memilih regukan jus karena saya merasa haus. Tapi setelah itu, saya selalu memilih uang.
Beberapa menit setelah saya keluar dari mesin fMRI, salah seorang asisten Cohen, Damon Tomlin, memberi tahu saya bahwa percobaan tersebut adalah tentang “priming,” atau persiapan. Dalam hal ini, perangkat persiapannya adalah empat macam imaji yang meminta saya mengerjakan soal aritmatika, soal bahasa, menyelesaikan anagram, dan memilih antara dua gambar. Imaji-imaji persiapan ini selalu dipasangkan dengan pilihan jus/uang. Menurut Tomlin, dibandingkan percobaan sebelumnya, ada perbedaan yang signifikan dalam cara subyek merespons imaji soal matematika. Teorinya begini: Melihat imaji yang menuntut pemecahan soal komputasional mungkin dapat mempersiapkan sejumlah orang untuk memilih uang dibandingkan jus. Sebaliknya, melihat imaji yang hanya menuntut subyek untuk memilih antara dua gambar mempersiapkan sejumlah orang untuk memilih jus dibandingkan uang.
Para ilmuwan percaya bahwa hasil dari percobaan mereka memiliki dampak langsung bagi cara orang mendekati rencana pensiun mereka. Ia menegaskan bahwa kebanyakan orang tidak cukup menabung untuk masa depan karena mereka cenderung berlebihan dalam mementingkan nafsu jangka pendek – misalnya, mereka memilih jus saat ini ketimbang uang nanti. “Jika sudah tahu ini, Anda mungkin bisa mengubah cara Anda bertindak,” ujar Tomlin. “Jika Anda hendak membuat perubahan dalam tabungan pensiun, mungkin ada baiknya Anda mengerjakan sedikit soal komputasional dulu supaya otak Anda dipersiapkan untuk membuat lebih banyak pilihan yang akan menguntungkan dalam jangka panjang.”
Tumbuh besar di Texas, sejak kecil saya diajar bahwa bahkan babi buta sekalipun sesekali bisa menemukan biji oak yang berharga. Pilihan-pilihan yang saya buat sebagai subyek buta dari eksperimen neuroekonomi ini tampaknya mengonfirmasi kearifan tradisional tersebut. Tepat dua minggu setelah kunjungan saya ke Princeton, Tomlin mengirim e-mail pada saya berisi voucher hadiah dari Amazon.com senilai $12, jumlah uang yang telah saya pilih di dalam mesin fMRI. Saya merayakannya dengan segelas jus anggur.
Jebakan Uang
Ketika tiba pada keputusan finansial, jangan selalu mengikuti insting Anda.
Aktivitas saraf di dalam otak seseorang yang berada di dalam proses menghasilkan uang pada dasarnya serupa dengan aktivitas saraf dari seseorang yang teler karena kokain.
Lama Versus Baru
Otak dibagi menjadi bagian refleksif “lama” (hijau) dan bagian reflektif “baru.” Otak lama bertanggung jawab untuk respons lawan-atau-lari yang amat berguna bagi nenek moyang di alam liar, tapi tidak terlalu membantu ketika tiba pada pilihan membeli dan menjual saham. Otak reflektifnya lebih baik dalam berinvestasi, kecuali ketika ia menjadi terlalu arogan dan berpikir bahwa ia telah menemukan “formula rahasia,” yang sebenarnya tidak benar-benar berhasil.
Kendali Otak
Akali otak Anda agar mampu mengambil tindakan finansial yang lebih cerdas.
Larangan
* Jangan biarkan otak refleksif Anda terobsesi dengan fluktuasi hari-ke-hari di pasar atau harga saham tertentu. Anda hanya menumpuk biaya transaksi yang tidak perlu dengan menjual dan membeli pasar dalam kondisi panik.
* Jangan biarkan otak reflektif Anda memprediksi tren jangka panjang berdasarkan data jangka pendek. Hanya karena sebuah saham naik dua hari berturut-turut tidak berarti ia akan naik lagi di hari ketiga.
* Jangan biarkan otak refleksif Anda untuk terperangkap dalam keinginan menciptakan kembali panen laba yang tinggi dengan mengambil risiko yang akan dikenali otak reflektif Anda sebagai kekurangan kendali.
* Jangan biarkan diri Anda pengaruhi oleh manajer keuangan atau penasihat portfolio yang menekankan hanya sisi baik dari sebuah perjanjian (kesempatan 80% untuk sukses) dan meminimalisasi sisi buruk (20% kemungkinan gagal).
Lakukan
* Kesampingkan dorongan instingtif otak refleksif Anda dan utamakan analisis logis dari otak reflektif Anda. Mundur sejenak dan amati dengan jernih apa yang hendak Anda lakukan sebelum terlambat.
* Biarkan otak reflektif Anda memanfaatkan insting secara konstruktif. Jika Anda mencium sesuatu yang mencurigakan dari cara manajer portfolio selalu mengklaim kredit pribadi untuk keuntungan yang Anda dapat dan selalu menyalahkan kerugian pada sesuatu di luar kendalinya, pertimbangkan kembali hubungan investasi Anda.
* Terapkan apa yang disebut pakar ekonomi Daniel Kahneman dengan “pandangan global.” Pantau tren jangka panjang dalam nilai portfolio investasi Anda ketimbang harga harian atau fluktuasi pasar.
* Biarkan otak refleksif Anda secara instingtif mempertanyakan strategi dan keputusan investasi Anda. Seperti yang diutarakan Jason Zweig: Jadilah seperti anak umur 4 tahun yang terus bertanya “Kenapa?” pada diri sendiri setiap kali Anda mencoba menjustifikasi keputusan-keputusan Anda.
