Kalau ada yang meminta Anda agar jangan amarah, tak perlu dituruti. Karena marah itu baik, selama cara melepaskan ekspresinya positif.
Setiap manusia pasti pernah mengalami bentuk emosi yang dinamakan amarah atau marah. Tidak mengherankan, karena marah adalah salah satu dari beberapa bentuk emosi yang kerap dialami manusia, yaitu sedih, senang, takut, dan jijik.
Hal tersebut ditegaskan oleh Aswini Widjaja, Psi., dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara dan pendiri Klinik Psikologi Ajna, “Marah adalah bagian dari emosi, dan manusia bergerak berdasarkan emosi mereka. Hal tersebut sesuai dengan kata emotion yang terdiri dari kata energy dan motion. Kalau emosi tidak ada, maka Anda bakalan seperti robot.”
Menurut Aswini, sama dengan emosi senang, di mana ekspresinya berupa senyum, tertawa, memeluk teman, dan sebagainya, ekspresi marah dapat diekspresikan dengan tindakan agresif.
Dalam teori psikologi, marah adalah sebuah mekanisme pertahanan diri yang diandalkan saat tujuan dan harapan Anda tidak tercapai, atau saat timbul ancaman terhadap Anda, orang-orang tersayang, benda, dan ide-ide Anda. Marah juga mampu membuat Anda bereaksi lebih cepat dan kritis dalam kondisi di mana tidak ada lagi waktu untuk bertindak secara hati-hati atau menganalisa alasan atas suatu kejadian.
Tapi, walau merupakan reaksi alami yang dimiliki manusia, marah justru menjadi momok yang kerap menghantui seseorang. Pasalnya, sejarah berulangkali mencatat betapa sebuah kemarahan dapat berakibat kehancuran yang maha dahsyat.
Misalnya saja meletusnya Perang Dunia I yang mengakibatkan tewasnya jutaan jiwa, disebabkan oleh kemarahan karena peristiwa terbunuhnya Pangeran Franz Ferdinand, Putra Mahkota Kerajaan Austria-Hongaria di Serbia. Pun demikian juga dengan banyaknya pembunuhan yang terjadi lantaran pelaku gelap mata akibat amarah yang memuncak.
Berusaha Paham, Agar Bisa Mengelola
Marah dalam banyak budaya kerap kali ditabukan. Bukan emosi marahnya yang ditabukan, melainkan ekspresi secara terbuka dari emosi marah yang kerap kali
dianggap sebagai sesuatu yang buruk dan tidak pantas.
Padahal, menurut Aswini, menyembunyikan kemarahan justru dapat menyulut hal yang lebih parah dari kemarahan itu sendiri.
“Marah yang berbahaya adalah yang dipendam. Artinya, ekspresi marah tidak di-manage dengan baik, malah ditarik ke dalam, simpan, diam-diam saja,” ungkap Aswini. “Efeknya, badan bisa sakit, emosi naik turun, tingkah laku agresif, dan seringkali marah-marah yang tidak berhubungan dengan objek marah.”
Antonius Arif, Master Mind Re-Programmer di School of Mind Re-Programming, berpendapat senada.
“Kenapa manusia perlu marah dan melepaskan marah itu?” ucap Arif. “Sebab marah yang disimpan justru bisa meledak, dan akibatnya jauh lebih berbahaya dibanding marah yang kerap dirilis. Ibarat sebuah gunung berapi yang pada beberapa bagiannya dibuatkan celah supaya tekanan di dalam gunung berapi berkurang sehingga letusannya juga tidak masif, marah juga seharusnya seperti itu.”
Paham bahwa marah itu juga penting dilakukan oleh siapa saja, Aswini menyoroti bahwa seharusnya setiap orang memiliki pengetahuan tentang marah. “Yang harus dikelola sebetulnya bagaimana mengekspresikan marah dengan baik,” jelasnya. “Yaitu bagaimana Anda dapat secara proporsional mengumbar kemarahan tersebut.”
Menurut Aswini, emosi memiliki range dari rendah sampai tinggi. Nah, mengekspresikan emosi marah tidak perlu pada saat tingkat marah berada di posisi tertinggi. Karena hal tersebut justru membawa keburukan bagi Anda, baik secara fisik maupun psikis. Caranya beragam, tetapi yang bisa dilakukan terlebih dahulu adalah menjauh dari obyek atau subjek yang menyebabkan kemarahan.
“Kalau Anda pernah mengalami marah seharian secara intens, usai marah, badan Anda pasti terasa capek sekali, tegang, panas. Dan karena tubuh Anda melakukan sinkronisasi, saat Anda bereaksi demikian, organ tubuh lain juga akan memberi reaksi,” ungkap Aswini. “Oleh karenanya, sebaiknya diam dahulu, dan tarik napas dalam-dalam. Karena pada saat bernapas tercipta keharmonisan antara badan dan pikiran. Masih kurang, coba minum segelas air putih. Itu adalah sebuah proses delay. Setelah marah mereda, reaksi berikutnya tidak akan seperti saat pertama mengalami kemarahan itu.”
“Kan tidak perlu marah-marah di depan orang yang bersangkutan. Anda bisa melepaskan amarah dengan berteriak di tempat yang sunyi, seperti saat ke pantai atau gunung, atau di ruang kerja yang tertutup,” ujar Arif. “Bahkan ada sebuah kantor di Jepang yang meletakkan sebuah boneka yang dapat dipasang foto wajah bos, misalnya, lalu karyawan boleh memarahi bahkan memukuli patung, seakan itu bosnya.”
Pilih Mana, Forgive atau Forget?
Pada sisi lain, Arif menawarkan konsep mengekspresikan marah yang berbeda, yaitu melalui Forgiveness Therapy. “Untuk melakukan terapi ini, Anda terlebih dahulu harus memejamkan mata dan memunculkan sosok si pembuat kemarahan, lalu mengucapkan kalimat-kalimat berupa ‘saya marah pada Anda karena…’ atau ‘saya benci karena Anda…’,” jelas Arif. “Kemudian, untuk mengekspresikan kemarahan, silahkan ambil bantal yang kemudian Anda boleh pukuli, banting, injak-injak, pokoknya diapakan saja sepuasnya, yang dapat melepas kemarahan tersebut. Tetapi kalau hanya sekadar meremas bantal, saya jamin kemarahan tersebut belum akan terlepas.”
Inti dari terapi ini, menurut Arif, adalah Anda harus dapat mengeluarkan kata-kata tersebut, karena pengucapan kalimat-kalimat ini sangat penting, lantaran kebanyakan kemarahan selalu dipendam, dan sulit untuk dibicarakan secara terbuka dan jujur. Padahal, agar terapi ini benar-benar efektif Anda harus sunguh-sungguh membuka diri
Terapi yang menurut Arif dapat dilakukan sendiri –walau sesungguhnya lebih efektif bila dipandu terapis berserifikat dan berpengalaman– ini pada bagian akhir akan ditutup dengan sesi memaafkan dan berdoa.
Sesi ini tak kalah penting, karena dengan memaafkan si pembuat marah, Anda seakan terlahir kembali. “Kenapa kemarahan di masa lalu tidak kita lepas saja? Toh, semua manusia tetap punya emosi marah, dan Anda tidak akan menjadi manusia tanpa marah” ungkap Arif. “Namun tanpa melepasnya, Anda justru dipenuhi kebencian, dan hanya fokus pada kemarahan itu.”
Yang ingin Arif tekankan adalah pemahaman bahwa forgive is not forget, dan forget is not forgive. “Memaafkan bukan melupakan suatu kejadian, karena hal tersebut memang sudah terjadi,” ujar Arif. “Kalau hanya melupakan, begitu ada pemicu, maka Anda ingat kembali dan malah membuat meledak.”
Arif mengingatkan, bahwa konsep ini memiliki kunci yang harus dipahami benar, yaitu relearning atau remapping. Maksudnya, Anda diwajibkan mau membuka diri agar dapat memahami penyebab kemarahan, lalu berdamai dengan hal tersebut.
“Pahami manusianya, cari hikmahnya, dan bersikap asyik-asyik saja karena toh Anda sudah paham dan mendapat hikmahnya,” tegas Arif. “Kalau ternyata sulit didapat hikmahnya secara logika, selami hikmah dari perspektif spiritual. Itu sebabnya dalam konsep terapi memaafkan, harus selalu ditutup dengan doa.”
Pada puncaknya, menurut Arif, memberi maaf dikatakan berhasil apabila Anda sudah bisa berjabat tangan dengan si penyebab kemarahan, tanpa ada lagi rasa marah. Pun kalau masih ada rasa marah, intensitasnya sangat sedikit. “Anda dikatakan mencapai ultimate forgiveness bila Anda dapat memahami jalan pikiran orang tersebut dan bahkan mendoakannya,” jelas Arif. “Ingat, orang tidak akan sukses kalau tidak bisa melepas beban masa lalunya.”
Jadi, dari pada Anda stres, jangan pendam marah Anda. Coba keluarkan saja demi kesehatan jiwa Anda. Tetapi harus tetap ingat, untuk memilih secara berhati-hati cara mengungkapkannya, berbesar jiwa untuk memaafkan, ambil hikmahnya, serta doakan orang yang membuat marah. Niscaya, marah memberikan lebih banyak nilai positif ketimbang negatif.
Bagaimana Kalau Banyak yang Membuat Anda Marah?
Pertanyaan: Dalam Forgiveness Therapy, kalau banyak sekali orang yang membuat Anda marah, maka berapa banyak Anda harus merilis rasa marah tersebut? Jawaban Antonius Arif, Master Mind Re-Programmer di School of Mind Re-Programming: rilis kemarahan tersebut satu persatu.
Pasalnya, setiap kemarahan yang Anda rasakan memiliki bentuk dan penyebab yang berbeda-beda. Oleh karenanya, penyelesaiannya juga berbeda-beda.
“Namun dengan membayangkan orang yang paling Anda benci, lalu ucapkan kalimat ‘saya benci Anda karena…’, dan keluarkan semua uneg-uneg di hati dengan jujur, kemudian pukul, injak, robek bantal yang Anda pegang, lalu maafkan dan tutup dengan berdoa, masak orang yang tidak begitu Anda benci sulit dimaafkan,” papar Arif panjang lebar. “Yang terpenting adalah kesadaran untuk memprogram ulang atau reframing kesadaran Anda soal orang-orang yang dibenci, yang menimbulkan rasa marah sedemikian rupa.”
Menurut Arif, langkah tersebut ujung-ujungnya bakalan mampu memperbesar “bandwidth” marah Anda, dari yang tadinya hanya sejengkal telapak tangan menjadi dua jengkal, membuat Anda lebih dapat memahami orang yang membuat marah, sehingga permakluman Anda terhadap apa yang terjadi menjadi lebih besar juga.
“Ingat, proses hipnosis ini terdiri dari 4 langkah, yaitu sugesti, mencari akar masalah, melepas emosi negatif, dan relearning untuk rewriting the history,” ungkap Arif. “Kalau kita sudah bisa menahan itu semua, maka kita boleh disebut sebagai manusia seutuhnya.
Kenali Kegiatan Peredam Amarah
Disaat emosi mulai memuncak, cobalah lakukan aktivitas berikut ini.
Doodling dan Mewarnai
Jangan pikir kegiatan doodling dan mewarnai hanya untuk bocah balita. Karena dua kegiatan ini sudah terbukti berguna untuk meredam stres, dan juga membuat Anda dapat meredam amarah.
Doodling merupakan kegiatan menggambar yang tidak fokus, dengan teknik mencorat-coret kertas. Menurut Jesse Prinz, seorang profesor di City University of New York (CUNY), kegiatan corat-coret akan membantu seseorang untuk menuju sweet spot di otak. Sweet spot adalah istilah yang sering dipakai dalam olahraga tenis, golf, dan memanah. Dalam olahraga memanah, sweet spot adalah titik tengah pada lingkaran sasaran yang selalu diincar para pemanah. Jadi, sweet spot di otak adalah pusat dari otak.
Sedangkan mewarnai saat ini menjadi tren yang dilakukan oleh orang dewasa untuk rileksasi. Psikiater Carl Jung seperti dikutip dari FOX News telah menerapkan terapi mewarnai bagi pasiennya yang memiliki masalah psikologis dengan tujuan untuk membuat pasien tenang dan lebih fokus.
Kreator buku Enjoy Coloring Doodle, Bambang Pribadi, dalam acara Color Me Happy di OFFICE 1 Superstore Living World Alam Sutera, mengatakan bahwa relaksasi sangat dibutuhkan untuk mengurangi stres sehingga setiap orang terkadang harus memaksakan diri untuk rileks.
“Salah satu kegiatan untuk relaksasi adalah doodling dan mewarnai karena dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, bahkan bagi seorang pekerja dapat melakukannya di meja kerja saat penat dengan pekerjaan,” kata Bambang.
Manfaatkan Jam Tangan
Seringkali amarah datang tanpa diduga-duga waktunya. Dan ketika hal itu terjadi, salah satu benda di sekitar Anda yang bisa digunakan untuk meredam amarah tersebut adalah jam tangan. Tentunya bukan sembarang jam tangan, melainkan yang memiliki jarum detik, dan punya movement manual winding atau putar manual, dan automatic atau otomatis.
Caranya simpel, yaitu saat amarah mulai memuncak, segera alihkan pandangan ke jam tangan. Perhatikan jarum detik yang bergerak halus, memutari dial atau permukaan jam tangan. Jangan lepaskan pandangan mata dari jarum tersebut, dan jangan pula memandang ke jarum lain.
Pergerakan jarum jam tangan tersebut disinyalir mampu “menghipnotis” siapapun yang memandangnya dalam jangka waktu lama, berkat konsistensi gerakan yang monoton. Pada akhirnya amarah yang hendak memuncak perlahan menurun intensitasnya, seiring dengan menurunnya ketegangan pada otot-otot tubuh sebagai reaksi rasa marah tersebut.
Setelah merasa cukup rileks, tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan. Ulangi beberapa kali untuk memberi kesempatan otak mendapatkan asupan oksigen segar. Setelah itu, marahlah secara lebih “profesional”, dengan mengemukakan logika ketimbang sekadar perasaan.
Jam tangan bertenaga baterai seperti quartz, Kinetic, dan Solar, walau memiliki jarum detik, tidak disarankan karena gerakan jarum yang patah-patah, sehingga efeknya kurang efektif. Jam digital tentu saja haram digunakan.
