Home » Roda-Roda Keberuntungan
Bagikan

Sebuah kios limun “dadakan” mengantarkan saya pada takdir, nasib baik, dan sebuah sepeda oranye terang

Pertama kali mengendarai sepeda, saya begitu bersemangat.  Waktu itu tahun 1963, keluarga saya menetap di Beaumont, California, tempat ayah saya mengelola sebuah bioskop drive-in. Suatu hari, ketika ayah mengajarkan saya mengendarai sepeda di sebuah lahan kosong, tiba-tiba ia melepaskan pegangannya. Perasaan yang saya alami saat berusaha menjaga keseimbangan waktu itu sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata, yang pasti saya merasa begitu bebas. Saya sangat gembira. Saya jadi teringat berpura-pura menjadi Steve McQueen dalam The Great Escape dengan aksinya melompati rintangan dengan sepeda motor besarnya –hanya saja, saya selalu berhasil menghindari pagar yang menghalangi pelariannya itu. Bertahun-tahun kemudian, saya mulai keluar rumah sembunyi-sembunyi, bersepeda ke rumah pacar. Kami berdua biasanya “janjian” bertemu di samping rumahnya dan, hmmh, sebenarnya agak memalukan bila harus diceritakan selebihnya. Larut oleh serunya cinta monyet kami, saya pulang ke rumah dengan sepeda sambil menikmati udara larut malam California yang sejuk dan asin. Angin yang menerpa membuat saya seolah melayang diatas sepeda, membangkitkan kembali perasaan lepas itu, seakan menambah, bahkan melengkapi, pengalaman yang sensual.

            Yang luar biasa saat menjadi anak muda adalah keinginan Anda jauh lebih kuat dibanding akal sehat. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas, saya tahu saya ingin menjadi seorang aktor, maka saya pindah ke New York City tanpa uang maupun bantuan finansial. Untuk membiayai sekolah drama, saya bekerja sebagai tukang masak di sebuah rumah makan yang terkenal.  Di sanalah saya bertemu dengan Caridad, gadis paling cantik yang pernah saya lihat. Umurnya baru 20 tahun namun dia sudah sukses menjalankan sebuah perusahaan. Saya sangat menyukai dia. Kami bersahabat dan akhirnya mulai hidup bersama di sebuah studio di Lexington Avenue and 39th Street.  Masalahnya adalah, saya tak pernah punya uang. Selain bayar uang sewa dan sekolah, saya selalu “bokek”.. dan saya merasa seperti orang yang patut dikasihani karena tiap kali kami berkencan, Cari selalu menraktir saya.

            Pada suatu siang yang panas dan lembab di bulan Agustus 1982, sebuah toko kue di bawah apartemen kami menjual lemon seharga 10 sen sebuah.  Bagus sekali!  Saya membeli beberapa lusin, lalu mengisi lima galon botol kosong dengan perasan lemon, gula, dan es, dan membawa es limun buatan saya itu ke pojok jalan 42nd and Lexington, sebelah kanan luar Grand Central Station.  Saya berteriak “Es limun!” dan para komuter yang berebut naik kereta api mulai memenuhi kantong saya dengan lembaran dolar.  Tiba-tiba, seorang pria di atas sepeda Raleigh beach cruiser oranye cerah melompat dari sadelnya, melempar sepedanya itu ke trotoar, lalu berlari.  Lampu lalu lintas berubah warna dan para komuter melanjutkan kembali perjalanan mereka. Orang-orang hanya lewat sambil melompati ataupun memutari sepeda itu hingga saya terpaksa menyandarkannya di dinding gedung untuk kembali menjual limun. Saya terus melongok kesana kemari mencari pria tadi, tapi saya tak berhasil melihatnya di manapun.  Tidak lama, saya sudah punya cukup uang untuk membeli makan malam dan tiket nonton.  Kalau pria itu tidak juga kembali mengambil sepedanya sampai saya selesai menjual limun nanti, saya berkata pada diri sendiri, saya akan mengendarai sepeda ini pulang.

            Sepeda itu dan saya pun lalu menjadi sahabat baik.  Kaki Anda bisa membawa Anda ke tempat-tempat yang jauh, tapi sebuah sepeda bisa mengantarkan Anda lebih cepat dan dengan tenaga lebih sedikit.  Saya jadi bisa menghemat uang karena tidak perlu jadi anggota gym ataupun tiket subway untuk bepergian. Sepeda itu bahkan membantu karier saya karena telah mengantarkan saya mengikuti lima audisi, salah satunya bersama sutradara hebat seperti Robert Altman, yang memberikan saya peran “Billy” dalam Streamers.  Berkat peran itu, karier saya melaju semulus sepeda saya.

            Dua puluh lima tahun kemudian, setelah sekian ratus kilometer dan lebih dari 40 film, saya terperosok ke dalam sebuah lubang saat dalam perjalanan ke Cherry Lane Theatre di Greenwich Village, dan beach cruiser berkerangka baja itu pun patah. Betapa hari itu sangat menyedihkan, apalagi waktu mekanik di toko sepeda itu membujuk saya membeli sepeda baru.

            Lalu, gadis yang membuat saya berjualan es limun di jalan?  Ya, Caridad, adalah istri saya dan ibu dari dua anak kami yang hebat-hebat.

Aktor Matthew Modine terkenal berkat perannya dalam Full Metal Jacket. Dia memiliki organisasi nonprofit, Bicycle for a Day yang misinya adalah untuk mengajak masyarakat menggunakan sepeda dalam aktivitas mereka sehari-hari agar memberikan perubahan yang signifikan bagi lingkungan, komunitas, juga kesehatan mereka.


Bagikan

Related Articles

Leave a Comment